PETUNJUK JALAN .......# Bab 1

Oleh : Sayyid Qutb

BAB 1. Petunjuk Sepanjang Jalan
Umat manusia sekarang ini berada di tepi jurang kehancuran. Keadaan ini bukanlah berasal dari ancaman maut yang sedang tergantung di atas ubun-ubunnya. Ancaman maut itu adalah satu gejala penyakit dan bukan penyakit itu sendiri.
Sebenarnya puncak dari keadaan ini ialah: bangkrut dan menyimpangnya umat manusia di bidang “nilai” yang menjadi pelindung hidupnya. Hal ini terlalu menonjol di negara-negara blok Barat yang memang sudah tidak punya nilai apa pun yang dapat diberinya kepada umat manusia; bahkan, tidak punya sesuatu pun yang dapat memberi ketenangan hatinya sendiri, untuk merasa perlu hidup lebih lama lagi; setelah sistem “demokrasi” nampaknya berakhir dengan kegagalan dan kebangkrutan, sebab ternyata ia sudah mulai meniru – dengan secara berangsur-angsur – dari sistem negara-negara blok Timur, khususnya di bidang ekonomi, dengan memakai nama sosialisme!
Demikian juga halnya di negara-negara blok Timur itu sendiri. Teori-teori yang bercorak kolektif, terutamanya Marxisme yang telah berhasil menarik perhatian sebahagian besar umat manusia di negara-negara blok Timur itu – dan malah di negara-negara blok Barat juga – dengan sifatnya sebagai suatu isme yang memakai cap akidah juga telah mulai mundur teratur sekali dari segi ‘teori’ hingga hampirlah sekarang ini lingkungannya terbatas di dalam soal-soal ‘sistem kenegaraan’ sahaja dan sudah menyeleweng begitu jauh dari dasar isme yang asal dasar-dasar pokok yang pada umumnya bertentangan dengan fitrah umat manusia dan tidak mungkin berkembang kecuali di dalam masyarakat yang mundur, atau pun masyarakat yang begitu lama menderita di bawah tekanan sistem pemerintahan diktator.
Hatta di dalam masyarakat seperti itu sendiri pun – telah mulai nampak kegagalan di bidang materi dan ekonomi; yaitu bidang yang paling dibanggakan oleh sistem itu sendiri.
Lihat sahaja Russia, negara model dari sistem kolektif itu, telah mulai diancam bahaya kebuluran yang hampir sama dengan keadaan di zaman Tzar dahulu; hingga negara itu telah terpaksa mengimpor gandum dan bahan-bahan makanan serta menjual emas simpanannya untuk membeli bahan makanan itu.
Ini puncak dari kegagalan sistem pertanian kolektif dan sistem ekonomi yang bertentangan dengan fitrah umat manusia. Oleh itu, maka umat manusia mestilah diberikan pimpinan baru!
Sesungguhnya peranan pimpinan manusia barat atas umat manusia ini telah hampir tamat. Ini bukanlah kerana ekonomi Barat itu telah bangkrut dan dari segi benda atau telah lemah dari segi ekonomi dan kekuatan tentara, tetapi sebenarnya karena sistem Barat itu telah tamat tempohnya sebab ia tidak lagi mempunyai stock “nilai” yang melayakkan dia memegang pimpinan.
Umat manusia memerlukan suatu pimpinan yang mampu menyambung terus ekonomi kebendaan seperti yang telah dapat dicapai sekarang melalui ekonomi cara Eropah itu, juga yang mampu memberikan nilai baru yang lengkap, sebanding dengan yang telah ada dan telah popular di dalam masyarakat manusia, juga yang mempunyai program yang aktual, positif dan praktis.
Hanya Islam sajalah yang mempunyai nilai-nilai dan program yang sangat diperlukan itu.
Kemajuan ilmu pengetahuan telah pun menunaikan tugasnya. Sejak dari zaman kebangkitan di dalam abad keenam belas Masihi dan telah mencapai puncak kemajuannya di dalam abad kedelapan betas dan abad kesembilan belas. Sesudah itu, ekonomi Eropa sudah kehabisan bahan simpanan, untuk disumbangkan kepada umat manusia.
Demikian juga faham-faham “kebangsaan” dan “perkauman” yang telah muncul pada ketika itu, dan beberapa buah negara gabungan telah lahir dan telah memberikan sumbangannya kepada umat manusia tapi faham-faham “kebangsaan” dan perkauman” itu sudah tidak mampu memberikan apa-apa kepada umat manusia, karena sudah kehabisan bahan simpanan…
Pada akhirnya sistem-sistem yang berdasarkan kebebasan individu dengan disusuli pula oleh sistem kolektif telah selesai peranannya dan berakhir dengan kegagalan juga.
Sekarang tibalah pula giliran ISLAM dan peranan “umat” di saat yang paling genting ini. Islam yang tidak memandang remeh dan rendah kepada hasil ciptaan sains yang dilakukan oleh umat manusia sebelum ini dan akan terus dilakukan oleh umat manusia di sepanjang zaman kerana Islam memandang kemajuan di bidang ciptaan sains itu sebagai salah satu tugas utama manusia sejak Allah melantik umat manusia ini menjadi “khalifah” dan pemerintah di bumi ini, dan di bawah syarat-syarat tertentu pula, Islam memandangnya sebagai ibadat kepada Allah, dan sebagai pelaksanaan tujuan hidup manusia:
Firman Allah: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak jadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al-Baqarah: 30)
Dan firman Allah: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariat: 5)
Maka tibalah giliran bagi “UMAT ISLAM” melaksanakan tujuan Allah yang telah melahirkan umat ini ke tengah-tengah masyarakat umat manusia:
“Kamu [umat Islam] adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, yaitu kamu menyuruh berbuat kebaikan dan melarang berbuat kejahatan dan kamu beriman kepada Allah.” (Ali Imraan: 110)
Dan firman Allah: “Dan demikianlah kami jadikan kamu [umat Islam] umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul [Muhammad] menjadi saksi atas perbuatan kamu …” (Al-Baqarah: 143)
Tetapi Islam tidak akan mampu menunaikan tugasnya kecuali bila ia menjelma di dalam sebuah masyarakat, yaitu ia menjadi panduan hidup suatu umat kerana umat manusia tidak mau mendengar – terutama sekali di zaman mutakhir ini – kepada suatu akidah yang kosong, yang tidak dapat dilihat buktinya melalui suatu bentuk hidup yang nyata dan dapat disaksikan sedangkan “wujud” umat Islam itu sendiri boleh dianggap telah terputus -sejak beberapa abad yang lalu.
UMAT ISLAM itu bukanlah seperti sebidang tanah di mana Islam hidup di situ, bukan juga suatu kaum atau golongan orang yang nenek moyang mereka dahulu pernah menghayati Islam sebagai panduan hidup mereka kerana sesungguhnya “umat Islam” itu ialah suatu golongan manusia yang menimba hidup, konsep realiti, nilai hidup mereka dari sumber Islam dan umat ini, dengan ciri-ciri yang disebut di atas, telah terputus wujudnya sejak terhentinya pelaksanaan undang-undang dan syariat Islam dari seluruh muka bumi ini.
Oleh sebab itu maka perlulah dipulihkan wujud umat itu; supaya Islam dapat menunaikan peranan yang sangat diharapkan itu, dalam memimpin umat manusia sekali lagi.
Memanglah umat Islam itu mesti bangkit dari hempasan zaman, konsep hidup yang sesat dan oleh realiti hidup yang menyeleweng, oleh sistem hidup yang pincang dan tiada kena mengena dengan Islam sama sekali, tiada kena mengena dengan program Islam walaupun umat itu masih menganggap dirinya sebagai umat Islam dan masih memanggil negeri tempat tinggal mereka sebagai “dunia Islam.”
Sebenarnya saya paham benar bahwa jarak antara kebangkitan dan “memegang pimpinan” itu masih jauh dan susah dilalui sebab sesungguhnya umat Islam sudah hilang dari “wujud” dan “realiti” begitu lama sekali dan peranan memimpin umat manusia itu telah diambil oleh fikiran yang lain, oleh umat yang lain dan oleh konsep yang lain, juga oleh realiti yang lain berabad-abad lamanya dan materialisme Eropa telah menciptakan, dalam waktu yang begitu lama, banyak perbendaharaan yang berbentuk Ilmu Pengetahuan, kebudayaan, sistem hidup, dan industri.
Walau bagaimanapun tanpa mengenepikan pertimbangan ini, walau bagaimana jauhnya pun jarak di antara kebangkitan dengan memegang pimpinan, langkah-langkah ke arah kebangkitan itu mesti dijalankan terus dan jangan dilengahkan lagi!
Supaya kita selalu dapat menguasai persoalannya, maka perlu benar kita memahami secara terperinci, apakah syarat-syarat kelayakan yang akan menjadikan umat ini (umat Islam) memegang peranan memimpin umat manusia, supaya kita tidak meraba-raba dalam mencari unsur-unsur yang dapat mencetuskan kebangkitan semula umat ini, di peringkat pertama.
Umat ini sekarang tidak punya kemampuan dan tidak perlu ia mempunyai kemampuan untuk mengemukakan kepada umat manusia keunggulan dan kehandalannya di dalam sektor materi yang membikin orang tunduk dan takut kepadanya dan memaksa umat manusia menerima pimpinannya berdasarkan faktor ini; kerana kemajuan Eropa di lapangan ini telah terlalu jauh mendahuluinya dan memang sulit untuk dilewati dalam beberapa abad ke depan, untuk mengatasi mereka di lapangan ini!
Yang demikian maka mestilah dicari suatu syarat kelayakan yang lain, yaitu syarat kelayakan yang tidak terdapat di dalam materialisme sekarang. Ini tidaklah berarti bahwa kita mesti melupakan dan mesti memandang enteng kepada soal teknologi dan sains. Sebab menjadi kewajiban kita juga untuk berusaha mendapatkannya, tapi bukan dengan anggapan bahwa ia merupakan “syarat kelayakan” asasi yang mesti kita gunakan di dalam memegang pimpinan umat manusia dalam zaman sekarang ini.
Cuma ia diperlukan sekadar untuk menjaga hidup kita dari ancaman dan penindasan dan juga kerana konsep Islam sendiri yang mengajarkan bahwa teknologi adalah sebuah kemestian sebagai syarat menjadi khalifah Allah di muka bumi ini.
Oleh kerana itulah maka wajar kalau ada suatu syarat kelayakan lain, bukan teknologi dan industri, dan sudah pastilah syarat kelayakan itu tidak lain daripada akidah dan Program yang menjadikan manusia memelihara dan mengawal hasil teknologi, di bawah pengawasan suatu konsep lain yang dapat memenuhi hajat fitrah seperti yang telah diperolehi oleh kemajuan sains itu, dan supaya akidah dan program itu menjelma di dalam sebuah perkumpulan manusia, yaitu sebuah masyarakat Islam.
Sesungguhnya, dunia sekarang ini berada di dalam Jahiliyyah dari segi dasar yang menjadi sumber bagi tegaknya kehidupan dan peraturan-peraturannya. Jahiliyah yang tidak dapat menyelesaikan beban hidup hasil dari rekaan baru yang sedang memuncak sekarang.
Jahiliyah ini tegak di atas dasar mengebiri kekuasaan-kekuasaan Allah di muka bumi dan merampas hak istimewa Allah yaitu pemerintahan dan kekuasaan.
Jahiliyah itu menyandarkan pemerintahan kepada umat manusia yang menyebabkan setengah golongan menjadi hamba kepada setengah golongan yang lain bukan sahaja di dalam bentuk primitif seperti yang berlaku di zaman jahiliyah purbakala tetapi lebih dahsyat lagi di dalam bentuk mengakui dan memberi hak membuat konsep-konsep, nilai-nilai, undang-undang, peraturan-peraturan dan ketetapan-ketetapan yang jauh menyimpang dari panduan dan program Allah untuk hidup ini; dalam perkara-perkara yang tidak pernah diizin oleh Allah.
Karena itu, hasil dari penyalahgunaan kuasa Allah itu secara otomatis akan menimbulkan pelanggaran atas hak-hak Allah, dan pelanggaran atas hak-hak manusia.
Sebenamya kehinaan yang menimpa umat manusia di dalam sistem kolektif dan juga kekejaman yang menimpa individu dan bangsa terjajah di bawah sistem kapitalis adalah salah satu kesan dari pengebirian manusia atas hak istimewa Allah SWT, juga kerana manusia tidak menghargai kehormatan yang dianugerah oleh Allah kepadanya sejak azali.
Di dalam aspek ini, maka konsep Islam tetap berlainan langsung dengan konsep-konsep bikinan manusia; kerana di bawah sistem yang lain dari Islam, umat manusia itu saling mengabdikan diri di antara satu sama lain, dalam bermacam-macam bentuknya. Sedangkan di bawah sistem Islam, umat manusia bebas sepenuhnya daripada sebarang belenggu pengabdian kepada sesama manusia dengan cara mengabdikan diri kepada Allah SWT saja dan menerima arahan daripada Allah saja; juga tunduk dan patuh kepada Allah saja.
Inilah garis pemisah dan inilah persimpangan jalan. Inilah juga konsep baru yang kita mampu kemukakan kepada umat manusia mengenai konsep ini dan yang rangkaiannya adalah perbendaharaan yang masih belum dimiliki oleh umat manusia; kerana ia bukanlah hasil “pengeluaran” atau “produksi” kilang materialisme Barat dan bukan hasil teknologi Eropa, baik Eropah Barat mahu pun Eropah Timur.
Sesungguhnya kita- tanpa ragu sedikit pun – memang memiliki suatu potensi baru, lengkap dan sempurna; potensi yang masih belum dikenal dan belum mampu dibikin oleh seluruh umat manusia.
Tetapi potensi baru ini, seperti telah kita tegaskan, mestilah menjelma di dalam bentuk realiti yang praktis, mesti menjadi panduan dan darah daging suatu umat bagi lahirnya kebangkitan umat Islam yang akan disusul pula, lambat-launnya, oleh peranan memegang pimpinan seluruh umat manusia.
Tetapi bagaimanakah caranya memulakan operasi kebangkitan Islam itu? Jawabnya : Mesti ada satu golongan pelopor atau “kader” yang menghayati cita-cita ini, dan meneruskan kegiatannya dengan cara menerobos ke dalam alam jahiliyah yang sedang berpengaruh di seluruh permukaan bumi ini dengan memakai dua kaedah: yaitu kaedah memisahkan diri dan kaedah membuat hubungan di bidang lain dengan pihak jahiliyah itu.
Para pelopor dan kader itu tentulah memerlukan panduan-panduan di sepanjang perjalanan mereka; panduan yang memberikan tentang tabiat peranan mereka, hakikat tugas mereka dan inti sari tujuan akhir perjalanan mereka dan juga mengenai garis permulaan di dalam perjalanan jauh itu.
Para pelopor dan kader itu perlu mendapat panduan secukupnya mengenai – jahiliyah yang sedang berpengaruh di dunia sekarang di dalam suasana yang bagaimanakah mereka boleh berjalan seiring dengan jahiliyah dan di dalam suasana yang bagaimanakah pula mereka harus memisahkan diri.
Bagaimana caranya melayani pihak jahiliyah itu dengan menggunakan kaedah Islam dan dalam topik apakah yang perlu dibicarakan? Juga dari mana dan bagaimanakah pula menimba bahan-bahan panduan itu?
Panduan-panduan itu hendaklah diambil dan ditimba dari sumber asal akidah ini, yaitu Al-Quran dan juga dari arahan-arahan Al-Quran yang asasi juga dari konsep yang telah dipancarkan oleh Al-Quran ke dalam jiwa para pelopor dan kader terdahulu (para sahabat Rasulullah saw., red), yang telah diberi penghormatan besar oleh Allah SWT untuk mengubah bentuk sejarah umat manusia mengikut kehendak Allah.
Untuk para pelopor dan kader yang diharapkan dan ditunggu-tunggu kelahirannya itu saya tuliskan “Petunjuk Jalan” ini.
Empat fasal dari buku ini diambil dari buku Di bawah Naungan AL-QURAN (Fi Zhilalil Quran) dengan beberapa pindaan dan tambahan di mana perlu, sesuai dengan judul. Di antara kandungannya juga ialah delapan fasal, selain daripada muqaddimah ini, yang ditulis dalam waktu tertentu saya beroleh kesempatan dan ilham dari sumber Al-Quran Yang Mulia… dan dirangkai menjadi satu, sebagai “Petunjuk” dan panduan di dalam perjalanan, seperti juga buku panduan jalan dakwah yang lain.
Setidaknya, inilah petunjuk dan panduan peringkat pertama. Semoga Allah melimpahkan kurnia-Nya dan petunjuk ini akan disusul lagi oleh petunjuk-petunjuk lain bila saja Allah memberi hidayah kepadaku mengenai petunjuk di sepanjang jalan ini.

Wabillahi – taufieq.
Sayyid Quthub

Memahami Khazanah Klasik

Oleh : Dr. Yusuf Qardhawi

SINOPSIS:

Sejarah mencatat bagaimana perbedaan pendapat pada masa lalu, tidak
jarang berakhir dengan kekerasan. Hanya karena berbeda mazhab, sesama
Muslim ada yang tidak mau shalat berjamaah.

Bahkan hanya karena amalan sunnah berupa qunut shalat subuh atau
jumlah rakaat shalat sunnah tarawih, sudah menyebabkan seseorang
saling mencela dan meremehkan.

Semua itu tidak seharusnya terjadi. Pasalnya, sebagai Muslim, kita
diperintah untuk menegakkan ukhuwah Islamiyah, kita harus memperbesar
persamaan dan memperkecil perbedaan.

Nabi Muhammad saw. telah menyatakan bahwa tidak sempurna iman
seseorang jika ia belum mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai
dirinya sendiri.

Dalam buku MEMAHAMI KHAZANAH KLASIK, MAZHAB DAN IKHTILAF INI, Dr.
Yusuf Al-Qardhawi kembali mengingatkan kita kepada ajaran luhur
Rasulullah saw. dan Salafus Saleh mengenai sikap toleran dalam
menghadapi perbedaan pendapat. Beliau mengingatkan kita pada kearifan
Imam Syafi'i: "Pendapatku ada benarnya, tapi ada kemungkinan salah.
Pendapat orang lain ada salahnya, tapi ada kemungkinan benar."

Buku ini merupakan uraian penulis (Dr. Yusuf al-Qardhawi) terhadap 4
dari 20 prinsip Ikhwanul Muslimin yang disusun Hasan al-Banna. Atas
permintaan banyak kalangan, dan karena kekhususan pembahasan 4
prinsip itu (Prinsip ke-6, 7, 8 dan 9), maka Syekh Qardhawi
memisahkannya dalam satu buku khusus ini.

Komitmen Muslim Terhadap Harakah Islamiyah

Oleh : Fathi Yakan

Komitmen kepada islam bukanlah komitmen warisan atau keturunan. Bukan pula komitmen sebatas penampilan luar. Melainkan komitmen kepada ajaran Islam, komitmen terhadap Islam dan menyesuaikan diri dengan Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Saya Harus mengIslamkan Aqidah Saya.
Syarat pertama dalam berkomitmen dan menisbahkan diri kepada Islam adalah Aqidah seorang muslim harus lurus dan benar, sesuai dengan tuntunan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW.Agar Saya dapat mengIslamkan Aqidah saya, maka wajib bagi saya untuk :
  1. Mengimani bahwa pencipta alam semesta ini adalah Ilah Yang Maha Bijaksana, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Berdiri Sendiri. Lihat QS Al Anbiya’ : 22.
  2. Mengimani bahwa Al-Kholiq menciptakan alam semesta ini tidaklah dengan sia-sia dan percuma, karena Dzat yang memiliki sifat Kamal (kesempurnaan) tidak mungkin melakukan sesuatu yang sia-sia. Lihat QS Al Mu’minun : 115-116.
  3. Mengimani bahwa Allah SWT telah mengutus para Rosul dan menurunkan kitab-kitab untuk memperkenalkan Dzat-Nya kepada manusia, menjelaskan tujuan penciptaan, serta asal dan tempat kembali mereka kelak. Lihat QS An-Nahl : 36.
  4. Mengimani bahwa tujuan diciptakannya manusia adalah untuk mengenal Allah SWT, seperti yang Dia terangkan, serta untuk taat dan mengabdi kepada-Nya. Lihat QS Adz-Dzariyat : 56-58
  5. Mengimani bahwa balasan bagi Mu’min yang taat adalah jannah dan bagi orang kafir yang ma’shiat adalah neraka. Lihat QS Asy-Syura : 7.
  6. Mengimani bahwa manusia melakukan kebaikan maupun kejahatan atas pilihan dan kehendaknya sendiri. Akan tetapi ia tidak dapat melakukan kebaikan kecuali dengan taufiq dari Allah SWT dan tidak melakukan kejahatan atas paksaan dari Allah SWT. Lihat QS Asy-Syam : 7-10 dan Al-Mudatsir :38.
  7. Mengimani bahwa tasyri’ (pembuatan hukum) hanyalah hak Allah semata yang tidak boleh dilangkahi. Seorang ‘alim boleh berijtihad dalam mengambil kesimpulan (istinbath) hukum dalam lingkup yang disyari’atkan oleh Allah. Lihat QS Asy-Syura : 10.
  8. Mengetahui nama-nama serta sifat-sifat yang layak dan sesuai dengan keagungan Allah
  9. Merenungkan ciptaan Allah dan bukan Dzat-Nya, dalam rangka mengikuti perintah Rasulullah SAW
  10. Meyakini bahwa pendapat salaf lebih utama diikuti untuk menutup peluang ta’wil dan ta’thil (tidak memberlakukan makna dari sebuah lafadz) serta menyerahkan makna hakiki dari nama-nama dan sifat-sifat Allah itu hanya kepadaNya.
  11. Mengabdi kepada Allah dengan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, sesuai dengan misi da’wah yang dibawa oleh setiap Rasul yang menyeru manusia untuk mengabdikan diri hanya kepada Allah dengan tidak tunduk kepada selain-Nya. Lihat QS An-Nahl : 36.
  12. Merasa takut oleh-Nya dan tidak merasa takut oleh selain Dia. Dan hendaknya rasa takut yang ada pada saya mendorong saya untuk menjauhkan diri dari perbuatan yang dibenci dan diharamkan oleh-Nya. Lihat QS An-Nur : 52) dan QS Al-Mulk : 12.
  13. Berdzikir kepada-Nya secara berkelanjutan. Diam saya harus berfikir, berkata saya harus merupakan dzikir. Dan dzikir kepada Allah merupakan obat spiritual yang ampuh dan senjata yang hebat untuk menghadapi tantangan zaman dan segala bencana yang menimpa kehidupan. Lihat QS Ar-Rad : 28 dan QS Az Zukhruf ; 36-37.
  14. Mencintai Allah sampai hati saya dikuasai oleh-Nya dan terkait erat dengan-Nya sehingga mendorong diri saya untuk terus menambah amal baik, berkorban dengan berjihad di jalan-Nya. Lihat QS At-Taubah : 24.
  15. Bertawwakal kepada Allah dalam segala urusan saya. Sikap ini dapat menumbuhkan kekuatan jiwa dan semangat yang membuat kesulitan seperti apapun menjadi mudah. Lihat QS At-Thalaq : 3.
  16. Bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmatNya dan karunia-karuniaNya yang tak terhingga. Lihat QS An Nahl : 78, QS Yasin : 33-35 dan QS Ibrahim : 7.
  17. Beristighfar secara dawam (berkelanjutan), karena istighfar dapat menghapus kesalahan, memperbaharui taubat dan iman serta dapat nmenumbuhkan perasaan tenang dan tentram. Lihat QS An Nisa : 110 dan QS Ali Imran : 135.
  18. Menyadari bahwa diri selalu dimonitor oleh-Nya, kapan saja dan dimana saja (Muroqobah). Lihat QS Al-Mujadilah : 7.
Saya Harus meng-Islamkan Ibadah Saya.
Ibadah adalah puncak ketundukan dan pengakuan atas keagungan zat yang diibadahi. Islam menghendaki agar seluruh kehidupan merupakan pengabdian , ibadah dan keta’atan. ( QS Adz-Dzaariyat : 56 ) dan (QS Al An’am : 162).
Agar saya dapat mengislamkan ibadah saya, maka saya harus :
  1. Menjadikan ibadah saya hidup dan tersambung dengan Al-Ma’bud (Allah). Dan ini taraf Ihsan dalam ibadah.
  2. Menjadikan ibadah saya khusyu sehingga saya dapat merasakan hangatnya hubungan dan mesranya kekhusyuan.
  3. Beribadah dengan hati yang hadhir (penuh kesadaran) dan menjauhkan pemikiran tentang kesibukan dunia dan problematik yang terjadi di sekitar saya.
  4. Tidak pernah merasa kenyang dalam beribadah. Saya harus terus mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah nafilah.
  5. Memelihara qiyamulail dan melatih diri agar terbiasa melakukannya, karena qiyamullail merupakan salah satu pembangkit iman yang paling kuat. (QS Al-Muzzamil : 6), (Adz-Dzariyat : 17-18) dan (As-Sajadah : 16)
  6. Mempunyai waktu khusus untuk mengkaji dan merenungkan Al Quran terutama di waktu Subuh. (QS Al-Isra : 78). Disertai tadabbur (merenungkan), tafakkur (memikirkan) dan perasaan haru. (QS Al-Hasyr :21).
  7. Menjadikan do’a sebagai mi’roj saya kepada Allah dalam segala urusan kehidupan karena do’a adalah sumsum ibadah, dan saya harus menjaga doa - doa yang ma’tsur (datang dari Rasulullah SAW). (QS Al Ghoofir : 60).
Saya Harus mengIslamkan Akhlak Saya 

Akhlaq mulia adalah tujuan asasi dari Risalah Islamiyah. (QS Al-Hajj : 41) dan (QS Al Baqarah : 177). Akhlaq mulia harus dibuktikan dalam amal perbuatan sekaligus buah iman. Akhlaq mulia terlahir dari ibadah. (QS Al Ankabuut : 45).
Diantara sifat-sifat penting yang harus dimiliki seseorang agar dapat mengislamkan akhlaqnya :
  1. Bersikap wara’ (menjauhkan diri) dari perkara-perkara syubhat.
  2. Menundukkan pandangan. Karena pandangan dapat membangkitkan nafsu birahi dan merangsang pelakunya untuk terjerumus ke dalam dosa dan maksiat. (QS An Nur : 30).
  3. Menjaga lidah. Seorang muslim hendaknya menjaga lidahnya dari pembicaraan tak berguna, obrolan-obrolan kotor, kata-kata dan ungkapan yang buruk serta seluruh perkataan sia-sia, ghibah dan fitnah.
  4. Rasa malu tanpa kehilangan keberanian dan kebenaran. Tidak mencampuri urusan orang lain, menundukkan pandangan, rendah hati, tidak meninggikan suara, qonaah (merasa cukup dengan yang ada), dan lain-lain.
  5. Lemah lembut dan sabar. Jalan dakwah sarat dengan kesulitan, penganiayaan, intimidasi, tuduhan, celaan, dan olok-olok yang merupakan konsekuensi logis bagi mereka yang aktif dengan pergerakan Islam agar semangat mereka mengendur, gerakan mereka lumpuh dan mereka akhirnya berpaling dari jalan dakwah. (QS Asyura: 43), (Al Hijr : 85), (As Shad : 10), (An Nur : 22), dan (Al Furqan : 63).
  6. Jujur. Berani mengatakan yang benar, meskipun mengandung resiko bagi dirinya, tanpa takut celaan orang lain.
  7. Tawadhu (rendah hati).
  8. Menjauhi perasangka, ghibah dan mencari-cari aib orang Islam. (QS Al Hujurat : 12) dan (QS Al-ahzab : 58).
  9. Murah hati dan dermawan.
  10. Qudwah Hasanah (teladan yang baik). Di kalangan manusia dan menerjemahkan prinsip-prinsip serta aturan-aturan islam dengan amal nyata ketika makan, minum, berpakaian, berbicara, bepergian, berada di rumah dan dalam segala gerak dan diamnya.


...Kematian & Persiapan Menghadapinya...


HIDUP DAN MATI
Apa perbedaan mati dan hidup?
dakwatuna.com – Orang mati tidak lagi makan, minum, mendengar, mengenal, berfikir, tidak merasa apa yang ada menurut pandanan kita, tidak berkembang, tidak bernafas, tidak menikah, tidak melahirkan anak. Orang hidup sebaliknya.
Maka renungkanlah dengan baik. Bagaimana makanan yang mati dan beku itu berubah menjadi kehidupan. Terjadi setiap hari di tubuh kita. Perhatikan tanganmu yang dahulu kecil, kemudian dengan makanan yang sudah mati itu semakin bertambah besar, sehinggga menjadi tangan yang hidup. Lalu bandingkan dengan tangan mayit, yang dahulu aktif dan hidup, tiba-tiba menjadi kaku dan mati.
Maka siapakah yang memberikan kehidupan pada benda-benda mati? Dan siapakah yang memutuskan kematian pada makhluk hidup?
Berhala-berhala mati, tidak memiliki kematian atau kehidupan.
Alam mati, tidak memiliki kematian dan kehidupan, akal atau pengelolaan.
Sesungguhnya semua yang hidup akan dipaksa mati. Dia harus mati. Karena kematian dan kehidupan tidak ada di tangannya, akan tetapi ada di tangan Allah. Pemilik segala sesuatu. Melakukan apa yang diinginkan. Firman Allah:
“Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, dia menghidupkan dan mematikan, dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al Hadidi: 2)
“Dan dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (Al-Mukminun: 80).

MATI SETELAH HIDUP
Mengapa kita mati?
Sesungguhnya hanya Allah yang menghidupkan kita dan mematikan kita. Allah swt telah memberitahukan kepada kita bahwa hikmah dari kematian adalah perpindahan dari darul amal (rumah kerja) menuju darul jaza’ (rumah balasan), setiap orang mendapatkan balasan dari apa yang pernah dikerjakan. Firman Allah:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)

TIDAK ADA TEMPAT BERLARI DARINYA
Adakah tempat berlari dari kematian?
Aneh sekali orang yang tidak meyakini kematian, padahal ia menyaksikan orang-orang mati. Kematian itu tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang mengingkarinya. Akan tetapi banyak orang yang menolak dirinya mengenang kematian itu, bersiap menghadapi pasca kematian. Mereka berlari dari mengingatnya padahal mereka akan menemuinya, menjauhkan diri darinya padahal kematian itu mendatanginya. Firman Allah:
“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.” (Al-Jumu’ah: 8 )

KEPUTUSAN YANG DITUNDA
Apakah kematian itu ada di tangan manusia?
Jawabannya jelas. Sesungguhnya hidup itu tidak ada di tangan manusia, jika tidak demikian maka setiap orang yang mati akan menghidupkan dirinya sendiri. Demikian juga kematian tidak ada di tangan manusia. Jika ada di tangan manusia maka tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang mati.
Lalu ada di tangan siapa?
Kematian ada di tangan Yang telah menghidupkan dan menciptakan manusia. Di tangan Allah swt. Anda akan melihat ketentuan umum yang berlaku pada sunnatul maut wal hayat (mati dan hidup). Pada waktu kurang dari seratus tahun kita umumnya sudah mati, sebagaimana sebelum seratus tahun yang lalu kita belum ada di dunia. Demikianlah orang-orang sebelum kita, meski dengan perbedaan umur dan bilangan tahun….
“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila Telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (Al-A’raf: 34)
Masing-maing kita akan hidup terbatas, ditentukan dengan ilmu Allah swt. Dan peran kita di dunia ini juga sudah jelas sesuai dengan ketentuan umum. Masing-masing kita memiliki ajal terbatas. Jika telah datang tidak bisa ditunda. Betapa banyak orang yang dalam keadaan sehat wal afiat, dengan mendadak berpindah ke sisi Rabbnya.
Ditunjukkan kepadanya sebab yang paling kecil, bagi kematiannya. Firman Allah:
“Sesungguhnya ketetapan Allah apabila Telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu Mengetahui.” (Nuh: 4)
Sebaliknya betapa banyak orang yang mengalami sakit yang sangat berbahaya, mengalami luka yang berat, atau tercabik-cabik oleh senjata perang, atau penyakit berat lainnya. Betapa banyak orang yang menghadapi serangan tepat dan mematikan, atau situasi yang membinasakan, akan tetapi mereka tetap hidup, tidak mati. Hal ini karena ajalnya belum sampai. Firman Allah:
“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya.” (Ali Imran: 145)

KEADAAN MUKMIN DAN KAFIR KETIKA MATI
Bagaimana keadaan mukmin dan kafir ketika mati?
dakwatuna.com – Rasulullah saw bersabda: “Orang mukmin ketika  datang kematiannya –ia didatangi al basyir (pembawa kabar gembira) dari Allah, maka tidak ada yang paling menyenangkan bagi orang mukmin ini dibandingkan berjumpa dengan Allah. Maka Allah akan senang menemuinya. Sesungguhnya orang fajir (pecandu dosa) atau orang kafir jika menghadapai kematian, akan datang padanya keburukan yang pernah diperbuatnya, atau menemui keburukan-keburukan lain. Sehingga ia enggan berjumpa dengan Allah, dan Allah enggan menemuinya.
Ketika orang beriman menghadapi kematian akan turun Malaikat rahmat yang menenangkannya, memberikan kabar gembira ridha Allah, Allah bukakan baginya pintu-pintu surga. Ia melihat nikmat dan kemewahannya, sehingga lapang dadanya dan senang berjumpa dengan Rabbnya. Firman Allah:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.” (Fushshilat: 30-31)
Sedangkan orang yang enggan, maka mereka tersiksa dengan kematiannya, dan dipaksa menemui Rabbnya. Firman Allah:
“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri).” (Al-Anfal: 50)

DATANG MENDADAK
Ada di antara orang yang berkata: “Nanti saya akan bertaubat”
Orang yang belum tepat Islamnya, orang yang belum tepat memahami kematian. Apakah pernah ada kesepakatan dengan kematian, sehingga ia tidak mati kecuali setelah bertaubat? Apakah ada seseorang di muka bumi ini meyakini dengan pasti bahwa ia akan hidup sampai esok hari? Atau orang yang mengatakan demikian telah membuat janji demikian di hadapan Allah. Firman Allah:
“Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)
Demikianlah kematian ada di tangan Allah. Tidak ada seorangpun yang tahu kapan kematian itu akan datang menghampirinya. Maka orang yang berfikir akan bersegera mengerjakan amal shalih sebelum kematian mendahuluinya.

RINGKASAN
Mati dan hidup ada di tangan Allah. Pencipta mati dan hidup, bukan di tangan berhala atau kehendak alam, yang tidak memiliki bagi dirinya sendiri hidup dan mati. Mati atau perpindahan dari ruang amal menuju ke ruang pembalasan. Kematian adalah keharusan bagi setiap manusia, tiada tempat berlari darinya, maka wajib mempersiapkan diri untuk pasca kematian.

Catatan:
[1] Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, namun demikian mereka diwajibkan berusaha.
— Tamat



...Sejarah Panjang Masjid Al-Aqso...


Masjid Al-Aqsha (Arab: المسجد الاقصى , Al-Masjid Al-Aqsa, arti harfiah: "masjid terjauh") adalah salah satu bangunan yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur) yang dikenal dengan nama Al-Haram asy-Syarif bagi umat Islam dan dengan nama Har Ha-Bayit (Bukit Baitallah atau Temple Mount) bagi umat Yahudi dan Nasrani.

Sejarah panjang masjid Al- Agso

Al- Aqso merupakan tempat suci dari 3 agama (Islam, Kristen, dan Yahudi). Ketiganya meyakini tempat itu adalah tempat dimana Ibrahim (Abraham) akan mengorbankan anaknya.Selain itu Islam juga meyakini tempat itu merupakan lokasi dimana naik kesurga selama Isra Mi'raj. kompleks Al-Aqsa dengan masjid Qubba Al Sakhrah juga merupakan titik pusat kebanggaan nasional Palestina.

Sedangkan menurut Yahudi(semoga Allah mengutuk mereka), kompleks tersebut berada diatas Gunung Bait Suci, dimana Bait Suci pertama dan kedua diperkirakan berdiri, The Temple Mount (Gunung Bait Suci) adalah situs yang paling suci dalam tradisi Yahudi. mereka percaya raja Salomon membangun kuil pertama disana 3000 tahun yang lalu dan kemudian dihancurkan Romawi pada tahun 70 Masehi.

masjid Al- Agso awalna adalah rumah ibadah kecil yang dibangun oleh Khalifah Khulafaur Rasyidin Ummar, lalu diperluas oleh Ummayad Khalifah Abdul Malik dan diselesaikan putranya Al-walid pada 705 Masehi.

pada tahun 746, masjid ini benar-benar hancur oleh gempa dan dibangun kembali oleh Khalifah Abbasiyah Al-Mansyur pada 754 dan Al Mahdi pada tahun 780. Gempa lain menghancurkan masjid Al- Agso di 1033, beberapa tahun kemudian dibangun kembali oleh Khalifah Fatimiyah Az zahir Ali membangun mesjid lain yang berdiri hingga sekarang.

Ketika tentara Salib merebut Yurusalem pada tahun 1099 mereka menggunakan masjid sebagai istana dan gereja, tetapi fungsinya sebagai masjid dipulihkan setelah Saladin merebut kembali kopta itu.

Hingga sekaang kota lama sarat akan sejarah ini dibawah kendali Israel namun masjidnya tetap dibawah pimpinan Palestina yang dipimpin wakaf Islam, meskipun begitu akses masyarakat yang ingin beribadah ditempat itu amat dibatasi oleh otorita Israel(semoga Allah mengutuk mereka), contohnya ketika hendak melakukan ibadah sala jum'at, pihak keamanan israel hanya mengizinkan mereka ang berusia diatas 50 tahun, hal ini saya rasa sangat tidak etis dan melanggar HAM untuk beribadah menurut keyakinannya.

Data mengenai masjid ini yang diambil dari wikipedia
Literatur Muslim(Al Quran nul karim ) menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW diangkat ke Sidratul Muntaha dari lokasi ini pada tahun 621 Masehi, menjadikan masjid ini sebagai tempat suci di Islam (lihat Isra' Mi'raj.)
Masjid Al-Aqsa yang dulunya dikenal sebagai Baitul Maqdis, merupakan kiblat shalat umat Islam yang pertama sebelum dipindahkan ke Ka'bah di dalam Masjidil Haram. Umat Muslim berkiblat ke Beitul Maqdis selama Nabi Muhammad mengajarkan Islam di Mekkah (13 tahun) hingga 17 bulan setelah hijrah ke Medinah. Setelah itu kiblat shalat adalah Ka'bah di dalam Masjidil Haram, Mekkah hingga sekarang.
Masjid Al-Aqsa saat ini adalah masjid yang dibangun secara permanen oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Kekhalifahan Umayyah (Dinasti Bani Umayyah) pada tahun 66 H dan selesai tahun 73 H. Agak berbeda dengan pengertian Masjid Al-Aqsa pada peristiwa Isra' Mi'raj (Q.S. Al Israa’:1) yaitu meliputi seluruh kawasan Al-Haram asy-Syarif.
Pembakaran Masjid Al-Aqsa pada tanggal 21 Agustus 1969 telah mendorong berdirinya Organisasi Konferensi Islam yang saat ini beranggotakan 57 negara. Pembakaran tersebut juga menyebabkan sebuah mimbar kuno yang bernama "Shalahuddin Al-Ayyubi" terbakar habis. Dinasti Bani Hasyim, penguasa Kerajaan Yordania telah menggantinya dengan mimbar buatan Jepara, Indonesia. Keluarga Bani Hasyim, yang masih bertalian darah dengan Nabi Muhammad menurut tradisi merupakan keluarga yang bertanggungjawab memelihara tempat-tempat suci Islam di kawasan tersebut.

Referensi : http://historyology.blogspot.com/2009/12/masjid-al-aqsha-arab-al-masjid-al-aqsa.html

Kisah Air Masin & Air Tawar yang Tidak Akan Bersatu

ALLAH IS GREAT !

"Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi." (Q.S Al Furqan:53)

Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery' pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak
kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan
(surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. Ayat itu berbunyi "Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan..."Artinya: "Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus." Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.

Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi "Yakhruju minhuma lu'lu`u wal marjaan" ertinya "Keluar dari keduanya mutiara dan marjan." Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur'an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur'an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih
untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur'an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.

Allahu Akbar...! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim.Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air." Bila seorang bertanya, "Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?" Rasulullah s.a.w. bersabda, "Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran."

Jika anda seorang penyelam, maka anda harus mengunjungi Cenote Angelita, Mexico. Disana ada sebuah gua. Jika anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi air asin, lalu anda dapat melihat
sebuah "sungai" di dasarnya, lengkap dengan pohon dan daun daunan.
[Gambar: 23524_1216142414996_1571927921_30514069_968305_n.jpg]

[Gambar: 23524_1216143295018_1571927921_30514075_576303_n.jpg]
[Gambar: 23524_1216142855007_1571927921_30514072_4605906_n.jpg]
[Gambar: 23524_1216142695003_1571927921_30514071_2451679_n.jpg]

[Gambar: 23524_1216142575000_1571927921_30514070_377761_n.jpg]

Referensi : http://www.kikil.org/forum/thread-45539-post-290452.html#pid290452

Mendidik dengan Hati

Oleh: Yeni Hendriyani

Keluarga, sebuah kata yang tidak asing di telinga. Kita akan langsung memvisualisasikan kata itu dalam benak kita dengan gambaran sebuah rumah, lengkap dengan ayah, ibu dan anak, karena memang definisi dari ‘keluarga’ pun adalah ibu, bapak dengan anak; seisi rumah (Kamus Umum Bahasa Indonesia)

Keluarga, sesungguhnya adalah sebuah organisasi terkecil dalam masyarakat yang memiliki karakteristik unik, dalam pengertian pasti akan selalu ada perbedaan antara keluarga yang satu dengan yang lainnya, bahkan meskipun itu berasal dari kakek atau nenek yang sama.

Organisasi kecil yang bernama keluarga merupakan sebuah miniature yang dapat menggambarkan karakteristik orang-orang yang ada di dalamnya. Jika seorang anak pendiam dan pemalu biasanya hal tersebut adalah gambaran orang tuanya atau salah satu dari orang tuanya. Sebaliknya, jika seorang anak energik, luwes dalam bergaul, dan kritis dalam menyikapi fenomena di sekitarnya, biasanya memiliki orang tua yang cenderung demokratis, luwes pula dalam pergaulan dan berwawasan luas. Hal demikian membuktikan bahwa gambaran yang ada pada anak, adalah gambaran pola asuh yang diberikan orang tuanya. Maka tidak salah jika Islam mengatakan :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِه)رواه مسلم(

“Tidak satupun yang dilahirkan kecuali dalam keadaan “fitrah” (Islam), maka ‘orang tua’nyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. Muslim)

Menukil hadits di atas, Islam telah menyatakan bahwa setiap manusia mempunyai kecenderungan untuk “fitrah”. Namun kemudian fakta yang terjadi kita sering melihat bahwa ternyata begitu banyak perilaku manusia yang tidak sesuai dengan “fitrah”nya, mengapa hal itu bisa terjadi?

Sesungguhnya ‘fitrah’nya manusia bersifat potensial. Ia tidak dapat menjadikan manusia dengan sendirinya menjadi ‘fitrah’, tergantung siapa yang kemudian memberi warna terhadap kefitrahannya.

Kita mungkin ingat cerita tentang Tarzan, seorang anak manusia yang dipelihara oleh seekor orang utan, maka jadilah dia Tarzan yang manusia tapi berperilaku orang utan.

‘Fitrah’nya manusia perlu dijaga, dipelihara, ibarat tanaman yang dipelihara petani di kebun. Orang tua berperan sebagai pemelihara kebun itu. Jika ingin tanamannya tumbuh dengan baik, maka tanaman tersebut harus diberi pupuk yang baik, dijaga pertumbuhannya dari gulma (tumbuhan pengganggu) yang akan menghambat pertumbuhannya.

Pupuk yang baik bagi tumbuh kembangnya seorang anak manusia agar menjadi insan kamil adalah pola didik dan pola asuh yang terarah. Nilai-nilai kebajikan yang harus terus menerus ditanamkan sejak dini, memberikan uswah yang baik kepada anak, dan tentunya do’a orang tua kepada Alloh agar menjadikan anaknya menjadi sholeh, adalah satu paket yang tidak boleh dipisahkan.

Mendidik anak bisa dikatakan gampang-gampang susah. Tapi tentunya hal ini tidak boleh mengabaikan metoda pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dan usia anak. Pendidikan hanya berupa doktrin semata hanyalah akan menghasilkan anak yang tidak memiliki kepribadian, atau bahkan justru malah lari jadi pemberontak.

Pendidikan yang baik adalah yang berlandaskan hati, cinta dan kasih sayang. Seorang orang tua harus mampu meraih hati anaknya terlebih dahulu, baru kemudian nilai-nilai kebajikan dapat ditanamkan.

Dalam buku yang berjudul Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak, Dimas M. Rasyid mengungkapkan bahwa ada beberapa kiat yang dapat mempengaruhi jiwa anak pada saat tumbuh :

1. Bersahabat dan jadilah teladan baginya.

2. Tunaikan hak-hak anak, yaitu ajari Al Quran, menjadi ibu yang sholeh, beri nama yang baik.

3. Gembirakan dan hiburlah hatinya.

4. Tumbuhkan rasa percaya diri pada anak, yaitu dengan memperkuat kemauan anak, menumbuhkan kepercayaan social, kepercayaan ekonomi dan bisnis.

5. Motivasi anak untuk kebajikan dan mengingatkan akan keburukan

6. Perhatikan kecenderungannya, angkatlah potensinya dan perbaiki kelemahannya.

7. Berbicara sesuai tingkat intelektualitasnya.

8. Latih mereka. Memberi tugas sesuai dengan jenis kelaminnya, memberi tugas sesuai dengan usianya, bertahap dalam melatih, tidak mencercanya ketika salah, memantaunya di awal tugas (control), tidak menugaskan sesuatu pada waktu yang tidak tepat.

9. Dengarkan dia, secara reflektif. Hendaknya kita menghargai perasaannya dan tunjukkan bahwa kita memahami perasaan anak, tampakkan bahwa kita benar-benar menyimak apa yang dikatakan, ulangi apa yang dia ucapkan, dan ekspresikan bahwa kita sedang memikirkan perasaannya, berikan respon positif, berikan umpan balik dengan nasihat atau usulan yang membangun jiwanya.

10. Perbanyak kegiatan yang mengembangkan : permainan cerita dan buku-buku fiksi ilmiah, lukisan dan hiasan, drama anak-anak seusianya, kegiatan ekstrakurikuler, membaca buku, dan menyalurkan hobinya.

Itulah dia kiat-kiat sukses meraih hati anak. Mudah-mudahan tulisan ini dapat mengubah paradigma cara berpikir kita, bahwa anak adalah betul-betul titipan Alloh, bukan hanya sebuah implikasi dari ritual sebuah perkawinan. Anak adalah juga sebuah investasi berharga yang harus kita jaga kehidupan lahir batinnya.

Sumber : http://persis.or.id/?p=333