Diposting oleh
NUY CORNER
komentar (0)
1) Kejujuran Rasulullah saw. dalam Canda
Manusia kadang-kadang tidak memegang teguh kejujuran dan kebenaran dalam
candanya, tetapi canda Rasulullah saw adalah jujur dan benar, serta meme-
rintahkan kepada umatnya untuk memegang teguh kejujuran dalam segala situasi
dan kondisi.
Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik, “Seorang datang pada Nabi saw. dan
meminta pada beliau untuk dinaikkan kendaraan, Rasulullah saw. menjawab,
‘Aku akan menaikkan kamu pada anak unta.’ Lelaki itu menukas, Wahai Rasu-
lullah, apa yang aku perbuat dengan anak unta?’ Rasulullah menjawab, Tidakkah
unta hanya melahirkan anak unta (Maksudnya, bukankah anak unta itu juga
unta).’” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Zaid bin Aslam berkata, “Seorang wanita yang disebut Ummu Aiman datang
kepada Nabi saw. dan berkata, ‘Suamiku mengundangmu.’ Nabi menimpali
(dengan nada bergurau), ‘Siapakah ia? Apakah ia yang di matanya ada putih-
putihnya?’ Wanita itu berkata, ‘Demi Allah, tidak ada putih-putih pada matanya.’
Beliau menjawab, Thenar, pada matanya ada putih-putihnya.’ Ia berkata, Tidak
demi Allah.’ Beliau menjawab, Tidak ada seorang pun kecuali di matanya ada
putih-putihnya.’” Beliau memaksudkan putih biasa yang melingkari kornea mata,
tetapi wanita itu memahaminya sebagai putih di tengah-tengah mata yang berarti
lelaki tersebut terkena penyakit mata semacam katarak.
Ahmad meriwayatkan dari Anas, “Seorang lelaki dari Badui bernama Zahir
memberi hadiah Nabi dengan suatu hadiah dari Badui, maka Nabi memper-
hatikannya ketika hendak keluar. Rasulullah bersabda, ‘Zahir adalah orang Badui
kita dan kita adalah orang kotanya.’ Ia adalah lelaki yang kurus dan Rasulullah
menyukainya. Ketika ia sedang menjual barang-barangnya, Rasulullah menda-
tanginya dan mendekapnya dari belakang, saat itu ia tidak melihat Nabi. Zahir
berkata, ‘Lepaskan aku, siapa ini?’ Lalu, ia menoleh dan mengenal Rasulullah. Ia
membiarkan punggungnya melekatpada dada Nabi ketika ia mengetahui bahwa
yang mendekap adalah Nabi. Rasulullah lalu berkata (dengan nada bercanda),
*Siapa yang mau membeli seorang hamba?’ Zahir lalu menyahut, Wahai
Rasulullah, jadi, demi Allah engkau menjadikan aku murah tak laku.’ Rasulullah
saw. bersabda, ‘Kamu di sisi Allah tidak murah.’ Atau beliau bersabda, ‘Kamu
mahal di sisi Allah.’” Diriwayatkan oleh orang-orang tsiqah. Dari perbincangan di
atas, beliau memaksudkan hamba adalah hamba Allah, dan kita semua adalah
hamba Allah swt.
At-Tirmidzi mengeluarkan dalam bab Syamail bahwa Hasan berkata, “Seorang
nenek-nenek mendatangi Nabi saw. dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, doakanlah
pada Allah agar memasukkan aku ke surga.’ Beliau menjawab, Wahai Ummu
Fulan, sesungguhnya perempuan tua tidak masuk ke dalam surga.’ Maka
perempuan tua itu berpaling dan menangis. Beliau bersabda, ‘Beri tahu ia bahwa
ia tidak akan masuk surga dalam keadaan tua. Allah berfirman,
‘Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung,
dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.”‘ (al-Waaqi’ah: 35-36)
At-Tirmidzi juga mengeluarkan dalam bab Syamail bahwa Anas berkata,
“Rasulullah berkata kepadaku, Wahai yang memiliki dua kuping.’” Abu Samar
berkomentar bahwa maksud beliau adalah bergurau, setiap manusia memiliki dua
kuping.
Anda lihat dari contoh-contoh di atas bahwa canda beliau tidak keluar dari
kebenaran dan kejujuran, melainkan menggunakan cara yang halus, sampai
kadang tidak dimengerti lawan bicaranya, sehingga lawan bicaranya tersebut
memahaminya dengan pemahaman yang lucu. Begitulah, semua canda dan gurau
beliau adalah jujur dan benar.
At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata, “Para sahabat berkata,
Wahai Rasulullah. Engkau bergurau dengan kami.’ Beliau bersabda,
‘Aku tidak berkata kecuali benar.’”
Yang ada pada beliau itu adalah kenabian yang jujur dan benar. Tidak ada
kenabian yang di dalamnya ada kebatilan sedikit pun.
2) Kejujuran Rasulullah dalam Janji
Abu Dawud meriwayatkan bahwa Abdullah bin Abi Khansa berkata, “Aku
melakukan transaksi jual-beli dengan Nabi saw. sebelum beliau diutus, dan ada
sisa barang yang belum aku berikan padanya, lalu aku menjanjikan padanya untuk
memberikannya di tempatnya itu. Di hari yang telah ditentukan itu dan hari se-
telahnya ternyata aku lupa mendatanginya, aku datang pada hari yang ketiga, aku
dapati beliau telah berada di tempat itu. Beliau berkata, Wahai Pemuda, kau telah
menyusahkan aku, aku telah berada di sini selama tiga hari menunggumu.’”
Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim, “Rasulullah sedang duduk membagi
pampasan perang Hawazin di Hunain, seseorang berdiri di hadapan beliau dan
mengatakan, ‘Engkau mempunyai janji denganku wahai Rasulullah.’ Beliau
menjawab, ‘Kamu benar, ambillah yang kamu inginkan.’ Lelaki itu berkata, ‘Aku
ambil delapan puluh domba dan penggembalanya.’ Beliau menjawab, Ya, itu
milikmu.’ Lelaki itu berkata, ‘Engkau memutuskan dengan mudah sekali.’”
Al-Hakim meriwayatkan dari Huwaithib bin Abdul Uzza dalam kisah masuk
Islamnya. Ketika masih musyrik, ia memimpin delegasi yang meminta pada
Rasulullah saw. untuk meninggalkan Mekah dalam Umrah Qadha’ setelah masa
tiga hari yang disepakati. Huwaithib berkata, ‘Ketika Rasulullah datang untuk
Umrah Qadha’ dan kaum Quraisy keluar dari Mekah, aku termasuk orang-orang
yang tetap tinggai di Mekah, yaitu aku dan Suhail ibnul Amru, yang bertugas
untuk mengeluarkan Rasulullah jika waktunya telah lewat Tatkala tiga hari telah
terpenuhi aku dan Suhail ibnul Amru menghadap beliau dan mengatakan, Telah
lewat syaratmu maka keluarlah dari negeri kami.’ Beliau langsung berteriak,
Wahai Bilal, jangan sampai ada kaum muslimin yang ikut kita masih berada di
Mekah saat matahari terbenam.’”
Berikut ini bagian dari kitab Bathlul Abthal, pengarangnya merinci sebagian sikap
setia pada janji yang diamalkan oleh Rasulullah saw. Ia menuliskan, “Sebelum
tahun Perjanjian Hudaibiyah kaum Quraisy telah mengepung Madinah.
Persekutuan orang-orang kafir (Ahzab) yang terdiri dari seluruh bangsa Arab baik
Arab kota maupun Badui telah bersepakat untuk melakukan hal itu. Bani
Quraizhah mencabut perjanjiannya dengan Rasulullah. Dengan adanya hal itu,
bertambahlah penderitaan kaum muslimin, mereka benar-benar digoncang dengan
goncangan yang dahsyat, tetapi Allah menolong hamba-Nya yang beriman, dan
memuliakan mereka serta menanam ketakutan dalam hati kaum musyrikin.
Akhirnya, pasukan Islam dengan dipimpin Rasulullah menyerang kota Mekah dan
sampai di Hudaibiyah. Kaum Quraisy lalu mengirim utusannya pada Muhammad.
Coba perhatikan, inilah Urwah ibnul Masud ats-Tsaqafi utusan mereka, kembali
kepada mereka dan menyifati keadaan Muhammad saw. serta tentaranya dengan
kalimat sebagai berikut
‘Aku telah datang pada Kisra Persia dalam kerajaannya, dan Kaisar Romawi
dalam kerajaannya serta Raja Najasyi dalam kerajaannya, sungguh aku tidak
melihat seorang raja sekali pun di mata rakyatnya seperti Muhammad di mata
sahabat-sahabatnya.’ Muhammad saat itu dalam keadaan mantap dan kuat tetapi
ia tidak ingin perang. Ia bersabda,
‘Jika saat ini Quraisy mengajakku kepada rencana yang isinya memintaku untuk
menjalin silaturahmi, pasti aku penuhi’
Suhail bin Amru datang sebagai delegasi Quraisy yang membuat Muhammad
saw. dan pasukannya tidak jadi masuk Mekah. Salah satu syarat perjanjian ini
adalah syarat yang secara zahir merugikan, yaitu bahwa Muhammad harus
menyerahkan kepada Quraisy orang yang pergi ke tempat kaum muslimin tanpa
izin walinya, dan mereka tidak dituntut mengembalikan pengikutbeliau yang pergi
ke Quraisy.
Syarat ini mengagetkan para sahabat Nabi saw., termasuk Umar ibnul Khaththab
r.a.. Sehingga ia pergi menemui Abu Bakar dan Rasulullah saw. seraya
mengatakan, ‘Bukankah kita muslimin! Bukankah mereka musyrikin! Bukankah
engkau Rasulullah! Untuk apa kita berikan kerendahan pada agama kita?’
Rasulullah saw. bersabda, ‘Aku adalah hamba Allah dan rasul-Nya tidak akan
menyalahi perintah-Nya dan Dia tidak akan menyia-nyiakan aku.’ Abu Bakar
berkata, ‘Aku bersaksi sesungguhnya dia utusan Allah.’
Menerimanya kaum muslimin pada syarat ini adalah menyerahnya mereka pada
perkara yang belum diketahui rahasianya. Hal itu merupakan ujian yang terbesar
bagi kesabaran mereka.
Ketika mereka dalam keadaan bersitegang seperti ini dan Rasulullah saw. telah
selesai bernegosiasi dengan delegasi Quraisy, yaitu Suhail bin Amru, namun akad
belum ditulis dan belum selesai. Tiba-tiba datanglah pada mereka Abu Jandal, ia
berteriak dan berjalan tertatih-tatih dengan kaki terbelenggu. Abu Jandal ini
adalah anak Suhail bin Amru. Begitu Suhail melihat anaknya, ia beranjak ke arah-
nya dan mengambil rantai belenggunya seraya berkata, ‘Wahai Muhammad, per-
soalan antara aku dan kamu telah mengerucut-artinya negosiasi telah selesai-
sebelum datang anak ini.’ Nabi menjawab, ‘Kau benar.’ Dan, Abu Jandal
berteriak memanggil-manggil kaum muslimin, ‘Apakah aku akan dikembalikan
pada kaum musyrikin yang merusak agamaku?’
Bayangkanlah sikap itu, sikap Muhammad saw. yang berani, yang telah aku
ceritakan pada Anda keberaniannya yang tiada bandingnya. Dialah orang kuat
yang keluar dari Madinah maju dengan tentaranya. Sekarang telah Anda dengar
bagaimana Urwah bin Mas’ud menyifatinya. Bayangkanlah bagaimana beliau
melihat sahabat terdekatnya (dalam keadaan tersiksa), datang tertatih-tatih
terbelenggu, padahal ia termasuk orang terpandang di Quraisy, ia berjalan
terbelenggu karena ikut Muhammad dan ikut agama Muhammad. Kemudian
lihatlah, beliau tidak goyah dan tidak ragu-ragu sama sekali pada apa yang belum
ditulis dan belum selesai. Beliau berkata pada Suhail, ‘Kau benar, persoalan telah
selesai.’ Dan beliau mengembalikan sahabatnya dalam keadaan menangis pada
musuhnya. Coba lihatlah itu semua. Lantas siapa saja, coba tuliskan padaku satu
keteladanan saja dalam sejarah manusia semua seperti keteladanan yang dicontoh-
kan Muhammad saw. dalam menjaga dan menepati perkataan yang telah ia kata-
kan meski belum ditulis dan belum selesai.”
Penulis kitab juga menuturkan contoh lain,
“Kemudian lihatlah, kesetiaan beliau juga terhadap musyrikin. Di antara syarat
Perjanjian Hudaibiyah adalah siapa saja bisa masuk dalam akad dan janji
Muhammad dan siapa saja bisa masuk dalam akad dan janji Quraisy. Masuklah
kabilah Khuza’ah dan sekutunya pada akad dan janji Muhammad saw. serta
menjadi sekutu beliau. Ketika Quraisy merusak perjanjiannya dan membantu
sekutunya, yaitu Bakar dan melibas Khuza’ah. Datanglah Amru bin Salim al-
Khuza’i meminta janji Rasulullah saw. dan meminta beliau menolong sekutunya.
Amru bersimpuh di hadapan Rasulullah saw saat berada di masjid. Ia meratap dan
berkata,
Wahai Tuhan, aku meratap pada Muhammad.
Sekutu ayah kami dan ayahnya yang sangat erat
Tolonglah (Muhammad).
Allah menunjukkanmu kemenangan yang pasti.
Ajaklah hamba-hamba Allah, mereka pasti datang memberi bantuan.
Dalam gelombang pasukan seperti samudra
yang berjalan berbuih-buih.
Sesungguhnya Quraisy mengingkari janji padamu
Dan merusak perjanjianmu yang telah dikuatkan.’
Maka serangan Quraisy terhadap kaum musyrikin bani Khuza’ah yang menjadi
sekutu kaum muslimin itu, menjadi sebab disiapkannya pasukan terbesar yang
dikenal Jazirah Arab dan sejarah untuk membantu sekutu seseorang saat itu.
Dampak hal itu adalah terbukanya kota Mekah sebagaimana kita diketahui
bersama Inilah contoh kesetiaan Rasulullah saw. pada musuh agama yang telah
beliau ikat perjanjian, atau sebelum mereka bersekutu dengan kaum musyrikin
1
selain mereka.”
Inilah contoh-contoh dari kejujuran dan kesetiaan beliau dalam menepati janji dan
perjanjian. Tidak pernah terjadi bahwa Rasulullah saw. berjanji atau membuat
perjanjian kemudian beliau ingkar atau berkhianat
Bukhari meriwayatkan bahwa ketika Heraklius bertanya pada Abu Sufyan tentang
Muhammad, “Apakah ia berkhianat?” Abu Sufyan menjawab, ‘Tidak.” Setelah
itu, Heraklius mengatakan, “Aku tanyakan kepadamu apakah ia berkhianat maka
kalian anggap bahwa ia tidak berkhianat memang seperti itulah seorang rasul, ia
tidak berkhianat”
Berkhianat tergolong dusta, ingkar janji adalah dusta, dan Rasulullah saw. bersih
dari itu semua. Dari contoh sedikit yang kami sebutkan, Anda melihat bahwa
tidak ada seorang pun dari manusia yang mencapai tingkatan yang dicapai
Rasulullah saw. dalam kesetiaan menjaga kehormatan perkataan. Kalaupun ada, ia
adalah murid yang mengikuti keteladanannya.
Kalimat yang terucap dari Rasulullah saw. adalah jaminan yang tidak ada jaminan
setelahnya. Sampai-sampai musuhnya yang paling keras dan paling lama
memusuhi beliau dalam perjalanan dakwah beliau tidak ragu-ragu untuk
memasukkan dirinya dalam naungan kaum muslimin, jika telah mereka pastikan
bahwa yang menjamin keamanan mereka adalah Muhammad saw. Mereka
percaya bahwa perkataan Muhammad adalah jaminan yang tidak sama dengan
jaminan lainnya. Siapa yang menelusuri peristiwa-peristiwa sirah pasti
menemukan contoh yang banyak atas hal ini. Itulah sifat shidiq (jujur dan benar)
yang dimiliki para nabi. Tidak pernah berubah sama sekali.
Manusia kadang-kadang tidak memegang teguh kejujuran dan kebenaran dalam
candanya, tetapi canda Rasulullah saw adalah jujur dan benar, serta meme-
rintahkan kepada umatnya untuk memegang teguh kejujuran dalam segala situasi
dan kondisi.
Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik, “Seorang datang pada Nabi saw. dan
meminta pada beliau untuk dinaikkan kendaraan, Rasulullah saw. menjawab,
‘Aku akan menaikkan kamu pada anak unta.’ Lelaki itu menukas, Wahai Rasu-
lullah, apa yang aku perbuat dengan anak unta?’ Rasulullah menjawab, Tidakkah
unta hanya melahirkan anak unta (Maksudnya, bukankah anak unta itu juga
unta).’” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Zaid bin Aslam berkata, “Seorang wanita yang disebut Ummu Aiman datang
kepada Nabi saw. dan berkata, ‘Suamiku mengundangmu.’ Nabi menimpali
(dengan nada bergurau), ‘Siapakah ia? Apakah ia yang di matanya ada putih-
putihnya?’ Wanita itu berkata, ‘Demi Allah, tidak ada putih-putih pada matanya.’
Beliau menjawab, Thenar, pada matanya ada putih-putihnya.’ Ia berkata, Tidak
demi Allah.’ Beliau menjawab, Tidak ada seorang pun kecuali di matanya ada
putih-putihnya.’” Beliau memaksudkan putih biasa yang melingkari kornea mata,
tetapi wanita itu memahaminya sebagai putih di tengah-tengah mata yang berarti
lelaki tersebut terkena penyakit mata semacam katarak.
Ahmad meriwayatkan dari Anas, “Seorang lelaki dari Badui bernama Zahir
memberi hadiah Nabi dengan suatu hadiah dari Badui, maka Nabi memper-
hatikannya ketika hendak keluar. Rasulullah bersabda, ‘Zahir adalah orang Badui
kita dan kita adalah orang kotanya.’ Ia adalah lelaki yang kurus dan Rasulullah
menyukainya. Ketika ia sedang menjual barang-barangnya, Rasulullah menda-
tanginya dan mendekapnya dari belakang, saat itu ia tidak melihat Nabi. Zahir
berkata, ‘Lepaskan aku, siapa ini?’ Lalu, ia menoleh dan mengenal Rasulullah. Ia
membiarkan punggungnya melekatpada dada Nabi ketika ia mengetahui bahwa
yang mendekap adalah Nabi. Rasulullah lalu berkata (dengan nada bercanda),
*Siapa yang mau membeli seorang hamba?’ Zahir lalu menyahut, Wahai
Rasulullah, jadi, demi Allah engkau menjadikan aku murah tak laku.’ Rasulullah
saw. bersabda, ‘Kamu di sisi Allah tidak murah.’ Atau beliau bersabda, ‘Kamu
mahal di sisi Allah.’” Diriwayatkan oleh orang-orang tsiqah. Dari perbincangan di
atas, beliau memaksudkan hamba adalah hamba Allah, dan kita semua adalah
hamba Allah swt.
At-Tirmidzi mengeluarkan dalam bab Syamail bahwa Hasan berkata, “Seorang
nenek-nenek mendatangi Nabi saw. dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, doakanlah
pada Allah agar memasukkan aku ke surga.’ Beliau menjawab, Wahai Ummu
Fulan, sesungguhnya perempuan tua tidak masuk ke dalam surga.’ Maka
perempuan tua itu berpaling dan menangis. Beliau bersabda, ‘Beri tahu ia bahwa
ia tidak akan masuk surga dalam keadaan tua. Allah berfirman,
‘Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung,
dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.”‘ (al-Waaqi’ah: 35-36)
At-Tirmidzi juga mengeluarkan dalam bab Syamail bahwa Anas berkata,
“Rasulullah berkata kepadaku, Wahai yang memiliki dua kuping.’” Abu Samar
berkomentar bahwa maksud beliau adalah bergurau, setiap manusia memiliki dua
kuping.
Anda lihat dari contoh-contoh di atas bahwa canda beliau tidak keluar dari
kebenaran dan kejujuran, melainkan menggunakan cara yang halus, sampai
kadang tidak dimengerti lawan bicaranya, sehingga lawan bicaranya tersebut
memahaminya dengan pemahaman yang lucu. Begitulah, semua canda dan gurau
beliau adalah jujur dan benar.
At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata, “Para sahabat berkata,
Wahai Rasulullah. Engkau bergurau dengan kami.’ Beliau bersabda,
‘Aku tidak berkata kecuali benar.’”
Yang ada pada beliau itu adalah kenabian yang jujur dan benar. Tidak ada
kenabian yang di dalamnya ada kebatilan sedikit pun.
2) Kejujuran Rasulullah dalam Janji
Abu Dawud meriwayatkan bahwa Abdullah bin Abi Khansa berkata, “Aku
melakukan transaksi jual-beli dengan Nabi saw. sebelum beliau diutus, dan ada
sisa barang yang belum aku berikan padanya, lalu aku menjanjikan padanya untuk
memberikannya di tempatnya itu. Di hari yang telah ditentukan itu dan hari se-
telahnya ternyata aku lupa mendatanginya, aku datang pada hari yang ketiga, aku
dapati beliau telah berada di tempat itu. Beliau berkata, Wahai Pemuda, kau telah
menyusahkan aku, aku telah berada di sini selama tiga hari menunggumu.’”
Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim, “Rasulullah sedang duduk membagi
pampasan perang Hawazin di Hunain, seseorang berdiri di hadapan beliau dan
mengatakan, ‘Engkau mempunyai janji denganku wahai Rasulullah.’ Beliau
menjawab, ‘Kamu benar, ambillah yang kamu inginkan.’ Lelaki itu berkata, ‘Aku
ambil delapan puluh domba dan penggembalanya.’ Beliau menjawab, Ya, itu
milikmu.’ Lelaki itu berkata, ‘Engkau memutuskan dengan mudah sekali.’”
Al-Hakim meriwayatkan dari Huwaithib bin Abdul Uzza dalam kisah masuk
Islamnya. Ketika masih musyrik, ia memimpin delegasi yang meminta pada
Rasulullah saw. untuk meninggalkan Mekah dalam Umrah Qadha’ setelah masa
tiga hari yang disepakati. Huwaithib berkata, ‘Ketika Rasulullah datang untuk
Umrah Qadha’ dan kaum Quraisy keluar dari Mekah, aku termasuk orang-orang
yang tetap tinggai di Mekah, yaitu aku dan Suhail ibnul Amru, yang bertugas
untuk mengeluarkan Rasulullah jika waktunya telah lewat Tatkala tiga hari telah
terpenuhi aku dan Suhail ibnul Amru menghadap beliau dan mengatakan, Telah
lewat syaratmu maka keluarlah dari negeri kami.’ Beliau langsung berteriak,
Wahai Bilal, jangan sampai ada kaum muslimin yang ikut kita masih berada di
Mekah saat matahari terbenam.’”
Berikut ini bagian dari kitab Bathlul Abthal, pengarangnya merinci sebagian sikap
setia pada janji yang diamalkan oleh Rasulullah saw. Ia menuliskan, “Sebelum
tahun Perjanjian Hudaibiyah kaum Quraisy telah mengepung Madinah.
Persekutuan orang-orang kafir (Ahzab) yang terdiri dari seluruh bangsa Arab baik
Arab kota maupun Badui telah bersepakat untuk melakukan hal itu. Bani
Quraizhah mencabut perjanjiannya dengan Rasulullah. Dengan adanya hal itu,
bertambahlah penderitaan kaum muslimin, mereka benar-benar digoncang dengan
goncangan yang dahsyat, tetapi Allah menolong hamba-Nya yang beriman, dan
memuliakan mereka serta menanam ketakutan dalam hati kaum musyrikin.
Akhirnya, pasukan Islam dengan dipimpin Rasulullah menyerang kota Mekah dan
sampai di Hudaibiyah. Kaum Quraisy lalu mengirim utusannya pada Muhammad.
Coba perhatikan, inilah Urwah ibnul Masud ats-Tsaqafi utusan mereka, kembali
kepada mereka dan menyifati keadaan Muhammad saw. serta tentaranya dengan
kalimat sebagai berikut
‘Aku telah datang pada Kisra Persia dalam kerajaannya, dan Kaisar Romawi
dalam kerajaannya serta Raja Najasyi dalam kerajaannya, sungguh aku tidak
melihat seorang raja sekali pun di mata rakyatnya seperti Muhammad di mata
sahabat-sahabatnya.’ Muhammad saat itu dalam keadaan mantap dan kuat tetapi
ia tidak ingin perang. Ia bersabda,
‘Jika saat ini Quraisy mengajakku kepada rencana yang isinya memintaku untuk
menjalin silaturahmi, pasti aku penuhi’
Suhail bin Amru datang sebagai delegasi Quraisy yang membuat Muhammad
saw. dan pasukannya tidak jadi masuk Mekah. Salah satu syarat perjanjian ini
adalah syarat yang secara zahir merugikan, yaitu bahwa Muhammad harus
menyerahkan kepada Quraisy orang yang pergi ke tempat kaum muslimin tanpa
izin walinya, dan mereka tidak dituntut mengembalikan pengikutbeliau yang pergi
ke Quraisy.
Syarat ini mengagetkan para sahabat Nabi saw., termasuk Umar ibnul Khaththab
r.a.. Sehingga ia pergi menemui Abu Bakar dan Rasulullah saw. seraya
mengatakan, ‘Bukankah kita muslimin! Bukankah mereka musyrikin! Bukankah
engkau Rasulullah! Untuk apa kita berikan kerendahan pada agama kita?’
Rasulullah saw. bersabda, ‘Aku adalah hamba Allah dan rasul-Nya tidak akan
menyalahi perintah-Nya dan Dia tidak akan menyia-nyiakan aku.’ Abu Bakar
berkata, ‘Aku bersaksi sesungguhnya dia utusan Allah.’
Menerimanya kaum muslimin pada syarat ini adalah menyerahnya mereka pada
perkara yang belum diketahui rahasianya. Hal itu merupakan ujian yang terbesar
bagi kesabaran mereka.
Ketika mereka dalam keadaan bersitegang seperti ini dan Rasulullah saw. telah
selesai bernegosiasi dengan delegasi Quraisy, yaitu Suhail bin Amru, namun akad
belum ditulis dan belum selesai. Tiba-tiba datanglah pada mereka Abu Jandal, ia
berteriak dan berjalan tertatih-tatih dengan kaki terbelenggu. Abu Jandal ini
adalah anak Suhail bin Amru. Begitu Suhail melihat anaknya, ia beranjak ke arah-
nya dan mengambil rantai belenggunya seraya berkata, ‘Wahai Muhammad, per-
soalan antara aku dan kamu telah mengerucut-artinya negosiasi telah selesai-
sebelum datang anak ini.’ Nabi menjawab, ‘Kau benar.’ Dan, Abu Jandal
berteriak memanggil-manggil kaum muslimin, ‘Apakah aku akan dikembalikan
pada kaum musyrikin yang merusak agamaku?’
Bayangkanlah sikap itu, sikap Muhammad saw. yang berani, yang telah aku
ceritakan pada Anda keberaniannya yang tiada bandingnya. Dialah orang kuat
yang keluar dari Madinah maju dengan tentaranya. Sekarang telah Anda dengar
bagaimana Urwah bin Mas’ud menyifatinya. Bayangkanlah bagaimana beliau
melihat sahabat terdekatnya (dalam keadaan tersiksa), datang tertatih-tatih
terbelenggu, padahal ia termasuk orang terpandang di Quraisy, ia berjalan
terbelenggu karena ikut Muhammad dan ikut agama Muhammad. Kemudian
lihatlah, beliau tidak goyah dan tidak ragu-ragu sama sekali pada apa yang belum
ditulis dan belum selesai. Beliau berkata pada Suhail, ‘Kau benar, persoalan telah
selesai.’ Dan beliau mengembalikan sahabatnya dalam keadaan menangis pada
musuhnya. Coba lihatlah itu semua. Lantas siapa saja, coba tuliskan padaku satu
keteladanan saja dalam sejarah manusia semua seperti keteladanan yang dicontoh-
kan Muhammad saw. dalam menjaga dan menepati perkataan yang telah ia kata-
kan meski belum ditulis dan belum selesai.”
Penulis kitab juga menuturkan contoh lain,
“Kemudian lihatlah, kesetiaan beliau juga terhadap musyrikin. Di antara syarat
Perjanjian Hudaibiyah adalah siapa saja bisa masuk dalam akad dan janji
Muhammad dan siapa saja bisa masuk dalam akad dan janji Quraisy. Masuklah
kabilah Khuza’ah dan sekutunya pada akad dan janji Muhammad saw. serta
menjadi sekutu beliau. Ketika Quraisy merusak perjanjiannya dan membantu
sekutunya, yaitu Bakar dan melibas Khuza’ah. Datanglah Amru bin Salim al-
Khuza’i meminta janji Rasulullah saw. dan meminta beliau menolong sekutunya.
Amru bersimpuh di hadapan Rasulullah saw saat berada di masjid. Ia meratap dan
berkata,
Wahai Tuhan, aku meratap pada Muhammad.
Sekutu ayah kami dan ayahnya yang sangat erat
Tolonglah (Muhammad).
Allah menunjukkanmu kemenangan yang pasti.
Ajaklah hamba-hamba Allah, mereka pasti datang memberi bantuan.
Dalam gelombang pasukan seperti samudra
yang berjalan berbuih-buih.
Sesungguhnya Quraisy mengingkari janji padamu
Dan merusak perjanjianmu yang telah dikuatkan.’
Maka serangan Quraisy terhadap kaum musyrikin bani Khuza’ah yang menjadi
sekutu kaum muslimin itu, menjadi sebab disiapkannya pasukan terbesar yang
dikenal Jazirah Arab dan sejarah untuk membantu sekutu seseorang saat itu.
Dampak hal itu adalah terbukanya kota Mekah sebagaimana kita diketahui
bersama Inilah contoh kesetiaan Rasulullah saw. pada musuh agama yang telah
beliau ikat perjanjian, atau sebelum mereka bersekutu dengan kaum musyrikin
1
selain mereka.”
Inilah contoh-contoh dari kejujuran dan kesetiaan beliau dalam menepati janji dan
perjanjian. Tidak pernah terjadi bahwa Rasulullah saw. berjanji atau membuat
perjanjian kemudian beliau ingkar atau berkhianat
Bukhari meriwayatkan bahwa ketika Heraklius bertanya pada Abu Sufyan tentang
Muhammad, “Apakah ia berkhianat?” Abu Sufyan menjawab, ‘Tidak.” Setelah
itu, Heraklius mengatakan, “Aku tanyakan kepadamu apakah ia berkhianat maka
kalian anggap bahwa ia tidak berkhianat memang seperti itulah seorang rasul, ia
tidak berkhianat”
Berkhianat tergolong dusta, ingkar janji adalah dusta, dan Rasulullah saw. bersih
dari itu semua. Dari contoh sedikit yang kami sebutkan, Anda melihat bahwa
tidak ada seorang pun dari manusia yang mencapai tingkatan yang dicapai
Rasulullah saw. dalam kesetiaan menjaga kehormatan perkataan. Kalaupun ada, ia
adalah murid yang mengikuti keteladanannya.
Kalimat yang terucap dari Rasulullah saw. adalah jaminan yang tidak ada jaminan
setelahnya. Sampai-sampai musuhnya yang paling keras dan paling lama
memusuhi beliau dalam perjalanan dakwah beliau tidak ragu-ragu untuk
memasukkan dirinya dalam naungan kaum muslimin, jika telah mereka pastikan
bahwa yang menjamin keamanan mereka adalah Muhammad saw. Mereka
percaya bahwa perkataan Muhammad adalah jaminan yang tidak sama dengan
jaminan lainnya. Siapa yang menelusuri peristiwa-peristiwa sirah pasti
menemukan contoh yang banyak atas hal ini. Itulah sifat shidiq (jujur dan benar)
yang dimiliki para nabi. Tidak pernah berubah sama sekali.
Diposting oleh
NUY CORNER
komentar (0)
Oleh : Sa'id Hawwa
B. SIFAT-SIFAT ASASI RASULULLAH
Setiap rasul Allah wajib memiliki empat sifat asasi berikut ini, sehingga pantas untuk mengemban risalah Ilahi.
1. Ash-Shidqul Muthlaq atau kejujuran secara mutlak yang tidak rusak dalam segala kondisi. Sekiranya setiap perkataannya diuji, pastilah sesuai dengan kenyataan; baik ketika ia berjanji, serius, bercanda, memberi kabar, maupun ketika bernubuat. Apabila sifat ini rusak sedikit saja, maka risalah yang ia bawa pun secara otomatis rusak pula karena manusia tidak percaya dengan rasul yang tidak jujur. Seorang rasul yang jujur, tidak sedikit pun dari perkataannya yang mengandung kebatilan, dalam kondisi dan situasi apa pun.
2. Al-Iltizamul Kamil atau komitmen dan sifat amanah yang sempurna dengan apa yang ia serukan, sebagai wakil dari Allah. Tugas rasul adalah menyam-paikan kepada manusia risalah yang dibebankan oleh Allah kepada mereka. Apabila seorang rasul sendiri tidak menegakkan kandungan risalah itu, maka hal itu menunjukkan bahwa ia tidak berinteraksi dengan isi risalah tersebut, dan itu menjadi bukti kedustaannya dalam menyampaikan risalah. Seorang rasul yang mempunyai hubungan langsung dengan Allah, pastilah amat mengerti tentang keagungan Allah, dan tidak mungkin melanggar perintah Allah. Tindakan melanggar perintah Allah adalah suatu pengkhianatan ke-pada-Nya, dan orang-orang yang tidak amanah tentunya tidak pantas mengemban risalah.
3. At-Tablighul Kamil atau penyampaian kandungan risalah secara sempurna dan kontinu, disertai rasa tidak peduli pada kebencian, siksaan, kejahatan, tipu daya, konspirasi, atau sikap kasar manusia yang menghalangi dakwah-nya. Juga, istiqamah dalam mengerjakan perintah Allah dan tidak menye-leweng darinya, meskipun menghadapi bujukan apa pun. Tanpa tablig (penyampaian) , niscaya risalah Hahi tidak akan muncul. Tanpa kontinuitas serta kesabaran dalam bertablig, niscaya risalah tersebut tidak akan bertahan keberadaannya Adapun tunduk pada tekanan manusia atau bujukan mereka saat menyampaikan risalah itu, menjadi bukti kebohongan klaim penyampaian risalah dari Allah. Tidak ada yang menyampaikan risalah Allah kecuali orang yang cintanya pada Allah mengalahkan segalanya Hanya Allahlah yang agung di sisinya, dan hanya ridha-Nya yang menjadi tujuannya.
4. Al-AqlulAzhim atau intelegensi yang cemeriang. Manusia tidak tunduk dan mengikuti orang lain kecuali jika orang tersebut lebih cerdas darinya, agar mereka merasa tenang bahwa ia tidak membawa mereka pada jalan yang salah. Tanpa intelegensia yang cemerlang, pengemban risalah juga tidak akan mampu meyakinkan orang lain akan kebenaran yang ia bawa, khusus-nya bagi orang-orang yang memiliki wawasan luas dan intelektualitas yang tinggi. Ia juga tidak akan mampu menghadapi serangan orang-orang yang memusuhi ajarannya, yang menolak dakwahnya, dan yang menyimpang dari jalan kebenaran. Oleh karena
itu, seorang rasul seharusnya adalah seorang yang paling cerdik, paling cerdas, paling berakal, paling bijak, dan paling sem-purna pengetahuannya dibandingkan manusia yang lain, sehingga keberada-an dirinya sendiri bisa menjadi bukti kebenaran risalah yang ia sampaikan.
Apabila keempat sifat ini berkumpul dalam diri seorang manusia yang mengklaim dirinya seorang rasul Allah, disertai tanda-tanda kerasulan lainnya, tanpa ada hal yang mencegah klaimnya, maka hal itu dapat menjadi bukti dan dalil kebenaran pengakuannya. Ketika tidak ada alasan untuk mendustakan kejujuran seseorang yang terkenal jujur, tidak ada penjelasan bagi komitmennya yang kuat, kecuali ketundukannya kepada Allah swt. Bertahannya sang penyampai risalah dalam bertablig, meskipun banyak faktor yang mendorongnya untuk mundur, yang membuktikan keikhlasannya pada dakwah yang ia bawa, dan pada Tuhan yang ia junjung risalah-Nya, serta adanya dakwah yang disertai hujjah yang sempurna berikut pembawa dakwah yang mampu memberikan bukti kebenaran dakwah tersebut dalam segala seginya, menjadi bukti kebenaran dakwah dan risalah tersebut.
Dalam sub bab ini kita akan mendapati bahwa Rasulullah saw. adalah teladan yang utama dalam semua sifat-sifat ini. Anda tidak dapat mempelajari satu sifat dalam diri beliau kecuali mengakui bahwa pemiliknya adalah benar-benar seorang rasul Allah. Kita akan mempelajari sifat-sifat ini sesuai dengan urutan yang telah tersebut.
1. Kejujuran Rasulullah
Metode kami dalam menampilkan sifat ini adalah dengan mendatangkan kesaksian-kesaksian atas kejujuran Rasulullah saw.. Kesaksian ini sebagai berikut
a. Kesaksian musuh-musuh Rasulullah.
b. Kesaksian para pengikut Rasulullah.
c. Kesaksian realitas yang mencakup empat hal: pemberian kabar, berjanji dan membuat perjanjian, canda, serta dalam nubuat
a. Kesaksian Musuh-Musuh Rasulullah
Kesaksian musuh-musuh beliau mempunyai nilai yang besar. Hal itu menunjukkan pada puncak kepercayaan masyarakat terhadap pribadi Rasulullah saw. Hanya saja, sebagian manusia dikuasai kebodohan dan keangkuhannya, sehingga mereka mengingkari hal itu tanpa alasan yang jelas. Nash-nash di bawah ini meyakinkan Anda apa yang kami sampaikan.
Al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Mughirah bin Syu’bah berkata, “Hari pertama aku mengenal Rasulullah saw. adalah tatkala aku dan Abu Jahal berjalan-jalan di sebuah lorong Mekah, tiba-tiba kami bertemu Rasulullah saw. Selanjutriya,beliau menyeru Abu Jahal, ‘Wahai Abu Hakam, marilahberiman kepada Allah dan rasul-
Nya. Aku mengajakmu kepada Allah.’ Abu Jahal menjawab, ‘Hai Muhammad, tidakkah kamu berhenti mencela tuhan-tuhan kami? Tidakkah yang kamu inginkan adalah agar kami bersaksi bahwa kamu telah menyampaikan risalah? Baiklah kami bersaksi bahwa kamu telah menyampaikan. Demi Allah, seandainya
aku tahu apa yang kamu sampaikan itu benar, tentu aku mengikuti kamu.’ Rasulullah saw lantas berlalu, sementara Abu Jahal menghadap padaku, sambil berkata, ‘Demi Allah, sebenarnya aku tahu apa yang ia katakan adalah benar, tapi ada sesuatu yang mencegahku, yaitu bani Qushayy pernah mengatakan, ‘Pada kami kekuasaan menjaga ka bah (hijabah)’ Kami menjawab, Ya.’ Lalu mereka berkata, ‘Pada kami kekuasaan memberi minum haji (siqayah).’ Kami menjawab, Ya.’ Lalu mereka berkata, Pada kami kekuasaan memimpin rapat (nadwah).’ Kami menjawab, Ya.’ Kemudian mereka berkata, ‘Pada kami kekuasaan memimpin perang Qiwa ).’ Kami menjawab, Ya.’ Setelah itu, mereka memberi makan kendaraan mereka dan kami memberi makan kendaraan kami, hingga tatakala kendaraan siap dan berdekatan mereka mengatakan, ‘Dari kami seorang nabi.’ Maka, demi Allah, aku tidak menjawabnya.’” Ibnu Abi Syaibah juga mengeluarkan riwayat semisal ini. At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ali r.a., “Abu Jahal berkata pada Nabi saw, ‘Kami tidak mendustakanmu, tetapi mendustakan apa yang kamu bawa.’” Allah swt berfirman, “... mereka sebenarnya bukanlah mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allahlah.” (QS. Al-An’aam: 33)
Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa Mu’awiyyah r.a. bercerita, “Abu Sufyan keluar menuju tanah lapang miliknya, mengiringi Hindun. Aku ikut keluar berjalan didepan mereka. Saat itu aku masih seorang bocah dan aku menunggang keledaiku. Tiba-tiba kami mendengar kehadiran Rasulullah saw. Maka Abu Sufyan berkata,
Turunlah, hai Mu’awiyah supaya Muhammad menaiki kendaraanmu!’ Aku langsung turun dari keledaiku dan Rasulullah saw. menaikinya, beliau berjalan di depan kami sebentar menoleh kepada kami dan bersabda, Wahai Abu Sufyan bin Harb dan Hindun binti Utbah! Demi Allah, sungguh kalian pasti mati, kemudian pasti dibangkitkan, lalu yang berbuat kebajikan pasti masuk surga dan yang berbuat keburukan pasti masuk neraka. Aku berkata pada kalian dengan benar, dan kalian sungguh orang yang pertama aku beri peringatan.’ Kemudian Rasulullah saw membaca, ‘Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan yang Maka Pemurah lagi Maka Penyayang...’ hingga ‘... keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka hati.’ (Fushshilat: 1-11)
Abu Sufyan lalu berkata kepada beliau, ‘Apakah engkau sudah selesai, wahai Muhammad?’ Beliau menjawab, Ya.’ Rasulullah saw. turun dari keledai lantas aku menaikinya. Lalu Hindun menghadap Abu Sufyan seraya berkata, ‘Apakah untuk tukang sihir ini kau turunkan anakku?’ Tidak, demi Allah ia bukan tukang sihir dan bukan pembohong,’ jawab Abu Sufyan.’” Hadits ini dikeluarkan juga oleh Thabrani.
Imam Bukhari dan Muslim juga menceritakan kisah Abu Sufyan di hadapan Heraklius-sebagaimana diceritakan Abu Sufyan sendiri pada Ibnu Abbas. Diantaranya adalah pertanyaan Heraklius pada Abu Sufyan, “Heraklius bertanya, ‘Apakah kalian menuduhnya berbuat dusta sebelum ia mendakwahkan ajarannya?’ Aku jawab, Tidak.’” Di akhir kisah itu, Heraklius berkata pada Abu Sufyan, “Aku tanyakan pada kalian apakah kalian menuduhnya berdusta sebelum ia mendakwahkan ajarannya, kalian jawab tidak. Maka aku segera tahu bahwa ia tidak mungkin meninggalkan dusta pada manusia untuk kemudian berdusta pada Allah swt.”
Imam Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., ia mengatakan, “Ketika turun firman, ‘Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.’
(asy-Syu’araa : 214)
Rasulullah saw. langsung naik ke bukit Shafa dan memanggil-manggil, Wahai bani Fahr, wahai bani Adi,’ kepada pemuka-pemuka Quraisy hingga mereka berkumpul dan beliau bersabda, ‘Jawablah, seandainya aku beri kabar bahwa ada pasukan kuda di balik lembah itu ingin menyerang kalian, apakah kalian percaya pada ucapanku?’ Mereka menjawab, Ya, kami tidak pernah menjumpaimu berdusta. Hanya kejujuran dan kebenaran perkataanmu yang selama ini kami tahu.’ Beliau melanjutkan, ‘Sesungguhnya aku pemberi peringatan pada kalian, di antara kedua tanganku terdapat siksa yang pedih.’ Abu Lahab langsung menimpali, ‘Celaka kau, hai Muhammad! Apakah untuk ini kau kumpulkan kami.’ Maka turunlah ayat, ‘Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa.’ (al-Lahab: 1)
Dari nash-nash ini jelaslah bagi Anda bahwa kepercayaan pada kejujuran Muhammad saw. nyata adanya, dan tidak ada keraguan dalam masalah ini sama sekali. Inilah yang menjelaskan kita pada hal-hal berikut
1. Adanya orang-orang yang sebelumnya memerangi beliau, kemudian percaya dan beriman kepada beliau, satu per satu, taat tanpa paksaan, seperti Khalid ibnul Walid, Amru ibnul Ash, dan Umar ibnul Khaththab. Hal itu tak lain karena mereka tidak ragu bahwa Muhammad saw. adalah orangyang jujur dan benar
(skadiq), hanya saja mereka dikejutkan oleh sesuatu yang belum pernah mereka dengar, juga bapak-bapak mereka, sehingga mereka mengingkarinya. Ketika keterkejutan itu hilang dan mereka memakai akal pikirannyayang jernih, bertemulah kebenaran pikiran dengan kepercayaan dasar pada pribadi Muhammad
saw., dan lahirlah keimanan.
2. Tampaknya keikhlasan kepada beliau, dalam diri orang-orang yang sebelumnya kafir dan kemudian beriman. Di antara mereka ada yang baru beriman pada masa-masa akhir kehidupan Rasulullah, setelah mereka tertakluk-kan oleh pasukan Islam, seperti orang-orang Quraisy lainnya. Mereka akhir-nya menyerah pada Islam, setelah sebelumnya ada perasaan membangkang, dengki, ragu, dan syahwaty ang mencegah mereka untuk itu. Ketika mereka masuk Islam karena tunduk pada kenyataan, mereka ikhlas dan setia pada Rasulullah saw. dengan keikhlasan yang sempurna. Mereka pun berjuang mati-matian di jalan Islam setelah penutup kebenaran hilang dari mata mereka. Setelah itu, tampaklah di mata dan hati mereka bahwa Muhammad saw. adalah saudara dan putra yang mulia. Pengetahuan dan kepercayaan mereka pada pribadi beliau adalah dasar pertama yang membuat mereka ikhlas menempuh jalan baru mereka (yaitu Islam), yang mereka lalui dengan kebahagiaan.
Inilah kesaksian musuh-musuh Rasulullah saw. Sebagian mereka masuk Islam setelah mengadakan permusuhan sengit, dan sebagian lagi mati dalam kekafirannya. Akan tetapi, dalam permusuhan paling sengit sekalipun, semua mengakui dan meyakini bahwa Muhammad saw adalah orang yang jujur.
b. Kesaksian Para Pengikut Rasulullah
Kami paparkan kesaksian para sahabat dan pengikut Rasulullah saw. sebagai berikut :
Rasulullah saw. senantiasa bergaul dan hidup bersama para sahabatnya dalam segala hal; makan, minum, bepergian, shalat, dan dalam pertemuan-per-temuan (majelis). Beliau menyukai kesederhanaan dan keterusterangan, serta membenci sesuatu yang dibuat-buat dan dipaksa-paksakan (takallufi. Sebagian sahabat
menemani beliau sebelum dan setelah kenabian selama puluhan tahun.
Para sahabat bukanlah orang-orang yang bodoh dan terbelakang serta terasing dari perkembangan dunia. Bahkan, sebagian mereka berasal dari Mekah, yang menjadi tujuan bangsa Arab untuk berhaji setiap tahun, dan seluruh Jazirah Arab tunduk kepada penduduknya karena keutamaan dan kepemimpinannya, mereka biasa bepergian untuk melakukan hubungan dagang dengan Yaman dan Syam yang merupakan pusat peradaban saat itu. Sebagian lagi berasal dari Madinah, di mana terjadi kontak pemikiran dengan bangsa Yahudi yang menye-babkan mereka berwawasan luas dan terbuka hatinya.
Para sahabat juga telah membuktikan, di masa hidup Rasulullah saw. dan setelah wafatnya, mereka adalah manusia paling cemerlang akal pikirannya, paling kaya taktik dan pengalamannya, serta paling banyak mengetahui tokoh, suku, dan politik bangsa-bangsa di dunia saatitu. Dengan bukti, meski dengan keterbatasan
sarana, mereka berhasil membuka sebagian besar negara-negara berperadaban waktu itu. Mereka juga berhasil mengaturnya, mendapatkan kecintaan dari pen- duduknya, serta menggabungkannya ke dalam rengkuhan umat Islam.
Jika dua sisi ini bertemu, yakni pergaulan yang intens dan kecerdasan orang yang digauli, maka kedustaan tidak mungkin disembunyikan dan akan terbuka serta kejujuran akan tampak terang.
Ada fenomena yang jelas dalam kehidupan para sahabat, yaitu semakin bertambah intensitas pergaulan mereka dengan Rasulullah saw., maka semakin kuatlah keimanan mereka pada beliau. Bahkan, orang yang paling banyak bergaul dengan Rasulullah saw. yang paling tinggi keimanan dan ketaatannya pada beliau. Keimanan ini sampai pada satu tingkatan bahwa mati untuk apa yang diinginkan Rasulullah saw. lebih mereka cintai daripada hidup. Menginfakkan harta lebih mereka sukai daripada menyimpannya Taat lebih mereka cintai daripada maksiat Agama Rasulullah saw. lebih mereka cintai daripada harta, anak, tempat tinggal, istri, dan tanah air. Ini semua adalah bagian dari fenomena adanya rasa percaya dan keimanan yang sempurna pada beliau, kalaulah tidak ada rasa percaya tentu ini semua tidak akan ada Sampai-sampai, di antara mereka ada seorang anak ingin membunuh ayahnya yang kafir dan seorang ayah ingin membunuh anaknya yang kafir. Untuk apa ini semua mereka lakukan? Kalaulah bukan karena puncak keimanan dan kepercayaan mereka pada Rasulullah saw.
Berikut ini adalah contoh-contoh yang pada hakikatnya merupakan dampak positif dari kepercayaan dan keimanan yang sempurna, sekaligus merupakan bukti nyata atas keimanan itu. Dalam setiap contoh terdapat kesaksian dari pemiliknya, setelah ia membuktikan sendiri bahwa Rasulullah saw. adalah orang yang jujur
tak diragukan lagi.
1. Al-Hafizh Abu Hasan ath-Thayalisi meriwayatkan bahwa Aisyah r.a. berkata, “Ketika para sahabat Nabi saw. berkumpul-mereka berjumlah 38 orang- Abu Bakar mendesak Rasulullah saw. untuk berdakwah secara terang-terangan. Rasulullah saw. berkata, Wahai Abu Bakar, jumlah kita masih sedikit. Tetapi Abu Bakar terus mendesak hingga akhirnya Rasulullah saw. berdakwah terang- terangan. Kaum muslimin ikut berdakwah dan berpencar dalam sisi-sisi masjid. Setiap orang bersama kelompoknya. Abu Bakar berdiri menyam-paikan khotbah, sedangkan Rasulullah saw duduk. Jadi, Abu Bakar adalah khatib pertama yang mengajak beriman kepada Allah dan rasul-Nya.
Kaum musyrikin segera bereaksi. Mereka marah kepada Abu Bakar dan orang-orang Islam. Mereka memukuli orang-orang Islam di semua sisi masjid dengan keras, menginjak-injak Abu Bakar dan menganiayanya dengan sadis. Si Fasik Utbah bin Rabi’ah mendekati Abu Bakar dan me-mukulnya dengan dua sandalnya yang kasar serta menamparkannya pada muka Abu Bakar. Ia melompat di perut dan tubuh Abu Bakar sampai tidak bisa dikenali lagi bentuk mukanya.
Sejurus kemudian, datanglah bani Taim menyerang kaum musyrikin dan melepaskan Abu Bakar. Bani Taim menggotong Abu Bakar dalam kain dan membawanya ke dalam rumahnya. Mereka tidak meragukan lagi kematian-nya. Lalu, bani Taim kembali masuk ke masjid dan berkata, ‘Demi Allah, jika Abu Bakar mati maka akan kami bunuh Utbah bin Rabiah!’ Lalu, mereka kembali ke rumah Abu Bakar. Abu Quhafah dan bani Taim mengajak bicara Abu Bakar sampai ia bisa menjawab, akhirnya ia bisa berbicara pada petang hari dan berkata, ‘Apa yang terjadi pada Rasulullah?’ Mereka langsung men-cela Abu Bakar dengan perkataan serta menghinanya, lalu mereka berdiri dan berkata pada Ummu Khair, ‘Iihatlah, dan beri ia makan atau minum.’ Ketika Ummu Khair hanya berdua dengan Abu Bakar, ia memaksanya untuk berbicara dan berkatalah Abu Bakar, ‘Apa yang terjadi pada Rasulullah?’ Ummu Khair menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan sahabatmu.’ Dia berkata, ‘Pergilah ke Ummu Jamil binti Khathab dan tanya-kan padanya tentang beliau.’ Segera Ummu Khair pergi menjumpai Ummu Jamil, dan mengatakan, ‘Abu Bakar menanyakan padamu tentang Muhammad bin Abdillah.’ Ummu Jamil menjawab,
‘Aku tidak tahu Abu Bakar juga Muhammad bin Abdillah, bolehkah aku ikut denganmu menemui anakmu?’ Ya,’ jawabnya.
Berjalanlah Ummu Jamil bersama Ummu Khair menjumpai Abu Bakar yang sakit parah. Ummi Jamil mendekatinya, dan berkata dengan suara keras, ‘Demi Allah, sungguh, orang-orang yang memperlakukanmu seperti ini adalah benar-benar fasik dan kufur, aku mengharap dari Allah agar membalaskan untukmu perbuatan mereka.’ Abu Bakar bertanya, ‘Apa yang terjadi pada Rasulullah?’ Ummu Jamil berkata, ‘Ini ada ibumu, ia mendengar.’ Abu Bakar menjawab, ‘la tidak berbahaya bagimu.’ Ummu Jamil lalu mengabarkan, ‘Rasulullah sehat dan baik.’ Di mana beliau?’ tanya Abu Bakar. ‘Di rumah Ibnu Arqam,’ jawab Ummu Jamil. Abu Bakar lalu berkata, ‘Aku bersumpah untuk Allah, aku tidak makan dan minum kalau tidak menemui Rasulullah.’ Keduanya menahan Abu Bakar, sampai keadaan sepi dan manusia tenang, mereka memapahnya keluar hingga memasukkannya menemui Rasulullah saw..
Aisyah r.a. berkata, ‘Rasulullah langsung merangkulnya dan menciumnya, hal itu diikuti kaum muslimin. Rasulullah sangatterharu padanya.’ Abu Bakar berkata, ‘Demi bapak dan ibuku, wahai Rasulullah, aku tidak tertimpa apa-apa kecuali apa yang ditimpakan orang fasik itu pada mukaku. Ini ibuku sangat baik pada
putranya, dan engkau adalah orang yang diberkahi maka ajaklah ia beriman kepada Allah dan doakanlah pada Allah untuknya, semoga dengan doamu Allah menyelamatkan dia dari neraka.’ Kemudian Rasulullah saw. mengajaknya beriman kepada Allah dan ia pun masuk Islam.”
2. Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Ibnu Umar r.a. berkata, “Ketika Umar r.a. masuk Islam, ia mengatakan, ‘Siapakah orang Quraisy yang paling masyhur menukil perkataan?’ Dikatakan kepadanya, ‘Jamilbin Mamar al-Jahmi.’ Maka ia pergi menemui Jamil. Abdullah bin Umar berkata, ‘Aku juga pergi mengikuti jejaknya dan ingin melihat apa yang ia perbuat—saat itu aku anak lelaki yang sudah memahami segala yang aku lihat hingga ia sampai menemui Jamil, lalu Umar berkata padanya, ‘Apakah kautahu wahai Jamil bahwa aku telah Islam dan masuk agama Muhammad saw.?’ Abdullah berkata, ‘Demi Allah, Jamil tidak menjawabnya, segera ia berdiri mengulurkan serbannya dan beranjak pergi diikuti Umar, aku pun mengikuti mereka.’ Ketika sampai di pintu masjid, Jamil berteriak sekeras-kerasnya, Wahai segenap Quraisy-saatitu merekasedangberkumpul di
sekitar Ka’bah-, ketahuilah, Ibnul Khaththab telah murtad!’ Umar langsung menyahut, ‘la bohong, aku tidak murtad, tetapi aku telah masuk Islam dan aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah.’ Mereka langsung bangkit menyerangnya dan terus menyerangnya. Hingga ketika matahari tegak di atas kepala mereka, Umar berkata, ‘Aduh, tak kuat lagi.’ Lalu ia duduk dan mereka berdiri di atas kepalanya. Umar menantang mereka, ‘Lakukan apa yang kalian kehendaki, aku bersumpah jika kami ada tiga ratus orang, maka sungguh, (yang akan terjadi adalah adakalanya) kami yang kalah dan kami tinggalkan Ka’bah untuk kalian atau kalian yang kalah dan meninggalkan Ka’bah untuk kami.’
Abdullah berkata, Tatkala mereka dalam keadaan seperti itu, datanglah seorang lelaki tua dari Quraisy memakai jubah hitam dan pakaian berbordir, ia berhenti di depan mereka dan bertanya, ‘Ada apa dengan kalian ini?’ Mereka menjawab, ‘Umar berpindah agama.’ Ia berkata, ‘Lepaskan ia, apa yang kalian inginkan dari orang yang memilih suatu perkara untuk dirinya sendiri? Apakah kalian kira bani Adiy akan menyerahkan saudaranya pada kalian seperti ini? Tinggalkan saja orang itu.’ Abdullah berkata, ‘Demi Allah, mereka langsung melepaskan Umar seperti pakaian yang terlepas dari Umar.’ Ia berkata, ‘Aku berkata pada ayahku-
setelah hijrah ke Madinah-’Wahai ayah! Siapakah yang menghardik orang-orang kafir dan membebas-kanmu saat engkau masuk Islam dan mereka menyerangmu?’ Beliau menjawab, ‘Itu, wahai anakku, Ash bin Wail Sahmiy.’” Riwayat ini isnadnya baik dan kuat-demikian dalam kitab al-Bidayah.
3. Bukhari meriwayatkan dalam kitab at-Tarikh bahwa Mas’ud bin Khurasy r.a berkata, Tatkala kami berputar antara Shafa dan Marwa, tiba-tiba ada orang ramai-ramai mengikuti seorang pemuda yang tangannya diikat pada lehernya. Aku bertanya, ‘Ada apa dengannya?’ Mereka menjawab, ‘Itu adalah Thalhah bin Ubaidillah, ia telah murtad.’ Seorang wanita di belakangnya marah-marah dan memaki-makinya. Aku bertanya, ‘Siapakah ia?’ Mereka menjawab, ‘Shu’bah binti Hadhrami, ibunya.’
4. Baihaqi, Ibnu Sa’id, Hants, Ibnu Mundzir, Ibnu Asakir, dan Ibnu Abil Hatim meriwayatkan bahwa Sa’ad bin Musayyab r.a. berkata, “Saat Shuhaib r.a. hijrah menghadap Nabi saw., ia diikuti segerombolan musyrik Quraisy, segera ia turun dari kudanya dan memasang busurnya lantas berkata, ‘Kalian telah tahu, hai orang-orang Quraisy, aku adalah orang yang paling jitu memakai panah. Demi Allah, kalian tidak akan sampai menyentuhku, sebab akan aku bidik kalian dengan seluruh anak panah dalam busurku, lalu akan aku tebas kalian dengan pedangku selama ia ada dalam genggamanku. Setelah itu terserah kalian, jika kalian mau aku tunjukkan untuk kalian hartaku di Mekah dan biarkanlah aku berjalan.’ Mereka menjawab, Ya.’ Mereka berjanji untuk itu. Shuhaib pun menunjukkan hartanya pada mereka. Ketika itu Allah menurunkan pada Rasul-Nya ayat Al-Qur an, ‘Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah.’ (al-Baqarah: 207) sampai akhir ayat Ketika Nabi saw. bertemu Shuhaib, beliau bersabda, ‘Perniagaanmu telah untung wahai Abu Yahya, perniagaanmu telah untung wahai Abu Yahya!’ Dan, beliau membacakan padanya ayat Al-Qur an itu.”
5. Hakim meriwayatkan dari Sulaiman bin Bilal r.a., “Ketika Rasulullah berangkat menuju Badar, Sa’ad bin Khaitsimah dan ayahnya ingin berangkat bersama beliau. Hal itu disampaikan pada Nabi saw., namun beliau meme-rintahkan agar yang ikut berperang salah satunya saja. Mengetahui hal itu, keduanya menjadi bingung. Khutsaimah bin Harits lalu berkata pada anak-nya yaitu Sa’ad, ‘Salah seorang di antara kita harus ada yang tinggal, maka tinggallah kau bersama istrimu.’ Sa’ad menjawab, ‘Seandainya selain surga tentu aku mengalah dan memberikannya padamu, aku mengharap mati syahid sebentar lagi.’ Akhirnya mereka berdua mengundi dengan anak panah, dan keluarlah anak panah Sa’ad. Maka keluarlah Sa’ad bersama Rasulullah saw. menuju Badar. Ia syahid dibunuh Amru bin Abdu Wudd.’” Hadits ini dikeluarkan juga oleh Ibnu Mubarak dari Sulaiman dan Musa bin Uqbah dari Zuhri, sebagaimana tertera dalam kitab al-Ishabah.
6. Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Umar r.a., “Saat Perang Uhud, Umar ibnul Khaththab r.a. berkata pada saudaranya, ‘Pakailahlah baju besiku, wahai Saudaraku!’ Saudaranya menjawab, ‘Aku ingin mati syahid sebagaimana engkau menginginkannya.’ Keduanya meninggalkan baju besi itu.” Haitsami berkata
bahwa rijalnya sahih.
7. Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Qasim bin Abdurrahman bin Rafi’ saudara bani Adi bin Najjar berkata, “Anas bin Nadhar-paman Anas bin Malik-(di tengah berkecamuknya Perang Uhud) bertemu Umar ibnul Khaththab dan Thalhah bin Ubaidillah yang berada di tengah orang-orang Muhajirin dan Anshar radhiyallahu
‘annum yang saat itu telah membuang senjata yang ada di tangan mereka. Ia bertanya, ‘Apa yang membuat kalian duduk?’ Mereka menjawab, ‘RasuluUah telah terbunuh.’ Ia berkata, ‘Apa yang kalian perbuat dengan hidup setelah kematiannya? Bangkitiah, dan matilah seperti matinya Rasulullah.’ Kemudian ia menyongsong kaum kafir, dan bertarung sampai terbunuh.”
8. Hakim menwayatkan bahwa Zaid bin Tsabit r.a. berkata, “Saat Perang Uhud Rasulullah mengutusku untuk mencari Sa’ad bin Rabi’ r.a. dan beliau berkata padaku, ‘Jika kau melihatnya bacakan padanya salam dariku, dan katakan padanya bahwa Rasulullah mengatakan kepadamu, bagaimana kau men-dapati dirimu?’ Zaid berkata, ‘Aku mulai berkeliling di antara orang-orang yang terbunuh dan aku temukan Sa’ad bin Rabi’ sedang berada di peng-habisan napasnya, terdapat tujuh puluh luka berupa tusukan tombak, sabetan pedang, dan
bidikan panah pada tubuhnya.’ Aku katakan padanya, Wahai Sa’ad, Rasulullah mengucapkan salam untukmu dan mengatakan kepadamu, kabarkan kepadaku bagaimana kau mendapati dirimu?’ Ia menjawab, ‘Salam bagi Rasulullah dan salam bagimu, katakan pada beliau, Wahai Rasulullah aku mendapati diriku mencium bau surga, dan katakan pada kaumku Anshar, jika kalian ikhlas pada Rasulullah saw. dan masih ada satu jengkal untuk membelanya, maka tidak ada uzur bagi kalian di sisi Allah (untuk tidak membela Allah dan Rasul-Nya).’ Ia berkata, ‘Kemudian wafatlah ia rahimahullah.’” Hakim berkomentar, hadits ini isnadnya sahih, dan keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengeluarkannya. Adz-Dzahabi berkata, Sahih.”
Hakim meriwayatkannya melalui jalan Ibnu Ishaq, “Abdullah bin Abdurrahman bin Abi Sha’sha’ah menceritakan dari ayahnya bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Siapa yang melihat untukku apa yang terjadi pada Sa’ad bin Rabi’ r.a.?’ - kemudian menuturkan hadits seperti di atas. Sa’ad berkata, ‘Kabarkan pada
Rasulullah saw. bahwa aku termasuk yang mati dan bacakan pada beliau salam dariku serta katakan pada beliau, semoga Allah membalas engkau dengan kebaikan, dari kami dan dari semua umatmu.’”
9. Al-Baihaqi meriwayatkan dari Malik bin Umair r.a., ia telah menemui masa jahiliah, ia berkata, “Seorang laki-laki datang pada Rasulullah dan berkata, ‘Aku berteinu musuh dan bertemu ayahku dalam gerombolan mereka, dan aku mendengar darinya perkataan kotor untukmu, aku tidak bisa sabar sampai akhirnya aku menusuknya dengan tombak (atau sampai aku bunuh dia).’ Mendengar itu, Nabi saw. diam saja. Kemudian, datang laki-laki lain dan berkata, ‘Aku bertemu ayahku, aku meninggalkannya, aku lebih suka orang selain aku yang menghadapinya.’ RasuluUah saw. tetap diam.” Al-Baihaqi berkata, “Ini adalah hadits mursal yang baik.”
10. Al-Bazzar meriwayatkan bahwa Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah saw. melewati Abdullah bin Ubay yang sedang berada di bawah tembok benteng dan berkata, ‘Ibnu Abi Kabsyah melempar debu kepada kita.’ Seketika itu anaknya, Abdullah bin Abdullah bin Ubay r.a. berkata, Wahai Rasulullah, demi Zat yang memuliakanmu, jika engkau berkenan pasti aku datangkan kepalanya padamu?’ Beliau menjawab, ‘Jangan kamu lakukan itu, tetapi perlakukan ayahmu dengan baik dan temanilah dengan baik.’” Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh al- Barraz dan rijalnya dapat dipercaya.”
11. Ibnu Hisyam menyebutkan dari Abi Ubaidah dan dari para pakar tentang peperangan lainnya. Umar ibnul Khathab r.a. mendekati Sa’id ibnul Ash r.a. dan berkata padanya, “Kurasa, kamu mengira aku telah membunuh ayahmu. Seandainya pun aku membunuhnya, aku tidak akan meminta maaf padamu karena aku telah membunuhnya. Aku hanya membunuh pamanku, Ash bin Hisyam bin Mughirah. Sedangkan bapakmu, aku temukan dia sedang me lampiaskan marahnya, aku menghalanginya, lalu datanglah anak pamannya menyerangnya mendahuluiku dan membunuhnya.” Riwayat seperti ini ada dalam al-Bidayah, dan ditambahkan dalam kitab al-lsthab dan al-Ishabah, “Lalu Sa’id ibnul Ash berkata padanya, ‘Seandainya kaubunuh dia, kamu benar dan aku yang salah.’ Umar langsung takjub mendengar ucapannya itu.”
12. Ibnu Sa’id meriwayatkan dari Zuhri, ia berkata, “Ketika Abu Sufyan bin Harb datang ke Madinah, ia menemui Rasulullah saw., saat itu beliau hendak menyerang Mekah. Abu Sufyan minta agar Rasulullah saw. memperpanjang dan menambah isi Perjanjian Hudaibiyah, tetapi Rasulullah saw. sama sekali tidak menerimanya. Abu Sufyan lalu beranjak dan masuk ke rumah putrinya, Ummu Habibah r.a. Ketika ia hendak duduk di kasur Rasulullah saw, Ummu Habibah melipatnya. Ia berkata, ‘Hai putriku, apakah karena kasur ini kau membenciku ataukah membenciku karenanya?’ Dia menjawab, ‘Karena kasur itu adalah kasur Rasulullah dan engkau orang yang najis dan musyrik!’ Abu Sufyan membalas berkata, ‘Hai putriku, kamu telah ditimpa kejelekan setelah meninggalkanku.’” Ibnu Ishaq menyebutkan riwayat seperti ini tanpa isnad, sebagaimana dalam al-Bidayah dan menambahkan, “Aku tidak suka kau duduk pada kasurnya.”
13. Thabrani meriwayatkan bahwa Anas bin Malik r.a. berkata, “Ketika Perang Uhud, penduduk Madinah membentuklingkaran. Mereka berkata, ‘Muhammad telah terbunuh!’ Sehingga menggemalah teriakan-teriakan dari arah Madinah. Maka keluarlah seorang wanita dari Anshar dan mendapati bapaknya, anaknya, dan saudaranya-telah mati semua-aku tidak tahu mana yang ia temui lebih dulu. Setiap kali ia bertemu seorang di antara mereka, wanita itu bertanya, ‘Siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Bapakmu, saudaramu, anakmu.’ Ia malah bertanya, ‘Apa yang terjadi dengan Rasulullah saw.?’ Para sahabat menjawab, ‘Beliau ada di depanmu.’ Hingga akhirnya ia tiba di hadapan Rasulullah saw dan memegangi ujung pakaian beliau seraya berkata, ‘Demi bapakku, engkau dan ibuku, wahai Rasulullah, aku tidak peduli (apa pun yang menimpa pada keluargaku) asal engkau selamat dari kecelakaan.’”Nash-nash ini menjelaskan seberapa jauh keimanan para sahabat dan peng-ikut yang selalu menyertai Rasulullah saw.. Sekaligus menunjukkan betapa kepercayaan mereka pada Rasulullah saw. sangatlah kuat tiada bandingnya.
c. Kesaksian Realitas
Kesaksian realitas adalah kesaksian paling tinggi dan kuat karena melalui realitas manusia bisa mencapai keyakinan yang tidak bercampur keraguan. Silakan mengadakan kajian yang rinci terhadap segala sesuatu yang datangnya dari Rasulullah saw, baik perkataan maupun perbuatan. Jika akhimyayang ia temukan dalam semua perkataan dan perbuatan beliau hanyalah kebenaran dan kejujuran, serta tidak keluar sedikit pun darinya, maka di hadapan manusia hanya ada satu jalan, yaitu mempercayai dan membenarkan beliau.
Akan bisa dapati dalam bab kedua, kajian yang sempurna pada Al-Qur’an men- jelaskan pada Anda bahwa semua kandungan Al-Qur’an adalah benar, nyata, dan berasal dari Allah swt. Akan kita dapati dalam bab ketiga-insya Allah-bahwa pengujian yang sempurna pada nubuat-nubuat beliau menunjukkan pada Anda bahwa masa depan adalah penyingkap, pembenar, dan penguat nubuat tersebut. Kami akan menukilkan beberapa contoh dari canda dan gurau beliau. Akan kita dapati bahwa hal itu tidak keluar dari kebenaran dan kejujuran. Juga contoh janji beliau, betapa beliau selalu menepatinya dengan benar. Juga, contoh beberapa hadits beliau, yang manusia bisa mengetahui kejujuran dan kebenaran beliau melalui penelitian dan pengujian. Kita akan mendapati suatu keajaiban, yaitu adanya kesesuaian antara apa yang diketahui manusia zaman sekarang setelah melakukan hipotesa dan penelitian dengan apa yang diucapkan Rasulullah saw. beberapa abad yang silam. Kami akan menutup bagian ini dengan catatan penting bahwa satu-satunya sumber yang dapat kita ambil untuk mengetahui hal-hal yang gaib dengan pasti adalah Rasulullah saw, dan sabda beliau adalah dalil melebihi dalil lainnya, disertai pembahasan beberapa persoalan yang berkaitan dengan masalah ini.
Setiap rasul Allah wajib memiliki empat sifat asasi berikut ini, sehingga pantas untuk mengemban risalah Ilahi.
1. Ash-Shidqul Muthlaq atau kejujuran secara mutlak yang tidak rusak dalam segala kondisi. Sekiranya setiap perkataannya diuji, pastilah sesuai dengan kenyataan; baik ketika ia berjanji, serius, bercanda, memberi kabar, maupun ketika bernubuat. Apabila sifat ini rusak sedikit saja, maka risalah yang ia bawa pun secara otomatis rusak pula karena manusia tidak percaya dengan rasul yang tidak jujur. Seorang rasul yang jujur, tidak sedikit pun dari perkataannya yang mengandung kebatilan, dalam kondisi dan situasi apa pun.
2. Al-Iltizamul Kamil atau komitmen dan sifat amanah yang sempurna dengan apa yang ia serukan, sebagai wakil dari Allah. Tugas rasul adalah menyam-paikan kepada manusia risalah yang dibebankan oleh Allah kepada mereka. Apabila seorang rasul sendiri tidak menegakkan kandungan risalah itu, maka hal itu menunjukkan bahwa ia tidak berinteraksi dengan isi risalah tersebut, dan itu menjadi bukti kedustaannya dalam menyampaikan risalah. Seorang rasul yang mempunyai hubungan langsung dengan Allah, pastilah amat mengerti tentang keagungan Allah, dan tidak mungkin melanggar perintah Allah. Tindakan melanggar perintah Allah adalah suatu pengkhianatan ke-pada-Nya, dan orang-orang yang tidak amanah tentunya tidak pantas mengemban risalah.
3. At-Tablighul Kamil atau penyampaian kandungan risalah secara sempurna dan kontinu, disertai rasa tidak peduli pada kebencian, siksaan, kejahatan, tipu daya, konspirasi, atau sikap kasar manusia yang menghalangi dakwah-nya. Juga, istiqamah dalam mengerjakan perintah Allah dan tidak menye-leweng darinya, meskipun menghadapi bujukan apa pun. Tanpa tablig (penyampaian) , niscaya risalah Hahi tidak akan muncul. Tanpa kontinuitas serta kesabaran dalam bertablig, niscaya risalah tersebut tidak akan bertahan keberadaannya Adapun tunduk pada tekanan manusia atau bujukan mereka saat menyampaikan risalah itu, menjadi bukti kebohongan klaim penyampaian risalah dari Allah. Tidak ada yang menyampaikan risalah Allah kecuali orang yang cintanya pada Allah mengalahkan segalanya Hanya Allahlah yang agung di sisinya, dan hanya ridha-Nya yang menjadi tujuannya.
4. Al-AqlulAzhim atau intelegensi yang cemeriang. Manusia tidak tunduk dan mengikuti orang lain kecuali jika orang tersebut lebih cerdas darinya, agar mereka merasa tenang bahwa ia tidak membawa mereka pada jalan yang salah. Tanpa intelegensia yang cemerlang, pengemban risalah juga tidak akan mampu meyakinkan orang lain akan kebenaran yang ia bawa, khusus-nya bagi orang-orang yang memiliki wawasan luas dan intelektualitas yang tinggi. Ia juga tidak akan mampu menghadapi serangan orang-orang yang memusuhi ajarannya, yang menolak dakwahnya, dan yang menyimpang dari jalan kebenaran. Oleh karena
itu, seorang rasul seharusnya adalah seorang yang paling cerdik, paling cerdas, paling berakal, paling bijak, dan paling sem-purna pengetahuannya dibandingkan manusia yang lain, sehingga keberada-an dirinya sendiri bisa menjadi bukti kebenaran risalah yang ia sampaikan.
Apabila keempat sifat ini berkumpul dalam diri seorang manusia yang mengklaim dirinya seorang rasul Allah, disertai tanda-tanda kerasulan lainnya, tanpa ada hal yang mencegah klaimnya, maka hal itu dapat menjadi bukti dan dalil kebenaran pengakuannya. Ketika tidak ada alasan untuk mendustakan kejujuran seseorang yang terkenal jujur, tidak ada penjelasan bagi komitmennya yang kuat, kecuali ketundukannya kepada Allah swt. Bertahannya sang penyampai risalah dalam bertablig, meskipun banyak faktor yang mendorongnya untuk mundur, yang membuktikan keikhlasannya pada dakwah yang ia bawa, dan pada Tuhan yang ia junjung risalah-Nya, serta adanya dakwah yang disertai hujjah yang sempurna berikut pembawa dakwah yang mampu memberikan bukti kebenaran dakwah tersebut dalam segala seginya, menjadi bukti kebenaran dakwah dan risalah tersebut.
Dalam sub bab ini kita akan mendapati bahwa Rasulullah saw. adalah teladan yang utama dalam semua sifat-sifat ini. Anda tidak dapat mempelajari satu sifat dalam diri beliau kecuali mengakui bahwa pemiliknya adalah benar-benar seorang rasul Allah. Kita akan mempelajari sifat-sifat ini sesuai dengan urutan yang telah tersebut.
1. Kejujuran Rasulullah
Metode kami dalam menampilkan sifat ini adalah dengan mendatangkan kesaksian-kesaksian atas kejujuran Rasulullah saw.. Kesaksian ini sebagai berikut
a. Kesaksian musuh-musuh Rasulullah.
b. Kesaksian para pengikut Rasulullah.
c. Kesaksian realitas yang mencakup empat hal: pemberian kabar, berjanji dan membuat perjanjian, canda, serta dalam nubuat
a. Kesaksian Musuh-Musuh Rasulullah
Kesaksian musuh-musuh beliau mempunyai nilai yang besar. Hal itu menunjukkan pada puncak kepercayaan masyarakat terhadap pribadi Rasulullah saw. Hanya saja, sebagian manusia dikuasai kebodohan dan keangkuhannya, sehingga mereka mengingkari hal itu tanpa alasan yang jelas. Nash-nash di bawah ini meyakinkan Anda apa yang kami sampaikan.
Al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Mughirah bin Syu’bah berkata, “Hari pertama aku mengenal Rasulullah saw. adalah tatkala aku dan Abu Jahal berjalan-jalan di sebuah lorong Mekah, tiba-tiba kami bertemu Rasulullah saw. Selanjutriya,beliau menyeru Abu Jahal, ‘Wahai Abu Hakam, marilahberiman kepada Allah dan rasul-
Nya. Aku mengajakmu kepada Allah.’ Abu Jahal menjawab, ‘Hai Muhammad, tidakkah kamu berhenti mencela tuhan-tuhan kami? Tidakkah yang kamu inginkan adalah agar kami bersaksi bahwa kamu telah menyampaikan risalah? Baiklah kami bersaksi bahwa kamu telah menyampaikan. Demi Allah, seandainya
aku tahu apa yang kamu sampaikan itu benar, tentu aku mengikuti kamu.’ Rasulullah saw lantas berlalu, sementara Abu Jahal menghadap padaku, sambil berkata, ‘Demi Allah, sebenarnya aku tahu apa yang ia katakan adalah benar, tapi ada sesuatu yang mencegahku, yaitu bani Qushayy pernah mengatakan, ‘Pada kami kekuasaan menjaga ka bah (hijabah)’ Kami menjawab, Ya.’ Lalu mereka berkata, ‘Pada kami kekuasaan memberi minum haji (siqayah).’ Kami menjawab, Ya.’ Lalu mereka berkata, Pada kami kekuasaan memimpin rapat (nadwah).’ Kami menjawab, Ya.’ Kemudian mereka berkata, ‘Pada kami kekuasaan memimpin perang Qiwa ).’ Kami menjawab, Ya.’ Setelah itu, mereka memberi makan kendaraan mereka dan kami memberi makan kendaraan kami, hingga tatakala kendaraan siap dan berdekatan mereka mengatakan, ‘Dari kami seorang nabi.’ Maka, demi Allah, aku tidak menjawabnya.’” Ibnu Abi Syaibah juga mengeluarkan riwayat semisal ini. At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ali r.a., “Abu Jahal berkata pada Nabi saw, ‘Kami tidak mendustakanmu, tetapi mendustakan apa yang kamu bawa.’” Allah swt berfirman, “... mereka sebenarnya bukanlah mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allahlah.” (QS. Al-An’aam: 33)
Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa Mu’awiyyah r.a. bercerita, “Abu Sufyan keluar menuju tanah lapang miliknya, mengiringi Hindun. Aku ikut keluar berjalan didepan mereka. Saat itu aku masih seorang bocah dan aku menunggang keledaiku. Tiba-tiba kami mendengar kehadiran Rasulullah saw. Maka Abu Sufyan berkata,
Turunlah, hai Mu’awiyah supaya Muhammad menaiki kendaraanmu!’ Aku langsung turun dari keledaiku dan Rasulullah saw. menaikinya, beliau berjalan di depan kami sebentar menoleh kepada kami dan bersabda, Wahai Abu Sufyan bin Harb dan Hindun binti Utbah! Demi Allah, sungguh kalian pasti mati, kemudian pasti dibangkitkan, lalu yang berbuat kebajikan pasti masuk surga dan yang berbuat keburukan pasti masuk neraka. Aku berkata pada kalian dengan benar, dan kalian sungguh orang yang pertama aku beri peringatan.’ Kemudian Rasulullah saw membaca, ‘Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan yang Maka Pemurah lagi Maka Penyayang...’ hingga ‘... keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka hati.’ (Fushshilat: 1-11)
Abu Sufyan lalu berkata kepada beliau, ‘Apakah engkau sudah selesai, wahai Muhammad?’ Beliau menjawab, Ya.’ Rasulullah saw. turun dari keledai lantas aku menaikinya. Lalu Hindun menghadap Abu Sufyan seraya berkata, ‘Apakah untuk tukang sihir ini kau turunkan anakku?’ Tidak, demi Allah ia bukan tukang sihir dan bukan pembohong,’ jawab Abu Sufyan.’” Hadits ini dikeluarkan juga oleh Thabrani.
Imam Bukhari dan Muslim juga menceritakan kisah Abu Sufyan di hadapan Heraklius-sebagaimana diceritakan Abu Sufyan sendiri pada Ibnu Abbas. Diantaranya adalah pertanyaan Heraklius pada Abu Sufyan, “Heraklius bertanya, ‘Apakah kalian menuduhnya berbuat dusta sebelum ia mendakwahkan ajarannya?’ Aku jawab, Tidak.’” Di akhir kisah itu, Heraklius berkata pada Abu Sufyan, “Aku tanyakan pada kalian apakah kalian menuduhnya berdusta sebelum ia mendakwahkan ajarannya, kalian jawab tidak. Maka aku segera tahu bahwa ia tidak mungkin meninggalkan dusta pada manusia untuk kemudian berdusta pada Allah swt.”
Imam Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., ia mengatakan, “Ketika turun firman, ‘Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.’
(asy-Syu’araa : 214)
Rasulullah saw. langsung naik ke bukit Shafa dan memanggil-manggil, Wahai bani Fahr, wahai bani Adi,’ kepada pemuka-pemuka Quraisy hingga mereka berkumpul dan beliau bersabda, ‘Jawablah, seandainya aku beri kabar bahwa ada pasukan kuda di balik lembah itu ingin menyerang kalian, apakah kalian percaya pada ucapanku?’ Mereka menjawab, Ya, kami tidak pernah menjumpaimu berdusta. Hanya kejujuran dan kebenaran perkataanmu yang selama ini kami tahu.’ Beliau melanjutkan, ‘Sesungguhnya aku pemberi peringatan pada kalian, di antara kedua tanganku terdapat siksa yang pedih.’ Abu Lahab langsung menimpali, ‘Celaka kau, hai Muhammad! Apakah untuk ini kau kumpulkan kami.’ Maka turunlah ayat, ‘Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa.’ (al-Lahab: 1)
Dari nash-nash ini jelaslah bagi Anda bahwa kepercayaan pada kejujuran Muhammad saw. nyata adanya, dan tidak ada keraguan dalam masalah ini sama sekali. Inilah yang menjelaskan kita pada hal-hal berikut
1. Adanya orang-orang yang sebelumnya memerangi beliau, kemudian percaya dan beriman kepada beliau, satu per satu, taat tanpa paksaan, seperti Khalid ibnul Walid, Amru ibnul Ash, dan Umar ibnul Khaththab. Hal itu tak lain karena mereka tidak ragu bahwa Muhammad saw. adalah orangyang jujur dan benar
(skadiq), hanya saja mereka dikejutkan oleh sesuatu yang belum pernah mereka dengar, juga bapak-bapak mereka, sehingga mereka mengingkarinya. Ketika keterkejutan itu hilang dan mereka memakai akal pikirannyayang jernih, bertemulah kebenaran pikiran dengan kepercayaan dasar pada pribadi Muhammad
saw., dan lahirlah keimanan.
2. Tampaknya keikhlasan kepada beliau, dalam diri orang-orang yang sebelumnya kafir dan kemudian beriman. Di antara mereka ada yang baru beriman pada masa-masa akhir kehidupan Rasulullah, setelah mereka tertakluk-kan oleh pasukan Islam, seperti orang-orang Quraisy lainnya. Mereka akhir-nya menyerah pada Islam, setelah sebelumnya ada perasaan membangkang, dengki, ragu, dan syahwaty ang mencegah mereka untuk itu. Ketika mereka masuk Islam karena tunduk pada kenyataan, mereka ikhlas dan setia pada Rasulullah saw. dengan keikhlasan yang sempurna. Mereka pun berjuang mati-matian di jalan Islam setelah penutup kebenaran hilang dari mata mereka. Setelah itu, tampaklah di mata dan hati mereka bahwa Muhammad saw. adalah saudara dan putra yang mulia. Pengetahuan dan kepercayaan mereka pada pribadi beliau adalah dasar pertama yang membuat mereka ikhlas menempuh jalan baru mereka (yaitu Islam), yang mereka lalui dengan kebahagiaan.
Inilah kesaksian musuh-musuh Rasulullah saw. Sebagian mereka masuk Islam setelah mengadakan permusuhan sengit, dan sebagian lagi mati dalam kekafirannya. Akan tetapi, dalam permusuhan paling sengit sekalipun, semua mengakui dan meyakini bahwa Muhammad saw adalah orang yang jujur.
b. Kesaksian Para Pengikut Rasulullah
Kami paparkan kesaksian para sahabat dan pengikut Rasulullah saw. sebagai berikut :
Rasulullah saw. senantiasa bergaul dan hidup bersama para sahabatnya dalam segala hal; makan, minum, bepergian, shalat, dan dalam pertemuan-per-temuan (majelis). Beliau menyukai kesederhanaan dan keterusterangan, serta membenci sesuatu yang dibuat-buat dan dipaksa-paksakan (takallufi. Sebagian sahabat
menemani beliau sebelum dan setelah kenabian selama puluhan tahun.
Para sahabat bukanlah orang-orang yang bodoh dan terbelakang serta terasing dari perkembangan dunia. Bahkan, sebagian mereka berasal dari Mekah, yang menjadi tujuan bangsa Arab untuk berhaji setiap tahun, dan seluruh Jazirah Arab tunduk kepada penduduknya karena keutamaan dan kepemimpinannya, mereka biasa bepergian untuk melakukan hubungan dagang dengan Yaman dan Syam yang merupakan pusat peradaban saat itu. Sebagian lagi berasal dari Madinah, di mana terjadi kontak pemikiran dengan bangsa Yahudi yang menye-babkan mereka berwawasan luas dan terbuka hatinya.
Para sahabat juga telah membuktikan, di masa hidup Rasulullah saw. dan setelah wafatnya, mereka adalah manusia paling cemerlang akal pikirannya, paling kaya taktik dan pengalamannya, serta paling banyak mengetahui tokoh, suku, dan politik bangsa-bangsa di dunia saatitu. Dengan bukti, meski dengan keterbatasan
sarana, mereka berhasil membuka sebagian besar negara-negara berperadaban waktu itu. Mereka juga berhasil mengaturnya, mendapatkan kecintaan dari pen- duduknya, serta menggabungkannya ke dalam rengkuhan umat Islam.
Jika dua sisi ini bertemu, yakni pergaulan yang intens dan kecerdasan orang yang digauli, maka kedustaan tidak mungkin disembunyikan dan akan terbuka serta kejujuran akan tampak terang.
Ada fenomena yang jelas dalam kehidupan para sahabat, yaitu semakin bertambah intensitas pergaulan mereka dengan Rasulullah saw., maka semakin kuatlah keimanan mereka pada beliau. Bahkan, orang yang paling banyak bergaul dengan Rasulullah saw. yang paling tinggi keimanan dan ketaatannya pada beliau. Keimanan ini sampai pada satu tingkatan bahwa mati untuk apa yang diinginkan Rasulullah saw. lebih mereka cintai daripada hidup. Menginfakkan harta lebih mereka sukai daripada menyimpannya Taat lebih mereka cintai daripada maksiat Agama Rasulullah saw. lebih mereka cintai daripada harta, anak, tempat tinggal, istri, dan tanah air. Ini semua adalah bagian dari fenomena adanya rasa percaya dan keimanan yang sempurna pada beliau, kalaulah tidak ada rasa percaya tentu ini semua tidak akan ada Sampai-sampai, di antara mereka ada seorang anak ingin membunuh ayahnya yang kafir dan seorang ayah ingin membunuh anaknya yang kafir. Untuk apa ini semua mereka lakukan? Kalaulah bukan karena puncak keimanan dan kepercayaan mereka pada Rasulullah saw.
Berikut ini adalah contoh-contoh yang pada hakikatnya merupakan dampak positif dari kepercayaan dan keimanan yang sempurna, sekaligus merupakan bukti nyata atas keimanan itu. Dalam setiap contoh terdapat kesaksian dari pemiliknya, setelah ia membuktikan sendiri bahwa Rasulullah saw. adalah orang yang jujur
tak diragukan lagi.
1. Al-Hafizh Abu Hasan ath-Thayalisi meriwayatkan bahwa Aisyah r.a. berkata, “Ketika para sahabat Nabi saw. berkumpul-mereka berjumlah 38 orang- Abu Bakar mendesak Rasulullah saw. untuk berdakwah secara terang-terangan. Rasulullah saw. berkata, Wahai Abu Bakar, jumlah kita masih sedikit. Tetapi Abu Bakar terus mendesak hingga akhirnya Rasulullah saw. berdakwah terang- terangan. Kaum muslimin ikut berdakwah dan berpencar dalam sisi-sisi masjid. Setiap orang bersama kelompoknya. Abu Bakar berdiri menyam-paikan khotbah, sedangkan Rasulullah saw duduk. Jadi, Abu Bakar adalah khatib pertama yang mengajak beriman kepada Allah dan rasul-Nya.
Kaum musyrikin segera bereaksi. Mereka marah kepada Abu Bakar dan orang-orang Islam. Mereka memukuli orang-orang Islam di semua sisi masjid dengan keras, menginjak-injak Abu Bakar dan menganiayanya dengan sadis. Si Fasik Utbah bin Rabi’ah mendekati Abu Bakar dan me-mukulnya dengan dua sandalnya yang kasar serta menamparkannya pada muka Abu Bakar. Ia melompat di perut dan tubuh Abu Bakar sampai tidak bisa dikenali lagi bentuk mukanya.
Sejurus kemudian, datanglah bani Taim menyerang kaum musyrikin dan melepaskan Abu Bakar. Bani Taim menggotong Abu Bakar dalam kain dan membawanya ke dalam rumahnya. Mereka tidak meragukan lagi kematian-nya. Lalu, bani Taim kembali masuk ke masjid dan berkata, ‘Demi Allah, jika Abu Bakar mati maka akan kami bunuh Utbah bin Rabiah!’ Lalu, mereka kembali ke rumah Abu Bakar. Abu Quhafah dan bani Taim mengajak bicara Abu Bakar sampai ia bisa menjawab, akhirnya ia bisa berbicara pada petang hari dan berkata, ‘Apa yang terjadi pada Rasulullah?’ Mereka langsung men-cela Abu Bakar dengan perkataan serta menghinanya, lalu mereka berdiri dan berkata pada Ummu Khair, ‘Iihatlah, dan beri ia makan atau minum.’ Ketika Ummu Khair hanya berdua dengan Abu Bakar, ia memaksanya untuk berbicara dan berkatalah Abu Bakar, ‘Apa yang terjadi pada Rasulullah?’ Ummu Khair menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan sahabatmu.’ Dia berkata, ‘Pergilah ke Ummu Jamil binti Khathab dan tanya-kan padanya tentang beliau.’ Segera Ummu Khair pergi menjumpai Ummu Jamil, dan mengatakan, ‘Abu Bakar menanyakan padamu tentang Muhammad bin Abdillah.’ Ummu Jamil menjawab,
‘Aku tidak tahu Abu Bakar juga Muhammad bin Abdillah, bolehkah aku ikut denganmu menemui anakmu?’ Ya,’ jawabnya.
Berjalanlah Ummu Jamil bersama Ummu Khair menjumpai Abu Bakar yang sakit parah. Ummi Jamil mendekatinya, dan berkata dengan suara keras, ‘Demi Allah, sungguh, orang-orang yang memperlakukanmu seperti ini adalah benar-benar fasik dan kufur, aku mengharap dari Allah agar membalaskan untukmu perbuatan mereka.’ Abu Bakar bertanya, ‘Apa yang terjadi pada Rasulullah?’ Ummu Jamil berkata, ‘Ini ada ibumu, ia mendengar.’ Abu Bakar menjawab, ‘la tidak berbahaya bagimu.’ Ummu Jamil lalu mengabarkan, ‘Rasulullah sehat dan baik.’ Di mana beliau?’ tanya Abu Bakar. ‘Di rumah Ibnu Arqam,’ jawab Ummu Jamil. Abu Bakar lalu berkata, ‘Aku bersumpah untuk Allah, aku tidak makan dan minum kalau tidak menemui Rasulullah.’ Keduanya menahan Abu Bakar, sampai keadaan sepi dan manusia tenang, mereka memapahnya keluar hingga memasukkannya menemui Rasulullah saw..
Aisyah r.a. berkata, ‘Rasulullah langsung merangkulnya dan menciumnya, hal itu diikuti kaum muslimin. Rasulullah sangatterharu padanya.’ Abu Bakar berkata, ‘Demi bapak dan ibuku, wahai Rasulullah, aku tidak tertimpa apa-apa kecuali apa yang ditimpakan orang fasik itu pada mukaku. Ini ibuku sangat baik pada
putranya, dan engkau adalah orang yang diberkahi maka ajaklah ia beriman kepada Allah dan doakanlah pada Allah untuknya, semoga dengan doamu Allah menyelamatkan dia dari neraka.’ Kemudian Rasulullah saw. mengajaknya beriman kepada Allah dan ia pun masuk Islam.”
2. Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Ibnu Umar r.a. berkata, “Ketika Umar r.a. masuk Islam, ia mengatakan, ‘Siapakah orang Quraisy yang paling masyhur menukil perkataan?’ Dikatakan kepadanya, ‘Jamilbin Mamar al-Jahmi.’ Maka ia pergi menemui Jamil. Abdullah bin Umar berkata, ‘Aku juga pergi mengikuti jejaknya dan ingin melihat apa yang ia perbuat—saat itu aku anak lelaki yang sudah memahami segala yang aku lihat hingga ia sampai menemui Jamil, lalu Umar berkata padanya, ‘Apakah kautahu wahai Jamil bahwa aku telah Islam dan masuk agama Muhammad saw.?’ Abdullah berkata, ‘Demi Allah, Jamil tidak menjawabnya, segera ia berdiri mengulurkan serbannya dan beranjak pergi diikuti Umar, aku pun mengikuti mereka.’ Ketika sampai di pintu masjid, Jamil berteriak sekeras-kerasnya, Wahai segenap Quraisy-saatitu merekasedangberkumpul di
sekitar Ka’bah-, ketahuilah, Ibnul Khaththab telah murtad!’ Umar langsung menyahut, ‘la bohong, aku tidak murtad, tetapi aku telah masuk Islam dan aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah.’ Mereka langsung bangkit menyerangnya dan terus menyerangnya. Hingga ketika matahari tegak di atas kepala mereka, Umar berkata, ‘Aduh, tak kuat lagi.’ Lalu ia duduk dan mereka berdiri di atas kepalanya. Umar menantang mereka, ‘Lakukan apa yang kalian kehendaki, aku bersumpah jika kami ada tiga ratus orang, maka sungguh, (yang akan terjadi adalah adakalanya) kami yang kalah dan kami tinggalkan Ka’bah untuk kalian atau kalian yang kalah dan meninggalkan Ka’bah untuk kami.’
Abdullah berkata, Tatkala mereka dalam keadaan seperti itu, datanglah seorang lelaki tua dari Quraisy memakai jubah hitam dan pakaian berbordir, ia berhenti di depan mereka dan bertanya, ‘Ada apa dengan kalian ini?’ Mereka menjawab, ‘Umar berpindah agama.’ Ia berkata, ‘Lepaskan ia, apa yang kalian inginkan dari orang yang memilih suatu perkara untuk dirinya sendiri? Apakah kalian kira bani Adiy akan menyerahkan saudaranya pada kalian seperti ini? Tinggalkan saja orang itu.’ Abdullah berkata, ‘Demi Allah, mereka langsung melepaskan Umar seperti pakaian yang terlepas dari Umar.’ Ia berkata, ‘Aku berkata pada ayahku-
setelah hijrah ke Madinah-’Wahai ayah! Siapakah yang menghardik orang-orang kafir dan membebas-kanmu saat engkau masuk Islam dan mereka menyerangmu?’ Beliau menjawab, ‘Itu, wahai anakku, Ash bin Wail Sahmiy.’” Riwayat ini isnadnya baik dan kuat-demikian dalam kitab al-Bidayah.
3. Bukhari meriwayatkan dalam kitab at-Tarikh bahwa Mas’ud bin Khurasy r.a berkata, Tatkala kami berputar antara Shafa dan Marwa, tiba-tiba ada orang ramai-ramai mengikuti seorang pemuda yang tangannya diikat pada lehernya. Aku bertanya, ‘Ada apa dengannya?’ Mereka menjawab, ‘Itu adalah Thalhah bin Ubaidillah, ia telah murtad.’ Seorang wanita di belakangnya marah-marah dan memaki-makinya. Aku bertanya, ‘Siapakah ia?’ Mereka menjawab, ‘Shu’bah binti Hadhrami, ibunya.’
4. Baihaqi, Ibnu Sa’id, Hants, Ibnu Mundzir, Ibnu Asakir, dan Ibnu Abil Hatim meriwayatkan bahwa Sa’ad bin Musayyab r.a. berkata, “Saat Shuhaib r.a. hijrah menghadap Nabi saw., ia diikuti segerombolan musyrik Quraisy, segera ia turun dari kudanya dan memasang busurnya lantas berkata, ‘Kalian telah tahu, hai orang-orang Quraisy, aku adalah orang yang paling jitu memakai panah. Demi Allah, kalian tidak akan sampai menyentuhku, sebab akan aku bidik kalian dengan seluruh anak panah dalam busurku, lalu akan aku tebas kalian dengan pedangku selama ia ada dalam genggamanku. Setelah itu terserah kalian, jika kalian mau aku tunjukkan untuk kalian hartaku di Mekah dan biarkanlah aku berjalan.’ Mereka menjawab, Ya.’ Mereka berjanji untuk itu. Shuhaib pun menunjukkan hartanya pada mereka. Ketika itu Allah menurunkan pada Rasul-Nya ayat Al-Qur an, ‘Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah.’ (al-Baqarah: 207) sampai akhir ayat Ketika Nabi saw. bertemu Shuhaib, beliau bersabda, ‘Perniagaanmu telah untung wahai Abu Yahya, perniagaanmu telah untung wahai Abu Yahya!’ Dan, beliau membacakan padanya ayat Al-Qur an itu.”
5. Hakim meriwayatkan dari Sulaiman bin Bilal r.a., “Ketika Rasulullah berangkat menuju Badar, Sa’ad bin Khaitsimah dan ayahnya ingin berangkat bersama beliau. Hal itu disampaikan pada Nabi saw., namun beliau meme-rintahkan agar yang ikut berperang salah satunya saja. Mengetahui hal itu, keduanya menjadi bingung. Khutsaimah bin Harits lalu berkata pada anak-nya yaitu Sa’ad, ‘Salah seorang di antara kita harus ada yang tinggal, maka tinggallah kau bersama istrimu.’ Sa’ad menjawab, ‘Seandainya selain surga tentu aku mengalah dan memberikannya padamu, aku mengharap mati syahid sebentar lagi.’ Akhirnya mereka berdua mengundi dengan anak panah, dan keluarlah anak panah Sa’ad. Maka keluarlah Sa’ad bersama Rasulullah saw. menuju Badar. Ia syahid dibunuh Amru bin Abdu Wudd.’” Hadits ini dikeluarkan juga oleh Ibnu Mubarak dari Sulaiman dan Musa bin Uqbah dari Zuhri, sebagaimana tertera dalam kitab al-Ishabah.
6. Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Umar r.a., “Saat Perang Uhud, Umar ibnul Khaththab r.a. berkata pada saudaranya, ‘Pakailahlah baju besiku, wahai Saudaraku!’ Saudaranya menjawab, ‘Aku ingin mati syahid sebagaimana engkau menginginkannya.’ Keduanya meninggalkan baju besi itu.” Haitsami berkata
bahwa rijalnya sahih.
7. Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Qasim bin Abdurrahman bin Rafi’ saudara bani Adi bin Najjar berkata, “Anas bin Nadhar-paman Anas bin Malik-(di tengah berkecamuknya Perang Uhud) bertemu Umar ibnul Khaththab dan Thalhah bin Ubaidillah yang berada di tengah orang-orang Muhajirin dan Anshar radhiyallahu
‘annum yang saat itu telah membuang senjata yang ada di tangan mereka. Ia bertanya, ‘Apa yang membuat kalian duduk?’ Mereka menjawab, ‘RasuluUah telah terbunuh.’ Ia berkata, ‘Apa yang kalian perbuat dengan hidup setelah kematiannya? Bangkitiah, dan matilah seperti matinya Rasulullah.’ Kemudian ia menyongsong kaum kafir, dan bertarung sampai terbunuh.”
8. Hakim menwayatkan bahwa Zaid bin Tsabit r.a. berkata, “Saat Perang Uhud Rasulullah mengutusku untuk mencari Sa’ad bin Rabi’ r.a. dan beliau berkata padaku, ‘Jika kau melihatnya bacakan padanya salam dariku, dan katakan padanya bahwa Rasulullah mengatakan kepadamu, bagaimana kau men-dapati dirimu?’ Zaid berkata, ‘Aku mulai berkeliling di antara orang-orang yang terbunuh dan aku temukan Sa’ad bin Rabi’ sedang berada di peng-habisan napasnya, terdapat tujuh puluh luka berupa tusukan tombak, sabetan pedang, dan
bidikan panah pada tubuhnya.’ Aku katakan padanya, Wahai Sa’ad, Rasulullah mengucapkan salam untukmu dan mengatakan kepadamu, kabarkan kepadaku bagaimana kau mendapati dirimu?’ Ia menjawab, ‘Salam bagi Rasulullah dan salam bagimu, katakan pada beliau, Wahai Rasulullah aku mendapati diriku mencium bau surga, dan katakan pada kaumku Anshar, jika kalian ikhlas pada Rasulullah saw. dan masih ada satu jengkal untuk membelanya, maka tidak ada uzur bagi kalian di sisi Allah (untuk tidak membela Allah dan Rasul-Nya).’ Ia berkata, ‘Kemudian wafatlah ia rahimahullah.’” Hakim berkomentar, hadits ini isnadnya sahih, dan keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengeluarkannya. Adz-Dzahabi berkata, Sahih.”
Hakim meriwayatkannya melalui jalan Ibnu Ishaq, “Abdullah bin Abdurrahman bin Abi Sha’sha’ah menceritakan dari ayahnya bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Siapa yang melihat untukku apa yang terjadi pada Sa’ad bin Rabi’ r.a.?’ - kemudian menuturkan hadits seperti di atas. Sa’ad berkata, ‘Kabarkan pada
Rasulullah saw. bahwa aku termasuk yang mati dan bacakan pada beliau salam dariku serta katakan pada beliau, semoga Allah membalas engkau dengan kebaikan, dari kami dan dari semua umatmu.’”
9. Al-Baihaqi meriwayatkan dari Malik bin Umair r.a., ia telah menemui masa jahiliah, ia berkata, “Seorang laki-laki datang pada Rasulullah dan berkata, ‘Aku berteinu musuh dan bertemu ayahku dalam gerombolan mereka, dan aku mendengar darinya perkataan kotor untukmu, aku tidak bisa sabar sampai akhirnya aku menusuknya dengan tombak (atau sampai aku bunuh dia).’ Mendengar itu, Nabi saw. diam saja. Kemudian, datang laki-laki lain dan berkata, ‘Aku bertemu ayahku, aku meninggalkannya, aku lebih suka orang selain aku yang menghadapinya.’ RasuluUah saw. tetap diam.” Al-Baihaqi berkata, “Ini adalah hadits mursal yang baik.”
10. Al-Bazzar meriwayatkan bahwa Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah saw. melewati Abdullah bin Ubay yang sedang berada di bawah tembok benteng dan berkata, ‘Ibnu Abi Kabsyah melempar debu kepada kita.’ Seketika itu anaknya, Abdullah bin Abdullah bin Ubay r.a. berkata, Wahai Rasulullah, demi Zat yang memuliakanmu, jika engkau berkenan pasti aku datangkan kepalanya padamu?’ Beliau menjawab, ‘Jangan kamu lakukan itu, tetapi perlakukan ayahmu dengan baik dan temanilah dengan baik.’” Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh al- Barraz dan rijalnya dapat dipercaya.”
11. Ibnu Hisyam menyebutkan dari Abi Ubaidah dan dari para pakar tentang peperangan lainnya. Umar ibnul Khathab r.a. mendekati Sa’id ibnul Ash r.a. dan berkata padanya, “Kurasa, kamu mengira aku telah membunuh ayahmu. Seandainya pun aku membunuhnya, aku tidak akan meminta maaf padamu karena aku telah membunuhnya. Aku hanya membunuh pamanku, Ash bin Hisyam bin Mughirah. Sedangkan bapakmu, aku temukan dia sedang me lampiaskan marahnya, aku menghalanginya, lalu datanglah anak pamannya menyerangnya mendahuluiku dan membunuhnya.” Riwayat seperti ini ada dalam al-Bidayah, dan ditambahkan dalam kitab al-lsthab dan al-Ishabah, “Lalu Sa’id ibnul Ash berkata padanya, ‘Seandainya kaubunuh dia, kamu benar dan aku yang salah.’ Umar langsung takjub mendengar ucapannya itu.”
12. Ibnu Sa’id meriwayatkan dari Zuhri, ia berkata, “Ketika Abu Sufyan bin Harb datang ke Madinah, ia menemui Rasulullah saw., saat itu beliau hendak menyerang Mekah. Abu Sufyan minta agar Rasulullah saw. memperpanjang dan menambah isi Perjanjian Hudaibiyah, tetapi Rasulullah saw. sama sekali tidak menerimanya. Abu Sufyan lalu beranjak dan masuk ke rumah putrinya, Ummu Habibah r.a. Ketika ia hendak duduk di kasur Rasulullah saw, Ummu Habibah melipatnya. Ia berkata, ‘Hai putriku, apakah karena kasur ini kau membenciku ataukah membenciku karenanya?’ Dia menjawab, ‘Karena kasur itu adalah kasur Rasulullah dan engkau orang yang najis dan musyrik!’ Abu Sufyan membalas berkata, ‘Hai putriku, kamu telah ditimpa kejelekan setelah meninggalkanku.’” Ibnu Ishaq menyebutkan riwayat seperti ini tanpa isnad, sebagaimana dalam al-Bidayah dan menambahkan, “Aku tidak suka kau duduk pada kasurnya.”
13. Thabrani meriwayatkan bahwa Anas bin Malik r.a. berkata, “Ketika Perang Uhud, penduduk Madinah membentuklingkaran. Mereka berkata, ‘Muhammad telah terbunuh!’ Sehingga menggemalah teriakan-teriakan dari arah Madinah. Maka keluarlah seorang wanita dari Anshar dan mendapati bapaknya, anaknya, dan saudaranya-telah mati semua-aku tidak tahu mana yang ia temui lebih dulu. Setiap kali ia bertemu seorang di antara mereka, wanita itu bertanya, ‘Siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Bapakmu, saudaramu, anakmu.’ Ia malah bertanya, ‘Apa yang terjadi dengan Rasulullah saw.?’ Para sahabat menjawab, ‘Beliau ada di depanmu.’ Hingga akhirnya ia tiba di hadapan Rasulullah saw dan memegangi ujung pakaian beliau seraya berkata, ‘Demi bapakku, engkau dan ibuku, wahai Rasulullah, aku tidak peduli (apa pun yang menimpa pada keluargaku) asal engkau selamat dari kecelakaan.’”Nash-nash ini menjelaskan seberapa jauh keimanan para sahabat dan peng-ikut yang selalu menyertai Rasulullah saw.. Sekaligus menunjukkan betapa kepercayaan mereka pada Rasulullah saw. sangatlah kuat tiada bandingnya.
c. Kesaksian Realitas
Kesaksian realitas adalah kesaksian paling tinggi dan kuat karena melalui realitas manusia bisa mencapai keyakinan yang tidak bercampur keraguan. Silakan mengadakan kajian yang rinci terhadap segala sesuatu yang datangnya dari Rasulullah saw, baik perkataan maupun perbuatan. Jika akhimyayang ia temukan dalam semua perkataan dan perbuatan beliau hanyalah kebenaran dan kejujuran, serta tidak keluar sedikit pun darinya, maka di hadapan manusia hanya ada satu jalan, yaitu mempercayai dan membenarkan beliau.
Akan bisa dapati dalam bab kedua, kajian yang sempurna pada Al-Qur’an men- jelaskan pada Anda bahwa semua kandungan Al-Qur’an adalah benar, nyata, dan berasal dari Allah swt. Akan kita dapati dalam bab ketiga-insya Allah-bahwa pengujian yang sempurna pada nubuat-nubuat beliau menunjukkan pada Anda bahwa masa depan adalah penyingkap, pembenar, dan penguat nubuat tersebut. Kami akan menukilkan beberapa contoh dari canda dan gurau beliau. Akan kita dapati bahwa hal itu tidak keluar dari kebenaran dan kejujuran. Juga contoh janji beliau, betapa beliau selalu menepatinya dengan benar. Juga, contoh beberapa hadits beliau, yang manusia bisa mengetahui kejujuran dan kebenaran beliau melalui penelitian dan pengujian. Kita akan mendapati suatu keajaiban, yaitu adanya kesesuaian antara apa yang diketahui manusia zaman sekarang setelah melakukan hipotesa dan penelitian dengan apa yang diucapkan Rasulullah saw. beberapa abad yang silam. Kami akan menutup bagian ini dengan catatan penting bahwa satu-satunya sumber yang dapat kita ambil untuk mengetahui hal-hal yang gaib dengan pasti adalah Rasulullah saw, dan sabda beliau adalah dalil melebihi dalil lainnya, disertai pembahasan beberapa persoalan yang berkaitan dengan masalah ini.
Diposting oleh
NUY CORNER
komentar (0)
Oleh : Sa'id Hawwa
A. FISIK RASULULLAH
Saat seseorang memandang fisik Rasulullah saw., ia segera merasakan bahwa ia sedang berada di depan keindahan yang meng-agumkan dan tak ada duanya. Penampilan yang mencerminkan ke-percayaan yang mutlak dan tak terbatas. Berikut ini adalah pendapat yang disepakati oleh mereka yang bertemu dan melihat langsung Rasulullah saw.
Ad-Darimi dan al-Baihaqi mentakhrij bahwa Jabir bin Samurah berkata, “Aku melihat Nabi saw. pada malam bulan purnama, dan ketika aku bandingkan antara wajah Nabi saw. dan indahnya bulan, say a dapati wajah Nabi saw. lebih indah dibandingkan rembulan.”
At-Tirmidzi dan al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Abu Hurairah r.a. berkata, “Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah dari Rasulullah saw.. Seakan-akan mentari bersinar dari wajah beliau. Aku tidak pernah dapati seseorang yang lebih cepat jalannya dibandingkan beliau, seakan-akan bumi melipat sendiri tubuhnya saat beliau berjalan. Ketika aku ikut berjihad, aku lihat beliau tidak pernah berlindung di balik
perisai.”
Bukhari-Muslim meriwayatkan bahwa al-Barra berkata, “Rasulullah saw. mempunyai pundak yang lebar, rambutnya mencapai ujung telinga, dan tidak pernah ada orangyang lebih indah dipandang dibandingkan beliau.”
Muslim meriwayatkan dari Abu Thufail bahwa ia pernah diminta untuk menceritakan tentang Rasulullah saw. kepada kami, kemudian ia menjawab, “Beliau memiliki wajah yang putih dan berseri.”
Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata, “Rasulullah saw. memiliki dua kaki yang kokoh dan tegap, dan wajah yang indah, yang belum pernah kutemukan wajah seindah itu sebelumnya.”
Abu Musa Madini meriwayatkan dalam kitab ashShahabah bahwa Amad bin Abad al- Hadhrami berkata, “Aku melihat Rasulullah saw., dan tidak pernah melihat wajah seindah itu sebelumnya maupun sesudahnya.”
Ad-Darimi meriwayatkan bahwa Ibnu Umar berkata, “Aku tidak pernah temukan orangyang lebih berani, dermawan, dan lebih bersinar wajahnya, dibandingkan Rasulullah saw..”
Ahmad dan Baihaqi meriwayatkan bahwa Mahrasy Kahti berkata, “Rasulullah saw. mengambil umrah dari jiranah, pada malam hari. Dan, ketika saya melihat bagian belakang tubuh beliau, say a seperti melihat perakyang menyala.”
Abdullah bin Imam Ahmad serta al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Ali r.a. berkata, “Rasulullah saw. bukanlah orang yang tubuhnya tinggi menjulang.Jika berjalan bersam rombongan, beliau tampak menonjol. Wajahnya putih, kepalanyabesar, alis matanya panjang dan hitam, danjika ada keringat yang menetes dari wajah beliau, akan tampak seperti mutiara. Aku tidak pernah melihat wajah seindah wajah beliau, sebelumnya atau setelahnya.”
Deskripsi tentang Rasulullah saw. yang diberikan oleh Hindun bin Abi Halah, “Tubuh Rasulullah saw. menampakkan pribadiyang agung. Wajahnya bersinar seperti bulan purnama. Kepalanya besar. Rambutnya keras. Kuliatnya putih ke-merahan. Keningnya luas. Alisnya tebal.Jika marah, keningnya meneteskan keringat. Hidungnya mancung. Tubuhnya diliputi cahaya. Orangyang tidak memperhatikan dengan saksama
menyangkanya amat tinggi.Jenggotnya tebal. Matanya hitam. Kedua pipinya tirus. Mulutnya lebar. Giginya indah. Memiliki bulu halus di atas perut. Lehernya amat halus. Tubuhnya sedang. Sedikit gemuk dan tegap, dengan perut dan dada yang seimbang. Dadanya bidang. Kedua pergelangan tangannya panjang. Telapak tangannya luas. Kedua kaki dan tangannya kekar. Jari-jarinya panjang. Jalannya tegap, seperti sedang turun dari ketinggian. Jika menoleh, dengan seluruh tubuhnya. Pandangannya selalu tertunduk he tanah, danjarang sekali mendongakkan matanya he langit....”
Jika Rasulullah menyentuh seseorang, orang itu akan merasakan ketenangan yang mengagumkan, dan perasaan ketinggian ruhani yang menakjubkan. Ahmad meriwayatkan bahwa Sa’d bin Abi Waqqash berkata, “Suatu ketika akujatuh sakit di Mekah. Kemudian Rasulullah saw. menjenguk, meietakkan tangan beliau di kening, dan mengusap wajah, dada, sertaperutku. Hingga saat ini, aku masih merasakan sentuhan tangan beliau dijantung.”
Muslim meriwayatkan bahwa Jabir bin Samurah berkata, “Suatu ketika Rasulullah saw. mengusap mukaku dengan tangannya. Aku dapati tangan beliau demikian sejuknya dan berbau wangi. Seakan-akan tangan tersebut baru dikeluarkan dari kantong kesturi.”
Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Anas r.a. berkata, “Aku belum pernah menemui sutra maupun beludru yang lebih lembut dari tangan Rasulullah saw. Dan, belum pernah mencium bau misik atau minyak anbar yang lebih harum dari Rasulullah saw..”
Penampilan beliau memberikan sugesti kepada orang yang melihatnya bahwa orang tersebut sedang berdiri di hadapan seorang nabi. At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Abdullah bin Salam berkata,
“Ketika Nabi saw. datang ke Madinah, aku menemui beliau. Ketika aku melihat wajah beliau, aku segera mengetahui bahwa wajah beliau bukan wajah seorang pendusta.”
Abu Ramtsah Tamimi berkata, “Aku mendatangi Nabi saw. bersama anakku. Ketika aku melihat beliau, hatiku langsung berkata, ‘Orang ini pastilah nabi Allah.’”
Abdullah bin Rawahah berkata tentang Rasulullah saw, “Seandainya tidak ada ayat-ayat penjelas pun, yang menerangkan beliau sebagai rasul, niscaya penampilan dan tubuh beliau sudah cukup menjadi keterangan itu.”
Ini adalah sebagian riwayatyang menjelaskan tentang tubuh Rasulullah saw.. Semua keagungan postur tubuh beliau itu kami ceritakan kembali, sehingga kita dapat menangkap dengan jelas kepribadian Rasulullah saw. dari segala seginya.
Diposting oleh
NUY CORNER
komentar (0)
Oleh : Sa'id Hawwa
SA’ID HAWWA adalah sosok ulama yang cukup vokal dalam menyuarakan kebenaran (al-Islam). Ulama yang hidup di Mesir ini telah banyak menghasilkan tulisan-tulisan keislaman yang sangat berkualitas dan dibutuhkan ummat. Pemikiran-pemikirannya senantiasa merujuk pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Namun, pemikiran-pemikirannya tidak lepas dari kontroversi dan kritikan (protes) dari mereka yang merasa berat untuk melaksanakan Islam secara total (kaffah) sebagaimana yang selalu ’diteriakkan’ oleh beliau.
Islam adalah agama para rasul dan nabi seluruhnya. Dari semenjak Nabi Adam hingga risalah Nabi Muhammad SAW, yang menjadi pamungkas risalah-risalah Allah. Islam inilah yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk dipeluk umat Islam sehingga urusan mereka menjadi baik, di dunia dan di akherat. Disini dipaparkan bahwa:
1. Islam adalah akidah yang tercerminkan dengan dua syahadat
dan rukun-rukun iman
2. Islam adalah ibadah yang tercerminakan dengan shalat, zakat, puasa dan
haji.
Kedua hal diatas merpakan rukun-rukun islam yang menjadi pondasi
3. Ada bangunan Islam yang berdiri di atas rukun-rukun ini. Yang tercerminkan dengan manhaj kehidupan dalam islam, yaitu manhaj politik, ekonomi, militter, akhlak, social, pendidikan dan seterusnya.
4. Islam mempunyai dukungan-dukungan yang merupakan jalan berdirinya yang tercerminkan dalam jihad, amar ma’ruf dan nahi munkar. Dan dukungan-dukungan ini selain dukungan rabbaniyah yang tercerminkan dalam sanksi fitrah, sanksi ilahi di dunia dan tercerminkan dalam syurga dan neraka di akhirat.
Antitesis Islam adalah kejahiliyahan. Tak ada sesuatupun bagian dari islam yang tidak memiliki antitesis. Hal itu merupakan jejak dari keterbatasan ilmu manusia, yang dikuasai hawa nafsu dan syahwatnya, sehingga ia melihat sesuatu ayng indah menjadi buruk dan yang buruk menjadi indah.
Islam adalah kesempurnaan secara total, sedangkan kejahiliyahan adalah kekurangan secara total.
Selam ia berakidah dengan seluruh islam, berarti dia muslim, selama ia mengikuti perbuatan buruk dengan tobat, maka ia akan mengarah kepada kebaikan. Sedangkan jika seseorang terus menjaslankan keburukan , maka ia kan menjadi orang fasik, namun ia tetap muslim. Seharusnya seorang muslim meninggalkan akhlak jahiliyah secara keseluruhan dan berperilaku dengan islam secara keseluruhan. Hal ini agar umat islam menjadi penampilan yang sempurna bagi system islami dan berusaha mengenyahkan system jahiliyah di dunia. Bukannya islam yang menjadi penyerang dan penghancur system jahiliyah, malah sebaliknya Islamlah yang menjadi yang diserang dan berusaha dilenyapkan oleh system jahiliyah. Alangkah banyaknya penyebar ajaran jahiliyah di tanah islma ini dan banyak juga kaum muslimin yang memenuhi ajakan itu, baik gerakan misionaris, komunis, filsafat liberalis, partai-partai politiknon islami, menjadi kaki tangan orang kafir dengan nama kemajuan dan memerangi kemunduran dan slogan-slogan semacam itu.
Keberhasilan mereka dibantu oleh kebodohan kaum muslimin dan berpindahnya kekuasaan politik kepada penjajah, pada pertama kali , kemudian ke tangan orang yang memberikan loyalitas pemikiran atau politik atau keduanya kepada para penjajah itu. Oleh akrena itu jadilah peperangan jahiliyah yang terprogram yang menggunakan perangkat propaganda yang canggih sehingga islam menjadi agama yang asing.
Dalam buku Al-Islam dituliskan secra lengkap lima bab berikut:
1. Rukun-rukun Islam
2. Sistem ( Manhaj ) social dan akhlak Islam
3. Negara, Unsur-unsurnya, politiknya dan perangkatnya
4. Kebijakan –kebijakan umum
5. Faktor penguat Islam
Dengan membaca buku ini, seorang mukallaf bias mengetahui bagaimana seorang individu muslim yang benar-benar muslim dan mengetahui bagaimana membuat perilakunya dalam kehidupan selurhnya menjadi islami. Ia mengetahui konsekuaensi perilaku ini, tahu penyimpangan yang diakibatnya dan setelah itu mengetahui beban hokum yang dibebankan oleh Allah SWT kepada hamba-hambaNya.
SEBAGAI TAMBAHAN
Dalam bukunya yang berjudul “Min Ajli Khuthwatin ila al-Amam’ala Thariqi al-Jihad al-Mubarak”, Sa’id Hawwa mengungkapkan ketentuan-ketentuan dalam Islam yang bersifat badihi (prinsipil), yaitu merupakan ketentuan yang sudah jelas nash-nya dan tidak diragukan lagi kebenarannya. Dan semua ummat Islam wajib menerima ketentuan atau konsepsi dalam Islam yang bersifat badihi tersebut. Menurut Sa’id Hawwa, ada sepuluh ketentuan yang bersifat badihi (prinsipil). Berikut ini ke-sepuluh prinsip tersebut yang diringkas dari buku “10 Aksioma tentang Islam” – terjemahan dari buku “Min Ajli Khuthwatin ila al-Amam’ala Thariqi al-Jihad al-Mubarak”.
Prinsip Pertama
Islam adalah satu-satunya sistem hidup yang dibebankan pada seluruh ummat manusia, di barat atau di timur, di utara atau di selatan, berkulit kuning, merah, putih atau hitam. Allah swt telah mengumumkan bahwa Dia tidak akan menerima sistem hidup (ad-Dien) selain Islam dengan firman-Nya:
”Sesungguhnya dien (sistem hidup) yang diridhai di sisi Allah ialah Islam.”(Qs.Ali Imran:19)
“Barangsiapa yang mencari dien (sistem hidup) selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (dien itu) darinya.” (Qs.Ali Imran:85)
Yang dimaksud dengan Islam adalah risalah yang diturunkan Allah swt melalui Nabi Muhammad saw. Risalah ini merupakan penutup seluruh risalah Allah swt, dan demikian risalah atau agama yang diturunkan Allah sebelumnya melalui para Nabi-Nya yang terdahulu tidak berlaku lagi. Karena itu seluruh manusia diwajibkan untuk memeluk Islam sampai Hari Kiamat. Barangsiapa yang tidak mengimani Islam, sedangkan seruan Islam telah sampai kepadanya, maka ia dianggap sebagai ahli neraka.
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak mendengar seseorang tentangku dari ummat ini, apakah ia Yahudi atau Nasrani, kemudian ia tidak beriman dengan apa yang diutus kepadaku melainkan ia akan tergolong dari ahli neraka.” (HR.Muslim)
Prinsip Kedua
Islam adalah satu-satunya jawaban yang benar dan bersih terhadap semua persoalan manusia. Ia mencakup seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi keyakinan, ibadat, syari’at dan syi’ar-syi’ar. Islam merupakan neraca dan satu-satunya tolok ukur untuk semua sisi kehidupan manusia. Dari Islamlah terefleksinya petunjuk yang benar dan lurus serta selamat dalam segala hal.
“Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (Qs.an-Nahl:89)
Al-Qur’an menerangkan segala persoalan, apakah melalui nash-nashnya atau melalui kesimpulan-kesimpulan yang tepat tentang nash-nash tersebut berdasarkan hadits, qiyas, ijma’ ulama, istihsan, istishab, istislah, ’urf, hukum-hukum yang diakui oleh akal, syara’ atau hukum adat menurut batas-batas yang dibenarkan oleh nash tersebut.
Prinsip Ketiga
Bila seseorang masuk Islam, berarti ia telah menyerah secara mutlak kepada Allah swt dalam semua persoalan yang mencakup semua aspek kehidupan, termasuk yang berhubungan dengan jiwa, akal, hati, ruh, perasaan, emosi, perbuatan, pemikiran, kepercayaan dan peribadatan. Termasuk dalam hal konstitusi dan undang-undang kehakiman. Di samping itu Islam berarti penolakan total terhadap seluruh bentuk penyekutuan dengan selain Allah. Allah swt berfirman:
“….Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus….” (Qs.al-Baqarah:256)
Prinsip Keempat
Dalam Islam pemikiran eksperimental merupakan salah satu fenomena proses pembentukan pribadi Muslim atau karakteristik Islam. Oleh karena itu segala sesuatu yang telah dicapai oleh akal yang sehat dan melalui proses percobaan adalah sesuatu yang dapat diterima dari sudut pandangan Islam dan diberi jaminan kepercayaan terhadap kesahannya. Rasulullah pernah bersabda:
“Hikmah (ilmu pengetahuan) itu merupakan hak orang Mu’min. Maka di mana saja ia jumpai, ia lebih berhak terhadapnya.”
Namun jika pemikiran-pemikiran eksperimental itu sudah tidak murni lagi, telah diwarnai oleh sistem hidup yang tidak Islami, maka kita berkewajiban untuk membersihkannya terlebih dahulu, dan mewarnainya dengan nilai-nilai Islam yang bersih, sebelum kita menggunakannya.
Prinsip Kelima
Islam adalah satu sistem yang sempurna dan lengkap, karena ia mencakup seluruh sistem politik, sosial, ekonomi dan moral. Oleh karena itu mengabaikan atau melupakan sebagian dari sistem Islam berarti menghalangi perjalanan seluruh sistem itu sendiri. Begitu juga menegakkan politik yang tidak berdasarkan pada pilar-pilar Islam merupakan satu kendala dan sekaligus tantangan terhadap Islam.
Seluruh sektor kehidupan kaum Muslimin harus selalu berlandaskan pada nilai-nilai dan syari’at Islam, ekonominya, politiknya, sosialnya, pendidikannya, militernya dan sektor-sektor lainnya. Tidak dibenarkan melaksanakan Islam secara parsial (tentunya selama kondisi dan kemampuan memungkinkannya).
“Apakah patut kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Maka tidak ada balasan bagi yang berbuat demikian dari kamu, kecuali kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka akan dikembalikan kepada siksa yang amat berat. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu perbuat.” (Qs.al-Baqarah:85)
“Barangsiapa yang tidak menghukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (Qs.al-Maidah:44)
Prinsip Keenam
Seluruh kaum Muslimin dibebani kewajiban menegakkan kalimatullah agar Islam menjadi satu-satunya Dien yang tegak di bumi ini. Allah berfirman:
“Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah dan kalimatullah itulah yang tinggi.” (Qs.at-Taubah:40)
“Barangsiapa yang berperang untuk menjadikan kalimatullah yang tertinggi sekali, maka ia berjuang di jalan Allah.” (al-Hadits)
Salah satu tujuan Allah mengutus Rasul-Nya adalah agar Islam sebagai dienullah menang terhadap dien-dien (sistem hidup) lainnya. Karena itu semua pengikut Muhammad berkewajiban untuk mewujudkan kemenangan Islam dengan berjihad di jalan-Nya.
“Dia-lah Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan dien yang haq, agar dimenangkan-Nya terhadap semua dien. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (Qs.al-Fath:28)
“Orang-orang yang beriman dan berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (Qs.at-Taubah:20)
Prinsip Ketujuh
Kaum Muslimin dalam satu negara, bahkan di seluruh dunia harus merupakan satu sekutu, satu blok dan satu jama’ah. Sekutu ini adalah sekutu iman dan politik. Apa pun bentuknya yang memisahkan dan mengesampingkan hal ini adalah satu kekufuran dan kesesatan yang amat besar. Sekutu dan blok tersebut harus mempunyai imam tersendiri.
Kepemimpinan dan persatuan bagi ummat Islam sangat penting sekali. Para sahabat Rasulullah saw telah mendahulukan pemilihan khalifah ketimbang mengubur jenazah Rasulullah saw. Dalam satu kesempatan Rasulullah saw bersabda:
“Tidak boleh bagi tiga orang berada di manapun di bumi ini, kecuali memilih salah satu seorang di antara mereka itu sebagai pemimpin.”(Musnad Imam Ahmad, jilid II, hal.177)
Mu’min dengan mu’min lainnya itu ibarat satu tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya ada yang sakit, maka anggota tubuh lainnya ikut merasa sakit. Demikian Rasulullah pernah mengingatkan ummatnya.
Umar bin Khattab pernah berkata, “Tidak ada Islam tanpa jama’ah, tidak ada jama’ah tanpa imamah, tidak ada imamah tanpa ketaatan, dan tidak ada ketaatan tanpa bai’at. Barangsiapa yang keluar dari jama’ah maka ia telah keluar dari Islam.”
Prinsip Kedelapan
Dalam kondisi kekuasaan politik Islam dan kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia sedang mengalami kehancuran dan kelumpuhan seperti sekarang, maka merupakan kewajiban bagi setiap Muslim untuk cepat-cepat melantik seorang imam yang akan memimpin perjuangan, atau untuk mempersiapkan diri menghadapi peperangan, atau melakukan persiapan yang matang untuk memilih seorang yang akan memimpin mereka. Hal ini merupakan salah satu masalah yang sangat mendesak untuk segera dilaksanakan.
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh-musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya.” (Qs.al-Anfaal:60)
Dalam memperjuangkan kebenaran (al-Islam) diperlukan kesungguhan, sumber daya manusia dengan kuantitas dan kualitas yang memadai, sarana dan prasarana serta pengorganisasian yang rapi. Sayyidina Ali ra pernah mengatakan, “Kejahatan yang terorganisir dapat megalahkan kebenaran yang tidak terorganisir.” Agar perjuangan dapat terorganisir maka diperlukan kepemimpinan, yang manhaj kepemimpinannya berpegang kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Qs.ash-Shaff:4)
Prinsip Kesembilan
Menyertai dan bergabung dengan jama’ah Islam dan imamnya adalah suatu kewajiban besar di dalam Islam. Kewajiban ini secara langsung tidak memberikan peluang untuk mengelakkan diri dari keterlibatannya dengan jama’ah dan imamnya, kecuali dalam kondisi dimana orang-orang Islam tidak mempunyai jama’ah dan imamnya. Maka dalam keadaan seperti itu, seorang Muslim harus memisahkan diri dari perkumpulan sesat dan tetap berpegang kepada yang haq.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta Abu Daud, dari Hudzaifah al-Yamani, diriwayatkan sebagai berikut:
Orang-orang yang bertanya pada Rasulullah saw tentang kebaikan, tetapi saya bertanya tentang kejahatan, sebab saya takut akan terlibat dengannya. Saya bertanya: “Wahai Rasulullah, dahulu kita berada dalam masa Jahiliyah dan diliputi oleh suasana kejahatan, lalu Allah mendatangkan pada kita kebaikan ini, maka apakah sesudah kebaikan itu akan ada kejahatan?”
“Ada,” jawab Rasulullah.
“Apakah sesudah kejahatan itu akan ada kebaikan?” Saya bertanya lagi.
Rasulullah menjawab, “Yaitu segolongan ummat yang mengikuti sunnah bukan sunnahku, dan mengikuti petunjuk bukan petunjukku. Kenalilah mereka olehmu, dan cegahlah.”
Saya bertanya lagi, “Kemudian setelah kebaikan tersebut masih adakah kejahatan lagi?”
Rasulullah menjawab, “Masih, yaitu para penda’wah yang menyeru manusia ke pintu neraka. Barangsiapa menyambut seruan mereka, niscaya mereka akan dilemparkan ke dalam neraka.”
Lalu saya bertanya kepada Rasulullah, “Apa yang harus saya lakukan jika saya menghadapi keadaan yang demikian itu?”
Jawab Rasulullah, “Hendaklah kamu teguh pendirian dengan jama’ah Islamiah dan imamahnya.”
“Bagaimana kalau sudah tidak ada lagi jama’ah Islamiah dan imamahnya?” Saya terus bertanya.
Rasulullah menjawab, “Tinggalkan golongan-golongan itu semua, walaupun kamu akan menggigit sebatang pohon kayu, sampai kamu mati dalam keadaan demikian.”
Persoalannya sekarang, apakah bumi yang kita diami ini telah kehilangan jama’ah dan imamnya, sedang Rasulullah saw bersabda:
“Akan selalu ada di kalangan ummatku, satu golongan yang mendukung kebenaran, golongan yang selalu menentang dan membelakangi mereka tidak akan memberikan kemudharatan apa-apa kepada mereka sehingga Hari Kiamat. ”
Imam Ali ra mengatakan, “Tidak akan sunyi bumi ini dari seorang pemimpin yang berdiri untuk Allah dengan hujjah-hujjahnya.”
Prinsip Kesepuluh
Ummat Islam, sebenarnya merupakan satu jama’ah atau satu partai, dan maju mundurnya jama’ah ini tergantung pada pencapaian ilmu, karakteristik, dan komitmen ummat terhadap Islam. Oleh karena itu segenap kaum Muslimin harus terikat pada rencana atau program yang telah disusun. Dan rencana atau program yang disusun secara spontanitas pun harus tunduk kepada kaidah-kaidah yang ketat, dan tidak boleh membelakangi ke arah tercapainya tujuan.
Karakteristik ummat Islam dan jama’ahnya adalah sesuai dengan ayat 36-43 surat Asy-Syura. Karakteristik ummat Islam ialah beriman, bertawakkal, menjauhkan diri dari dosa-dosa kecil maupun besar dan perbuatan keji, mengontrol diri dari marah, menyambut seruan Allah dalam semua hal, mendirikan shalat, berinfaq di jalan Allah dan berlaku adil sesama manusia. Sedangkan ciri-ciri khusus dari jama’ah Islamiah ialah adanya syura dan selalu menentang kezaliman.
Penutup
Kekalahan, keterbelakangan, penindasan dan yang dialami ummat Islam sekarang ini disebabkan adanya perselisihan dan perpecahan yang menimpa ummat Islam dewasa ini. Perpecahan dan perselisihan ummat Islam sekarang ini persoalannya bukanlah terletak pada perlunya pembersihan jiwa dan hati, luwes dan sikap berhati-hati di dalam gerakan, tentang perlunya sikap berlindung, atau perlunya semangat jihad. Ia juga bukan karena perbedaan tentang perlunya penguasaan terhadap seluruh medan perjuangan, juga bukan karena perbedaan perlunya suasana terbuka yang menjamin keamanan da’wah Islamiah. Dan bukan pula karena perbedaan tentang persoalan-persoalan yang dapat memberikan pelayanan kepada orang Islam. Tetapi sumber segala perselisihan dan perpecahan di antara kita ialah karena adanya perbedaan pandangan terhadap persoalan-persoalan dalam Islam yang bersifat prinsipil (badihi). Sehingga banyak dari kalangan ummat Islam sendiri yang melupakan dan mengabaikan prinsip (pokok) dalam Islam.
SA’ID HAWWA adalah sosok ulama yang cukup vokal dalam menyuarakan kebenaran (al-Islam). Ulama yang hidup di Mesir ini telah banyak menghasilkan tulisan-tulisan keislaman yang sangat berkualitas dan dibutuhkan ummat. Pemikiran-pemikirannya senantiasa merujuk pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Namun, pemikiran-pemikirannya tidak lepas dari kontroversi dan kritikan (protes) dari mereka yang merasa berat untuk melaksanakan Islam secara total (kaffah) sebagaimana yang selalu ’diteriakkan’ oleh beliau.
Islam adalah agama para rasul dan nabi seluruhnya. Dari semenjak Nabi Adam hingga risalah Nabi Muhammad SAW, yang menjadi pamungkas risalah-risalah Allah. Islam inilah yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk dipeluk umat Islam sehingga urusan mereka menjadi baik, di dunia dan di akherat. Disini dipaparkan bahwa:
1. Islam adalah akidah yang tercerminkan dengan dua syahadat
dan rukun-rukun iman
2. Islam adalah ibadah yang tercerminakan dengan shalat, zakat, puasa dan
haji.
Kedua hal diatas merpakan rukun-rukun islam yang menjadi pondasi
3. Ada bangunan Islam yang berdiri di atas rukun-rukun ini. Yang tercerminkan dengan manhaj kehidupan dalam islam, yaitu manhaj politik, ekonomi, militter, akhlak, social, pendidikan dan seterusnya.
4. Islam mempunyai dukungan-dukungan yang merupakan jalan berdirinya yang tercerminkan dalam jihad, amar ma’ruf dan nahi munkar. Dan dukungan-dukungan ini selain dukungan rabbaniyah yang tercerminkan dalam sanksi fitrah, sanksi ilahi di dunia dan tercerminkan dalam syurga dan neraka di akhirat.
Antitesis Islam adalah kejahiliyahan. Tak ada sesuatupun bagian dari islam yang tidak memiliki antitesis. Hal itu merupakan jejak dari keterbatasan ilmu manusia, yang dikuasai hawa nafsu dan syahwatnya, sehingga ia melihat sesuatu ayng indah menjadi buruk dan yang buruk menjadi indah.
Islam adalah kesempurnaan secara total, sedangkan kejahiliyahan adalah kekurangan secara total.
Selam ia berakidah dengan seluruh islam, berarti dia muslim, selama ia mengikuti perbuatan buruk dengan tobat, maka ia akan mengarah kepada kebaikan. Sedangkan jika seseorang terus menjaslankan keburukan , maka ia kan menjadi orang fasik, namun ia tetap muslim. Seharusnya seorang muslim meninggalkan akhlak jahiliyah secara keseluruhan dan berperilaku dengan islam secara keseluruhan. Hal ini agar umat islam menjadi penampilan yang sempurna bagi system islami dan berusaha mengenyahkan system jahiliyah di dunia. Bukannya islam yang menjadi penyerang dan penghancur system jahiliyah, malah sebaliknya Islamlah yang menjadi yang diserang dan berusaha dilenyapkan oleh system jahiliyah. Alangkah banyaknya penyebar ajaran jahiliyah di tanah islma ini dan banyak juga kaum muslimin yang memenuhi ajakan itu, baik gerakan misionaris, komunis, filsafat liberalis, partai-partai politiknon islami, menjadi kaki tangan orang kafir dengan nama kemajuan dan memerangi kemunduran dan slogan-slogan semacam itu.
Keberhasilan mereka dibantu oleh kebodohan kaum muslimin dan berpindahnya kekuasaan politik kepada penjajah, pada pertama kali , kemudian ke tangan orang yang memberikan loyalitas pemikiran atau politik atau keduanya kepada para penjajah itu. Oleh akrena itu jadilah peperangan jahiliyah yang terprogram yang menggunakan perangkat propaganda yang canggih sehingga islam menjadi agama yang asing.
Dalam buku Al-Islam dituliskan secra lengkap lima bab berikut:
1. Rukun-rukun Islam
2. Sistem ( Manhaj ) social dan akhlak Islam
3. Negara, Unsur-unsurnya, politiknya dan perangkatnya
4. Kebijakan –kebijakan umum
5. Faktor penguat Islam
Dengan membaca buku ini, seorang mukallaf bias mengetahui bagaimana seorang individu muslim yang benar-benar muslim dan mengetahui bagaimana membuat perilakunya dalam kehidupan selurhnya menjadi islami. Ia mengetahui konsekuaensi perilaku ini, tahu penyimpangan yang diakibatnya dan setelah itu mengetahui beban hokum yang dibebankan oleh Allah SWT kepada hamba-hambaNya.
SEBAGAI TAMBAHAN
Dalam bukunya yang berjudul “Min Ajli Khuthwatin ila al-Amam’ala Thariqi al-Jihad al-Mubarak”, Sa’id Hawwa mengungkapkan ketentuan-ketentuan dalam Islam yang bersifat badihi (prinsipil), yaitu merupakan ketentuan yang sudah jelas nash-nya dan tidak diragukan lagi kebenarannya. Dan semua ummat Islam wajib menerima ketentuan atau konsepsi dalam Islam yang bersifat badihi tersebut. Menurut Sa’id Hawwa, ada sepuluh ketentuan yang bersifat badihi (prinsipil). Berikut ini ke-sepuluh prinsip tersebut yang diringkas dari buku “10 Aksioma tentang Islam” – terjemahan dari buku “Min Ajli Khuthwatin ila al-Amam’ala Thariqi al-Jihad al-Mubarak”.
Prinsip Pertama
Islam adalah satu-satunya sistem hidup yang dibebankan pada seluruh ummat manusia, di barat atau di timur, di utara atau di selatan, berkulit kuning, merah, putih atau hitam. Allah swt telah mengumumkan bahwa Dia tidak akan menerima sistem hidup (ad-Dien) selain Islam dengan firman-Nya:
”Sesungguhnya dien (sistem hidup) yang diridhai di sisi Allah ialah Islam.”(Qs.Ali Imran:19)
“Barangsiapa yang mencari dien (sistem hidup) selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (dien itu) darinya.” (Qs.Ali Imran:85)
Yang dimaksud dengan Islam adalah risalah yang diturunkan Allah swt melalui Nabi Muhammad saw. Risalah ini merupakan penutup seluruh risalah Allah swt, dan demikian risalah atau agama yang diturunkan Allah sebelumnya melalui para Nabi-Nya yang terdahulu tidak berlaku lagi. Karena itu seluruh manusia diwajibkan untuk memeluk Islam sampai Hari Kiamat. Barangsiapa yang tidak mengimani Islam, sedangkan seruan Islam telah sampai kepadanya, maka ia dianggap sebagai ahli neraka.
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak mendengar seseorang tentangku dari ummat ini, apakah ia Yahudi atau Nasrani, kemudian ia tidak beriman dengan apa yang diutus kepadaku melainkan ia akan tergolong dari ahli neraka.” (HR.Muslim)
Prinsip Kedua
Islam adalah satu-satunya jawaban yang benar dan bersih terhadap semua persoalan manusia. Ia mencakup seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi keyakinan, ibadat, syari’at dan syi’ar-syi’ar. Islam merupakan neraca dan satu-satunya tolok ukur untuk semua sisi kehidupan manusia. Dari Islamlah terefleksinya petunjuk yang benar dan lurus serta selamat dalam segala hal.
“Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (Qs.an-Nahl:89)
Al-Qur’an menerangkan segala persoalan, apakah melalui nash-nashnya atau melalui kesimpulan-kesimpulan yang tepat tentang nash-nash tersebut berdasarkan hadits, qiyas, ijma’ ulama, istihsan, istishab, istislah, ’urf, hukum-hukum yang diakui oleh akal, syara’ atau hukum adat menurut batas-batas yang dibenarkan oleh nash tersebut.
Prinsip Ketiga
Bila seseorang masuk Islam, berarti ia telah menyerah secara mutlak kepada Allah swt dalam semua persoalan yang mencakup semua aspek kehidupan, termasuk yang berhubungan dengan jiwa, akal, hati, ruh, perasaan, emosi, perbuatan, pemikiran, kepercayaan dan peribadatan. Termasuk dalam hal konstitusi dan undang-undang kehakiman. Di samping itu Islam berarti penolakan total terhadap seluruh bentuk penyekutuan dengan selain Allah. Allah swt berfirman:
“….Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus….” (Qs.al-Baqarah:256)
Prinsip Keempat
Dalam Islam pemikiran eksperimental merupakan salah satu fenomena proses pembentukan pribadi Muslim atau karakteristik Islam. Oleh karena itu segala sesuatu yang telah dicapai oleh akal yang sehat dan melalui proses percobaan adalah sesuatu yang dapat diterima dari sudut pandangan Islam dan diberi jaminan kepercayaan terhadap kesahannya. Rasulullah pernah bersabda:
“Hikmah (ilmu pengetahuan) itu merupakan hak orang Mu’min. Maka di mana saja ia jumpai, ia lebih berhak terhadapnya.”
Namun jika pemikiran-pemikiran eksperimental itu sudah tidak murni lagi, telah diwarnai oleh sistem hidup yang tidak Islami, maka kita berkewajiban untuk membersihkannya terlebih dahulu, dan mewarnainya dengan nilai-nilai Islam yang bersih, sebelum kita menggunakannya.
Prinsip Kelima
Islam adalah satu sistem yang sempurna dan lengkap, karena ia mencakup seluruh sistem politik, sosial, ekonomi dan moral. Oleh karena itu mengabaikan atau melupakan sebagian dari sistem Islam berarti menghalangi perjalanan seluruh sistem itu sendiri. Begitu juga menegakkan politik yang tidak berdasarkan pada pilar-pilar Islam merupakan satu kendala dan sekaligus tantangan terhadap Islam.
Seluruh sektor kehidupan kaum Muslimin harus selalu berlandaskan pada nilai-nilai dan syari’at Islam, ekonominya, politiknya, sosialnya, pendidikannya, militernya dan sektor-sektor lainnya. Tidak dibenarkan melaksanakan Islam secara parsial (tentunya selama kondisi dan kemampuan memungkinkannya).
“Apakah patut kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Maka tidak ada balasan bagi yang berbuat demikian dari kamu, kecuali kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka akan dikembalikan kepada siksa yang amat berat. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu perbuat.” (Qs.al-Baqarah:85)
“Barangsiapa yang tidak menghukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (Qs.al-Maidah:44)
Prinsip Keenam
Seluruh kaum Muslimin dibebani kewajiban menegakkan kalimatullah agar Islam menjadi satu-satunya Dien yang tegak di bumi ini. Allah berfirman:
“Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah dan kalimatullah itulah yang tinggi.” (Qs.at-Taubah:40)
“Barangsiapa yang berperang untuk menjadikan kalimatullah yang tertinggi sekali, maka ia berjuang di jalan Allah.” (al-Hadits)
Salah satu tujuan Allah mengutus Rasul-Nya adalah agar Islam sebagai dienullah menang terhadap dien-dien (sistem hidup) lainnya. Karena itu semua pengikut Muhammad berkewajiban untuk mewujudkan kemenangan Islam dengan berjihad di jalan-Nya.
“Dia-lah Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan dien yang haq, agar dimenangkan-Nya terhadap semua dien. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (Qs.al-Fath:28)
“Orang-orang yang beriman dan berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (Qs.at-Taubah:20)
Prinsip Ketujuh
Kaum Muslimin dalam satu negara, bahkan di seluruh dunia harus merupakan satu sekutu, satu blok dan satu jama’ah. Sekutu ini adalah sekutu iman dan politik. Apa pun bentuknya yang memisahkan dan mengesampingkan hal ini adalah satu kekufuran dan kesesatan yang amat besar. Sekutu dan blok tersebut harus mempunyai imam tersendiri.
Kepemimpinan dan persatuan bagi ummat Islam sangat penting sekali. Para sahabat Rasulullah saw telah mendahulukan pemilihan khalifah ketimbang mengubur jenazah Rasulullah saw. Dalam satu kesempatan Rasulullah saw bersabda:
“Tidak boleh bagi tiga orang berada di manapun di bumi ini, kecuali memilih salah satu seorang di antara mereka itu sebagai pemimpin.”(Musnad Imam Ahmad, jilid II, hal.177)
Mu’min dengan mu’min lainnya itu ibarat satu tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya ada yang sakit, maka anggota tubuh lainnya ikut merasa sakit. Demikian Rasulullah pernah mengingatkan ummatnya.
Umar bin Khattab pernah berkata, “Tidak ada Islam tanpa jama’ah, tidak ada jama’ah tanpa imamah, tidak ada imamah tanpa ketaatan, dan tidak ada ketaatan tanpa bai’at. Barangsiapa yang keluar dari jama’ah maka ia telah keluar dari Islam.”
Prinsip Kedelapan
Dalam kondisi kekuasaan politik Islam dan kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia sedang mengalami kehancuran dan kelumpuhan seperti sekarang, maka merupakan kewajiban bagi setiap Muslim untuk cepat-cepat melantik seorang imam yang akan memimpin perjuangan, atau untuk mempersiapkan diri menghadapi peperangan, atau melakukan persiapan yang matang untuk memilih seorang yang akan memimpin mereka. Hal ini merupakan salah satu masalah yang sangat mendesak untuk segera dilaksanakan.
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh-musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya.” (Qs.al-Anfaal:60)
Dalam memperjuangkan kebenaran (al-Islam) diperlukan kesungguhan, sumber daya manusia dengan kuantitas dan kualitas yang memadai, sarana dan prasarana serta pengorganisasian yang rapi. Sayyidina Ali ra pernah mengatakan, “Kejahatan yang terorganisir dapat megalahkan kebenaran yang tidak terorganisir.” Agar perjuangan dapat terorganisir maka diperlukan kepemimpinan, yang manhaj kepemimpinannya berpegang kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Qs.ash-Shaff:4)
Prinsip Kesembilan
Menyertai dan bergabung dengan jama’ah Islam dan imamnya adalah suatu kewajiban besar di dalam Islam. Kewajiban ini secara langsung tidak memberikan peluang untuk mengelakkan diri dari keterlibatannya dengan jama’ah dan imamnya, kecuali dalam kondisi dimana orang-orang Islam tidak mempunyai jama’ah dan imamnya. Maka dalam keadaan seperti itu, seorang Muslim harus memisahkan diri dari perkumpulan sesat dan tetap berpegang kepada yang haq.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta Abu Daud, dari Hudzaifah al-Yamani, diriwayatkan sebagai berikut:
Orang-orang yang bertanya pada Rasulullah saw tentang kebaikan, tetapi saya bertanya tentang kejahatan, sebab saya takut akan terlibat dengannya. Saya bertanya: “Wahai Rasulullah, dahulu kita berada dalam masa Jahiliyah dan diliputi oleh suasana kejahatan, lalu Allah mendatangkan pada kita kebaikan ini, maka apakah sesudah kebaikan itu akan ada kejahatan?”
“Ada,” jawab Rasulullah.
“Apakah sesudah kejahatan itu akan ada kebaikan?” Saya bertanya lagi.
Rasulullah menjawab, “Yaitu segolongan ummat yang mengikuti sunnah bukan sunnahku, dan mengikuti petunjuk bukan petunjukku. Kenalilah mereka olehmu, dan cegahlah.”
Saya bertanya lagi, “Kemudian setelah kebaikan tersebut masih adakah kejahatan lagi?”
Rasulullah menjawab, “Masih, yaitu para penda’wah yang menyeru manusia ke pintu neraka. Barangsiapa menyambut seruan mereka, niscaya mereka akan dilemparkan ke dalam neraka.”
Lalu saya bertanya kepada Rasulullah, “Apa yang harus saya lakukan jika saya menghadapi keadaan yang demikian itu?”
Jawab Rasulullah, “Hendaklah kamu teguh pendirian dengan jama’ah Islamiah dan imamahnya.”
“Bagaimana kalau sudah tidak ada lagi jama’ah Islamiah dan imamahnya?” Saya terus bertanya.
Rasulullah menjawab, “Tinggalkan golongan-golongan itu semua, walaupun kamu akan menggigit sebatang pohon kayu, sampai kamu mati dalam keadaan demikian.”
Persoalannya sekarang, apakah bumi yang kita diami ini telah kehilangan jama’ah dan imamnya, sedang Rasulullah saw bersabda:
“Akan selalu ada di kalangan ummatku, satu golongan yang mendukung kebenaran, golongan yang selalu menentang dan membelakangi mereka tidak akan memberikan kemudharatan apa-apa kepada mereka sehingga Hari Kiamat. ”
Imam Ali ra mengatakan, “Tidak akan sunyi bumi ini dari seorang pemimpin yang berdiri untuk Allah dengan hujjah-hujjahnya.”
Prinsip Kesepuluh
Ummat Islam, sebenarnya merupakan satu jama’ah atau satu partai, dan maju mundurnya jama’ah ini tergantung pada pencapaian ilmu, karakteristik, dan komitmen ummat terhadap Islam. Oleh karena itu segenap kaum Muslimin harus terikat pada rencana atau program yang telah disusun. Dan rencana atau program yang disusun secara spontanitas pun harus tunduk kepada kaidah-kaidah yang ketat, dan tidak boleh membelakangi ke arah tercapainya tujuan.
Karakteristik ummat Islam dan jama’ahnya adalah sesuai dengan ayat 36-43 surat Asy-Syura. Karakteristik ummat Islam ialah beriman, bertawakkal, menjauhkan diri dari dosa-dosa kecil maupun besar dan perbuatan keji, mengontrol diri dari marah, menyambut seruan Allah dalam semua hal, mendirikan shalat, berinfaq di jalan Allah dan berlaku adil sesama manusia. Sedangkan ciri-ciri khusus dari jama’ah Islamiah ialah adanya syura dan selalu menentang kezaliman.
Penutup
Kekalahan, keterbelakangan, penindasan dan yang dialami ummat Islam sekarang ini disebabkan adanya perselisihan dan perpecahan yang menimpa ummat Islam dewasa ini. Perpecahan dan perselisihan ummat Islam sekarang ini persoalannya bukanlah terletak pada perlunya pembersihan jiwa dan hati, luwes dan sikap berhati-hati di dalam gerakan, tentang perlunya sikap berlindung, atau perlunya semangat jihad. Ia juga bukan karena perbedaan tentang perlunya penguasaan terhadap seluruh medan perjuangan, juga bukan karena perbedaan perlunya suasana terbuka yang menjamin keamanan da’wah Islamiah. Dan bukan pula karena perbedaan tentang persoalan-persoalan yang dapat memberikan pelayanan kepada orang Islam. Tetapi sumber segala perselisihan dan perpecahan di antara kita ialah karena adanya perbedaan pandangan terhadap persoalan-persoalan dalam Islam yang bersifat prinsipil (badihi). Sehingga banyak dari kalangan ummat Islam sendiri yang melupakan dan mengabaikan prinsip (pokok) dalam Islam.
Diposting oleh
NUY CORNER
komentar (0)
Oleh : Sayyid Qutb
BAB 4. Ciri-ciri Masyarakat Islam
Sesungguhnya dakwah Islamiyah yang dibawa Nabi Muhammad SAW merupakan mata rantai terakhir dari rangkaian dakwah dan seruan ke jalan Islam yang telah berjalan lama di bawah pimpinan para Rasul dan utusan-utusan Allah yang mulia. Dakwah ini di sepanjang sejarah wujud manusia mempunyai sasaran dan tujuan yang satu. Yaitu, membimbing manusia untuk mengenal Tuhan mereka yang Maha Esa dan Yang Maha Benar, agar mereka menyembah dan mengabdi hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mengubur segala penuhanan terhadap sesama makhluk.
Seluruh umat manusia kecuali segelintir orang saja, tidak ingkar dengan dasar ketuhanan dan tidak menafikan wujudnya Tuhan; tetapi mereka salah pilih dalam hal mengenal hakikat Tuhan yang benar. Mereka menyekutukan Tuhan yang benar dengan tuhan-tuhan yang lain. Bisa dalam bentuk ibadat dan akidah, atau pun dalam bentuk ketaatan di bidang pemerintahan dan kekuasaan.
Dua bentuk itu adalah SYIRIK yang bisa menyebabkan manusia keluar dari agama Allah. Padahal para Rasul sudah mengenalkan Allah swt. kepada mereka. Tapi, mereka mengingkariNya setelah berlalu beberapa masa dan generasi. Mereka pun kembali ke alam jahiliyah, kemudian kembali mensyirikkan Allah, baik dalam bentuk akidah dan ibadat, atau dalam bentuk ketaatan di bidang pemerintahan, atau pun di dalam dua bentuk itu sekaligus.
Inilah dia tabiat dakwah ke jalan Allah di sepanjang sejarah umat manusia. Ia mempunyai tujuan dan sasaran yang satu yaitu “MENYERAH” di dalam pengertian penyerahan diri sepenuhnya, penyerahan diri dan kepatuhan para hamba kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam, menarik umat manusia keluar dari mengabdikan diri kepada sesama hamba Allah, kepada suasana menyembah dan mengabdikan diri kepada Allah SWT, membawa mereka keluar dari sikap patuh dan tunduk kepada sesama hamba Allah di dalam urusan peraturan hidup dan pemerintahan, nilai-nilai dan kebudayaan, untuk bersikap patuh dan tunduk kepada kekuasaan pemerintahan dan peraturan Allah saja di dalam semua urusan hidup.
Untuk inilah Islam datang melalui Nabi Muhammad SAW sebagaimana ia datang melalui para Rasul sebelum beliau. Ia datang untuk membawa umat manusia patuh kepada kekuasaan dan pemerintahan Allah seperti seluruh alam ini berjalan mengikuti landasan peraturan Allah.
Karena manusia bagian dari alam ini, maka manusia mesti patuh kepada peraturan Ilahi. Dengan demikian, kekuasaan yang mengatur urusan hidup dan dunia ini seluruhnya adalah kekuasaan Allah swt.
Manusia tidak boleh mengecualikan dirinya dari peraturan dan undang-undang Allah dengan cara tunduk dan patuh kepada peraturan dan undang-undang yang lain dari peraturan dan undang-undang Allah yang mengatur perjalanan alam dan dunia ini seluruhnya, yang juga mengatur wujud manusia itu sendiri tanpa kehendak dan kemauannya. Sebab mereka (manusia) itu diperintah dengan undang-undang fitrah asal yang dicipta Allah di dalam hidup dan perkembangan mereka, sehat dan sakit mereka, juga hidup dan mati mereka, seperti mereka diperintah berdasarkan undang-undang fitrah asal dalam organisasi mereka dan dalam akibat yang mereka terima dari amal perbuatan mereka. Mereka tidak berhak mengubah sunnah dan peraturan Allah dalam urusan itu, sebagaimana mereka tidak mampu mengubah sunnah Allah mengenai peraturan alam yang mengatur perjalanan dan perkembangan alam itu sendiri.
Oleh kerana itu, mereka harus kembali kepada Islam dengan kerelaan dalam urusan yang berkait dengan urusan kehidupan mereka. Mereka mesti menjadikan syariat Allah SWT sebagai yang memerintah dan berkuasa di dalam seluruh urusan hidup mereka supaya selaras tindakan-tindakan yang dilakukan berdasarkan undang-undang fitrah asal.
Tetapi, jahiliyah yang tegak berdasarkan pengabdian manusia atas sesama manusia, dan juga berdasarkan penyelewengan dari hukum kejadian alam serta berdasarkan perampasan undang-undang buatan manusia dengan undang-undang Allah dan fitrah, itulah bentuk jahiliyah yang telah dihadapi oleh setiap Rasul yang menjalankan dakwah ke jalan penyerahan diri kepada Allah Yang Maha Esa. Itulah bentuk jahiliyah yang telah dihadapi oleh Rasulullah SAW dalam menjalankan dakwahnya.
Jahiliyah tidak menjelma di dalam bentuk teori saja. Ia menjelma dalam bentuk organisasi, dalam bentuk masyarakat dan perkumpulan yang tunduk kepada kemauan dan arahan masyarakat itu, tunduk kepada kehendak konsep, nilai-nilai dan faham, perasaan dan kebiasaan. Ia merupakan masyarakat yang terikat kuat, tersusun, setia, rapi, padu dan tak mungkin direnggangkan. Inilah yang menyebabkan masyarakat itu bergerak, secara sadar atau tak sadar, untuk mengekalkan wujudnya dan mempertahankan hayatnya, menentang dan menghancurkan semua unsur yang membahayakan wujud dan hidupnya dalam bentuk ancaman apa pun.
Karena jahiliyah itu tidak berupa “teori” saja melainkan juga berupa organisasi, maka usaha menghapus jahiliyah itu dan membawa manusia ke jalan Allah sekali lagi harus tidak terbatas dalam soal “teori” saja, karena cara yang demikian tidak akan mempan menghadapi jahiliyah yang telah berakar dan telah lama membumi di dalam masyarakat.
Dasar teoritis yang menjadi asas Islam, di sepanjang sejarah umat manusia, ialah dasar “TIADA TUHAN MELAINKAN ALLAH” (LA ILAAHA ILLALLAH) dengan pengertian mengesakan Allah SWT dengan sifat-Nya sebagai TUHAN, sebagai Penguasa, sebagai Pendidik, sebagai Pemerintah Yang Gagah Perkasa yang mempunyai kuasa mutlak di dalam pemerintahan, Penegasan bentuk iktikad dalam hati, dalam perilaku, dalam bentuk ibadat dan juga dalam bentuk pelaksanaan syariat-Nya pada kehidupan sehari-hari.
Pengakuan “TIADA TUHAN MELAINKAN ALLAH” tidak akan ada dalam kenyataan dan tidak bisa dianggap lahir dalam sisi hukum melainkan dalam bentuknya yang sempurna seperti ini yang dapat memberikan kepadanya suatu eksistensi yang sebenarnya, yang bisa dianggap seseorang yang mengucapkan syahadat TIADA TUHAN MELAINKAN ALLAH itu seorang Muslim atau bukan Muslim. Arti penjelmaan yang benar dari dasar ini dalam segi teori ialah bahwa seluruh hidup manusia itu diserahkan dan dikembalikan kepada Allah SWT saja.
Mereka tidak bisa melakukan suatu urusan pun mengenai hidup ini dari sisi diri mereka sendiri, bahkan mereka hendaklah menyerah dan mengembalikannya kepada hukum Allah untuk mereka ikuti. Hukum Allah hendaklah mereka kenal dan ambil dari sumber yang satu. Sumber yang berhak menyampaikannya kepada mereka, yaitu Rasulullah SAW. Ini dapat dipastikan dari rangkaian kata yang kedua dari syahadat, yaitu pengakuan bahwa “Muhammad ialah utusan Allah” (Muhammadur Rasulullah).
Itulah dasar teoritis yang dapat dijelmakan oleh Islam. Dasar ini menjadi dasar yang lengkap sempurna bagi kehidupan apabila ia dilaksanakan di seluruh urusan hidup. Setiap orang Muslim menghadapi segala cabang hidup “individu” dan “sosial”, baik di dalam maupun di luar negara Islam, dalam hubungannya dengan sesama anggota masyarakat Islam dan juga dengan masyarakat yang bukan Islam.
Seperti yang telah kita katakan tadi, Islam tidak cukup dengan penjelmaan di dalam bentuk “teori” saja, yang boleh dianut oleh para penganutnya, iktikad kepercayaan saja dan diamalkannya melalui saluran ibadat, sesudah itu mereka pun menjadi individu yang bergerak dan bertindak mengikuti tema masyarakat jahiliyah yang sedang berada di sekelilingnya. Wujud dan hidup mereka secara ini, yakni secara beriktikad kepercayaan dan beribadat secara Islam tapi mengikuti arus jahiliyah dalam segala segi kehidupan sehari-hari, walau jumlah mereka (orang Islam) itu banyak dan mayoritas, tidak mungkin membawa kepada wujudnya Islam secara langsung; karena peribadi-peribadi Muslim rentan yang masuk ke tengah masyarakat jahiliyah akan terpaksa tunduk dan patuh kepada kehendak masyarakat jahiliyah.
Mereka akan bergerak dan bertindak, baik sadar atau tidak, untuk menunaikan kehendak masyarakat jahiliyah itu. Mereka akan ikut mempertahankan hidupnya, mereka juga akan ikut serta menghalangi semua tujuan dan sebab yang bisa mengancam kehidupan masyarakat jahiliyah. Mereka secara otomatis mengikuti jejak anggota masyarakat jahiliyah yang ingin mempertahankan hidupnya dan ingin pula mengekalkan keutuhan masyarakat itu, baik mereka sadari atau tidak, mereka suka atau tidak.
Dengan perkataan lain, orang-orang Islam rentan itu dari segi amalan dan tindakannya, akan ikut memperkuat wujud dan hidupnya masyarakat jahiliyah, sebagaimana mereka juga akan menolak segala faktor yang bisa mengancam hidupnya masyarakat jahiliyah itu. Mereka akan tetap merupakan sel-sel yang memberikan tambahan tenaga kepada hidupnya masyarakat jahiliyah itu.
Ini bertentangan sekali dengan peranan mereka sebagai orang yang ditugaskan untuk menghancurkan masyarakat jahiliyah dan digantikan dengan masyarakat Islam.
Karena itu, dasar teori Islam (akidah) ini harus menjelma di dalam kenyataan hidup masyarakat sejak dini. Selain itu, perlu adanya organisasi yang aktif, organisasi yang sama sekali berlainan dengan organisasi ala jahiliyah, terpisah jauh dari dasar pembentukan masyarakat jahiliyah yang hendak dihapuskan oleh Islam.
Perlu pula keteladanan Rasulullah SAW menjadi teras bagi organisasi ini. Begitu juga keteladanan para sahabat serta para pemimpin umat Islam yang bertujuan menarik manusia kepada jalan Allah, kepada bimbingan dan kekuasaanNya, kepada peraturan dan pemerintahan-Nya.
Setiap orang yang mengucapkan syahadat LA ILAAHA ILLALLAH DAN MUHAMMADUR RASULULLAH mesti mencabut dan menarik setiap kepatuhan dan kesetiaannya kepada organisasi-jahiliyah, yaitu organisasi yang dibentuk oleh dasar dan panduan jahiliyah, dalam bentuk apa pun, baik bentuk kekuasaan agama, yang terdiri dari lembaga pendeta-pendeta, padri-padri, tukang-tukang tenung dan ahli-ahli nujum serta lain-lain lagi, mau pun dalam pimpinan politik dan ekonomi serta contoh yang ada pada kaum Quraisy, dan hendaklah dia menumpahkan segenap kepatuhan dan kesetiaan kepada pembentukan masyarakat Islam dan pimpinan Islamiyahnya.
Semua ini mesti dilaksanakan mulai saat pertama seorang Muslim menganut Islam, saat dia mulai mengucapkan syahadat LA ILAAHA iLLALLAH, DAN MUHAMMADUR RASULULLAH. Karena wujud masyarakat Islam tidak akan terlaksana melainkan dengan syarat ini, tidak cukup dengan semata-mata wujud kepercayaan di dalam hati para individu yang walaupun jumlahnya banyak, tapi tidak membulatkan kepatuhan dan kesetiaan mereka kepada dasar organisasi mereka yang mempunyai wujud dan bentuk hidupnya sendiri, yang memerlukan anggota-anggota yang berusaha sungguh-sungguh bagi tegaknya wujud masyarakat Islam, untuk melebarkan pengaruh dan kekuasaannya, untuk mempertahankan hidupnya dari gangguan dan ancaman.
Mereka bekerja bersama-sama atau bersendirian di bawah suatu komando yang bebas dari segala pengaruh jahiliyah, teratur rapi dan tersusun indah, di bawah arahan yang tegas ke arah pelaksanaan tujuannya, menentang semua halangan yang bisa melemahkannya, dan memberantas segala hal yang membawa munculnya bentuk jahiliyah.
Demikianlah Islam, tumbuh dan hidup subur serta menjelma dalam bentuk teori yang lengkap, yang menjadi pijakan bagi sebuah organisasi yang aktif, terpisah jauh dari pengaruh jahiliyah dan sanggup berhadapan dengan masyarakat jahiliyah.
Islam tidak pernah sama sekali tampil dalam bentuk teori kosong yang tidak berpijak dalam kenyataan dan realitas. Begitulah caranya Islam bisa ditampilkan lagi dan sama sekali Islam tak akan timbul di zaman dan di tempat mana pun tanpa pengertian yang sebenarnya terhadap tabiat dan ciri perkembangannya berdasarkan organisasi yang aktif seperti yang telah diuraikan.
Ketahuilah bahwa Islam mengikuti garis panduan yang telah disebutkan di atas. Yaitu, pembinaan umat Muslim berdasarkan kaedah dan panduannya, serta menegakkan hidupnya melalui organisasi yang aktif, dengan menjadikan akidah sebagai tali penghubung, tidak ada tujuan lain selain hendak memperjuangkan “kemanusiaan manusia” dan hendak meninggikan derajat kemanusiaan itu di atas segala derajat yang lain di dalam hidup manusia itu, yang menjadi panduan bagi segala kaedah, pengajaran, undang-undang dan peraturan-peraturan Islam.
Sesungguhnya makhluk manusia mempunyai persamaan dengan makhluk hewan dalam beberapa sifat tertentu yang menimbulkan sangkaan kepada golongan INTELEKTUAL JAHIL bahwa manusia juga hewan seperti hewan-hewan yang lain dan sekali sekali mereka menyangka bahwa manusia itu adalah makhluk kera seperti kera-kera yang lain.
Walaupun ada banyak persamaan dalam sifat-sifat tertentu dengan hewan dan kera, tetapi manusia itu punya ciri-ciri tertentu yang membedakannya dan juga memisahkannya dengan hewan. Ciri-ciri yang membuat manusia itu menjadi suatu makhluk yang “unik” seperti yang telah diungkapkan sendiri oleh tokoh-tokoh INTELEKTUAL JAHIL di zaman moderen ini; ketika mereka terpaksa berhadapan dengan fakta yang tegas dan nyata walaupun mereka tidak yakin dan tidak jelas dalam pengakuan mereka. (Di antara tokoh yang terkemuka ialah Julian Haxley, seorang tokoh Darwinisme Modern).
Sesungguhnya hasil utama dari dasar Islam dalam persoalan ini, yaitu persoalan membentuk organisasi berdasarkan akidah, tidak berdasarkan perkauman, negeri, warna kulit, bahasa, dan kepentingan daerah dan, dan persoalannya ialah menonjolkan ciri “KEMANUSIAAN MANUSIA” melalui organisasi itu, bukan menonjolkan ciri-ciri yang menjadi sifat persamaan di antara manusia dengan hewan.
Hasil utamanya ialah bahwa masyarakat Muslim itu menjadi sebuah masyarakat terbuka untuk semua bangsa, semua golongan, semua warna kulit, semua bahasa apa pun lalu segala ciri dan kemampuan manusia itu bercampur dan menyatu dalam wadah masyarakat Islam. Dari situlah lahir suatu lembaga raksaksa dalam jangka waktu yang tidak lama, untuk menempa suatu peradaban yang indah dan mengagumkan yang menjangkau seluruh intisari kemampuan manusia di zamannya; sekalipun jarak antara daerah-daerah dan rumpun-rumpun bangsa sangat berjauhan antara satu sama lain. Suatu peradaban yang tidak ada tolok bandingnya, sekalipun di zaman itu hubungan antara daerah dengan daerah sangat sukar dan keadaannya masih primitif.
Di dalam masyarakat Islam yang tiada tolok bandingnya itu, telah berkumpul bangsa Arab, Parsi, Syam, Moroko, Mesir, Turkey, China, Roman, Yunani, India, Indonesia, dan juga orang Afrika, malah seluruh bangsa di dunia ini. Mereka bersatu padu dan bekerjasama dengan eratnya dalam membina masyarakat dan peradaban Islam. Peradaban yang agung, yang tidak pernah sekalipun menjadi peradaban yang dimiliki oleh orang ARAB saja, malah ia menjadi peradaban ISLAM; juga tidak menjadi masyarakat kebangsaan dan perkauman, bahkan menjadi masyarakat yang berlandaskan akidah.
Mereka semuanya berkumpul berdasarkan hubungan persamaan, hubungan kasih mesra dan persaudaraan, dengan memandang jauh ke depan, ke arah satu tujuan. Mereka memberi apa saja yang dapat mereka berikan, tanpa menghilangkan ciri-ciri kebangsaan mereka. Mereka sumbangkan tenaga dan pengalaman peribadi untuk membina masyarakat yang satu berdasarkan persamaan hak, dipadukan oleh tali Allah, yang menonjolkan kemanusiaan mereka.
Masyarakat seperti ini tidak pernah tampil sebelum ini di sepanjang sejarah umat manusia. Masyarakat manusia yang paling masyhur sebutannya di zaman purbakala ialah masyarakat Kekaisaran Romawi yang telah mengumpulkan bermacam-macam jenis manusia, dari segala bangsa dan warna kulit dan bahasa pertuturan.
Tetapi masyarakat itu tidak berdasarkan “tali kemanusiaan” dan tidak juga berpandukan sesuatu nilai yang tinggi berbentuk akidah, karena di sana terdapat perkumpulan berdasarkan perbedaan derajat, kasta dan kelas. Yaitu kelas bangsawan dan kelas hamba sahaya, di seluruh kawasan jajahan kekaisaran itu; juga kelas berdasarkan kesucian dan keagungan darah ROMAN di satu pihak dan kehinaan darah BUKAN ROMAWI di pihak yang lain. Karena itulah masyarakat itu tidak layak disetarakan dengan masyarakat Islam dan tidak dapat menghasilkan kejayaan seperti yang dicapai oleh masyarakat Islam.
Di zaman moderen ini pun beberapa bentuk masyarakat telah berdiri dan telah runtuh. Sebagai contoh, kita ambil masyarakat Kekaisaran Inggeris (Britain), tapi bentuknya tak beda dengan bentuk kekaisaran Romawi yang diikutinya dahulu itu, yang bertujuan memeras dan menindas, telah tegak berdasarkan ketuhanan bangsa Inggeris dan memeras serta menindas rakyat jajahannya demikianlah juga halnya seluruh kekaisaran Eropa lainnya: kekaisaran Spanyol dan Portugis suatu ketika dahulu, dan juga empayar Perancis, semuanya itu sama sahaja taraf dan nilainya, yang memang semuanya berdasarkan pemerasan dan penindasan yang terkutuk!
Tampaknya, komunisme berhasrat mendirikan perkumpulan dan masyarakat manusia bermodel lain, yang melampaui unsur-unsur kebangsaan dan wama kulit, tanahair dan bangsa, tapi tidak dibangun berdasarkan KEMANUSIAAN malah berlandaskan pertentangan KELAS. Yang demikian, maka masyarakat ciptaan Komunisme itu merupakan masyarakat yang setara dengan masyarakat ciptaan Romawi yang satu berdasarkan tingkatan kaum bangsawan (tuan) dan hamba tapi yang satu lagi ini berdasarkan kekuasaan golongan melarat tertindas (proletaria) dan kaum menengah (borjuis) dan ciri emosi yang membakar semangat masyarakat Komunis dan kaum proletariat itu ialah kebencian dan kedengkian terhadap seluruh kelas dan golongan lain.
Masyarakat seburuk ini tidak akan menelurkan hasil apa-apa kecuali mencetuskan gejala-gejala yang paling buruk di dalam sejarah umat manusia karena dari asal kelahirannya, ia menonjolkan ciri-ciri dan sifat hewan dengan beranggapan bahwa keperluan-keperluan asasi bagi manusia itu ialah makan, minum, rumahtangga dan seks, yang semuanya ini adalah tuntutan dan keperluan asasi hewan, dengan anggapan bahwa sejarah umat manusia ini dimulai dengan sejarah mencari makan.
Di antara keindahan Islam itu bahwa ianya tetap bersendirian dan masih tegak di atas panduan Ilahi dengan cara menonjolkan sifat dan ciri-ciri khusus manusia dan mengangkat nilai-nilai kemanusiaan yang begitu tinggi di dalam membentuk masyarakat manusia. Dan sudah pasti Islam akan terus bersendirian di dalam hal ini dan siapa saja yang mencoba menyeleweng ke arah panduan yang lain, menegakkan suatu jalan yang lain, apakah jalan kebangsaan, wama kulit, tempat kelahiran dan kelas, atau jalan-jalan lain yang rendah dan hina, maka orang itu adalah musuh manusia yang jelas.
Orang seperti itu ialah orang yang tidak menginginkan manusia berdiri sendiri dengan ciri-ciri dan sifat-sifat khusus ketika dia mula-mula diciptakan Tuhan. Orang itu ialah orang yang tak menginginkan masyarakatnya memenuhi kebutuhan asasinya dengan lengkap sempurna. Mereka itu orang yang menjadi sasaran firman Allah SWT:
Maksudnya: “Katakanlah maukah aku beritahu kepada kamu tentang orang yang paling rugi perbuatan-perbuatan mereka, orang-orang yang sia-sia amal perbuatan mereka di dalam hidup dunia ini sedangkan mereka itu menyangka bahwa mereka sebenarnya berbuat baik. Mereka itu ialah orang-orang yang kufur dan tidak bersyukur dan tidak percaya dengan perintah Tuhan mereka dan tidak percaya bahwa mereka akan menghadap Tuhan mereka itu lalu pekerjaan mereka pun menjadi hampa dan Kami tidak berikan pertimbangan dan penilaian apa pun kepada mereka di hari kiamat. Balasan mereka ialah neraka Jahannam karena kekufuran mereka dan karena mereka memperolok-olokkan perintah-perintahKu dan juga rasul-rasul utusanKu”
(Al Kahfi: 103-106)Maha Benarlah Allah Yang Maha Agung.
Diposting oleh
NUY CORNER
komentar (0)
Oleh : Sayyid Qutb
BAB 3. Tabiat Manhaj Al-Quran
Ayat-ayat Al-Quran periode Mekah telah diturunkan kepada Rasulullah SAW dalam waktu tiga belas tahun, dengan mengemukakan satu persoalan saja. Ya, hanya satu persoalan yang tidak berubah-ubah; tetapi cara mengemukakan persoalan itu hampir tidak berulang-ulang. Gaya dan penyajian Al-Quran mengemukakan persoalan itu luar biasa sekali, sehingga tampak seolah-olah persoalan itu masih tetap baru, bagaikan sesuatu yang baru saja dicetuskan untuk pertama kali.
Ayat-ayat Al-Quran periode Mekah itu menyelesaikan suatu persoalan besar, suatu persoalan utama dan penting, suatu persoalan dasar bagi agama yang baru muncul itu yaitu persoalan aqidah, yang diterapkan di atas pijakannya yang terpenting KETUHANAN dan PENGABDIAN serta hubungan antara keduanya.
Al-Quran periode Mekah mengarahkan hakikat ini kepada manusia sebagai manusia. Dalam hal ini, sama saja manusia Arab di zaman itu dengan manusia Arab di setiap zaman. Begitu pun dengan manusia bukan Arab di zaman itu dan zaman yang lain.
Persoalan yang dikemukakan oleh Ayat-Ayat Al-Quran periode Mekah itu ialah persoalan MANUSIA yang tidak pernah berubah, karena ia adalah persoalan keberadaan manusia di alam ini dan juga persoalan kesudahan manusia itu. Persoalan hubungan manusia dengan alam dan dengan semua yang hidup di dunia ini, juga persoalan hubungan manusia dengan Tuhan Pencipta alam dan Pencipta seluruh kehidupan. Persoalan itu adalah suatu yang tetap dan tidak akan berubah, karena ia adalah persoalan wujud ini seluruhnya dan persoalan manusia itu sendiri.
Al-Quran periode Mekah telah memberi penjelasan kepada manusia tentang rahasia wujud manusia itu sendiri dan wujud dunia di sekitarnya. Ia mengatakan kepada manusia siapakah sebenarnya dia (manusia) itu? Dari manakah dia datang? Untuk apa dia datang ke dunia?
Kemudian ke manakah arah perjalanannya? Siapakah yang membawanya keluar dari alam yang serba tiada, yang serba majhul dan serba tidak diketahui itu? Siapakah pula yang akan membawanya pergi kemudiannya dan bagaimanakah nasibnya di sana kelak? Al-Quran menceritakan kepadanya lagi tentang apakah hakikat wujud yang di rasa dan dilihatnya itu? Dan yang dirasakannya bahwa di balik wujud ini ada suatu kekuatan ghaib yang sedang mengawasinya sementara sesuatu itu tidak terlihat?
Siapakah yang mengatur dan mengarahkan perjalanannya? Siapakah pula yang memberikan bentuk dan rupanya? Siapakah pula yang membaharui dan menukarnya. Di samping itu, Al-Quran mengajarnya tentang bagaimanakah dia mesti berhubungan dengan Tuhan Pencipta alam ini, dan bagaimanakah dia berhubungan dengan alam itu sendiri seperti ia menerangkan bagaimanakah hamba-hamba Tuhan itu saling membuat hubungan antara sesama mereka.
Persoalan yang disebutkan di atas itu adalah persoalan besar yang menjadi tonggak keberadaan manusia. Ia akan tetap menjadi persoalan utama dan asasi bagi keberadaan umat manusia di sepanjang zaman.
Demikianlah berlalunya waktu tiga belas tahun dalam menerapkan persoalan yang agung ini, persoalan utama seluruh kehidupan umat manusia itu sendiri, yang tanpanya seluruh hidupnya tidak ada arti sama sekali.
Al-Quran periode Mekah tidak melampaui persoalan pokok ini untuk mengemukakan persoalan-persoalan lain mengenai sistem kehidupan, melainkan setelah Allah mengetahui bahwa persoalan itu sudah diterangkan dengan secukupnya bahwa ianya telah menyatu dan menjadi darah daging generasi umat yang terpilih itu, yang telah ditakdirkan Allah bahwa agama Islam ini akan dibangun melalui generasi ini. Generasi inilah yang mengendalikan pelaksanaan sistem yang mencerminkan agama ini.
Dan para dai di jalan agama Allah, dan ke arah terlaksananya sistem yang dipandu oleh agama ini di alam hidup nyata, semestinya memberikan perhatian penuh kepada fakta ini. Fakta pemusatan perhatian yang diberikan oleh ayat-ayat Al-Quran periode Mekah untuk menerapkan akidah ini, kemudian kepada fakta bahwa ayat-ayat periode Mekah itu tidak melampaui ke arah penghuraian yang luas mengenai sistem yang menjadi dasarnya, dan undang-undang yang mengatur hidup manusia Muslim.
Dengan hikmat dan kebijaksanaan Allah SWT, telah ditentukan bahwa persoalan akidah adalah persoalan pokok bagi dakwah ini sejak zaman permulaan kerasulan Nabi Muharmnad SAW; dan bahwa Rasulullah SAW memulai langkah pertamanya di dalam dakwah ini dengan menyeru dan mengajak manusia berikrar bahwa Tiada Tuhan melainkan Allah juga bahwa beliau meneruskan dakwah dengan membimbing umat manusia supaya dapat mengenal Tuhan mereka yang sebenarnya dan supaya mereka mengabdikan diri hanya kepada Tuhan saja.
Persoalan ini, baik ditinjau dari sudut kenyataan yang lahir maupun dari sudut pemikiran manusia yang terbatas itu, bukanlah suatu persoalan yang mudah diterapkan ke dalam hati orang-orang Arab. Hal ini karena mereka mengerti dari makna bahasa mereka sendiri apakah makna perkataan ilah (Tuhan) dan juga tujuan perkataan LA ILAAHA 1LIALLAH.
Mereka mengerti bahwa uluhiyah (ketuhanan) itu berarti hakimiyah (penguasaan) yang tertinggi. Mereka mengerti juga bahwa mengesakan Allah melalui ikrar kalimah syahadat itu adalah berarti mencabut sama sekali kekuasaan yang dipegang oleh para pemuka agama, ketua-ketua suku, oleh raja-raja, dan penguasa-penguasa; dan menyerahkan kekuasaan itu hanya kepada Allah saja. Kekuasaan atas hati nurani, atas lambang kebesaran, atas kenyataan hidup, kekuasaan dalam mengatur urusan harta benda, dalam urusan undang-undang dan juga dalam urusan yang berkaitan dengan jiwa dan tubuh.
Mereka mengerti bahwa LA ILAAHA ILLALLAH itu adalah merupakan pernyataan revolusi terhadap kekuasaan duniawi yang telah merampas sifat khusus Tuhan yang utama. Revolusi terhadap kenyataan hidup yang bersandar kepada rampasan atas sifat Tuhan, dan merupakan pemberontakan terhadap peraturan, undang-undang, dan orang-orang yang memerintah berdasarkan undang-undangnya sendiri, yang tidak diridhai oleh Allah.
Orang-orang Arab itu paham betul ke mana arah tujuan perkataan LA ILAAHA IILALLAH itu dalam konteks kenyataan hidup mereka, dengan kekuasaan dan kepemimpinan mereka. Oleh sebab itulah mereka menentang dakwah atau revolusi itu begitu hebat dan mereka memeranginya habis-habisan seperti yang telah diketahui umum.
Tetapi mengapakah justru persoalan ini yang menjadi titik permulaan dakwah ini dan kenapa pula hikmah dan kebijaksanaan Allah SWT telah menentukan bahwa persoalan ini mesti dijalankan dengan penuh risiko?
Rasulullah SAW telah diutus membawa agama ini ketika daerah dan wilayah negeri Arab yang paling subur dan kaya tidak dikuasai oleh orang-orang Arab, malah dikuasai oleh bangsa-bangsa lain.
Wilayah-wilayah Syam di sebelah utara semuanya dikuasai oleh bangsa Romawi, diperintah oleh raja-raja dan pangeran-pangeran Arab atas nama Kerajaan Romawi. Wilayah-wilayah Yaman di sebelah selatan pun ditakluki oleh kerajaan Parsi dengan diperintah oleh kaum bangsawan Arab di bawah naungan Kekaisaran Parsi. Hanya wilayah Hijaz, Tihamah, Najd dan daerah-daerah berpadang pasir yang kering dan tandus, dengan diselingi oasis-oasis di sana sini saja yang dikuasai oleh orang Arab.
Mungkin ada orang berkata: bahwa Nabi Muhammad SAW itu bisa menggunakan pengaruh peribadinya yang terkenal jujur dan disanjung banyak orang itu, pernah diangkat menjadi hakim menyelesaikan perselisihan suku-suku Arab mengenai HAJAR ASWAD, dan semua golongan berpuas hati menerima keputusan yang beliau lakukan itu, lima belas tahun sebelum beliau dilantik menjadi Rasul.
Selain itu, dengan pengaruh keturunan dan kedudukan tinggi beliau di kalangan Bani Hasyim orang mengatakan bahwa beliau mampu dan berupaya membangkitkan rasa kebangsaan Arab yang telah purak puranda akibat luasnya rasa dendam-mendendam dan hasad dengki, untuk mengarahkan mereka ke arah paham kesukuan dan kebangsaan, untuk merebut seluruh tanah air mereka dari tangan para kaisar yang menjajah dan menakluknya, yaitu kerajaan Romawi dan Parsi dan mengibarkan bendera kebangsaan Arab serta mendirikan sebuah Negara Nasional Arab di seluruh Semenanjung Arabia.
Mungkin ada pula yang berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW itu akan lebih bijaksana jika setelah seluruh bangsa Arab mengikutinya dan menobatkan beliau sebagai pemimpin kebangsaan, dan setelah dapat mengumpulkan kekuasaan di dalam tangannya, jika beliau pergunakan kesempatan itu untuk menegakkan kalimah tauhid, untuk membawa umat manusia tunduk kepada kekuasaan Ilahi setelah mereka tunduk di bawah kekuasaan duniawi beliau.
Tetapi Allah SWT – Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana tidak mengarahkan Rasulullah SAW berbuat demikian, malah diarahkannya supaya bertahan dengan ikrar dan syahadat LA ILAAHA ILLALLAH dan supaya sanggup menanggung derita akibatnya, bersama-sama dengan para sahabat beliau yang terlalu kecil jumlahnya.
Mengapa demikian? Sesungguhnya Allah SWT tidak bermaksud menyiksa Rasul-Nya dan orang-orang beriman bersama beliau, malah Allah SWT Maha Mengetahui bahwa bukanlah itu jalannya. Bukanlah jalannya bahwa bumi ini lepas bebas dari tangan taghut berbangsa Romawi atau taghut berbangsa Parsi untuk berpindah tunduk di bawah tangan taghut berbangsa Arab, karena taghut itu adalah tetap taghut, siapa pun dia.
Bumi ini adalah kepunyaan Allah. Dunia ini baru semuanya menjadi kepunyaan Allah kalau telah berkibar di sna Bendera La Ilaaha Illallah. Yaitu, dengan pengertian la ilaha illallah yang dikenal oleh orang Arab yang mengetahui pengertian bahasanya: yang berkuasa hanya Allah, hukum hanya yang datang dari Allah, seseorang tidak mempunyai kekuasaan terhadap orang lain, karena kekuasaan itu seluruhnya kepunyaan Allah.
Kewarganegaraan yang dikehendaki oleh Islam untuk manusia adalah kewarganegaraan akidah, sama kedudukannya seorang Arab dengan seorang Romawi dan Parsi. Setiap jenis dan warna harus tunduk di bawah panji Allah. Dan inilah jalannya.
Rasulullah SAW diutus membawa agama ini di saat ketika masyarakat Arab merupakan sebuah masyarakat yang kacau dan tidak teratur. Pembagian kekayaan dan keadilan hanya dikuasai segelintir manusia yang memiliki harta benda dan perniagaan, urusan pertukaran barang dan membungakan uang (riba). Terjadilah penumpukan harta di kalangan orang tertentu saja, sedangkan golongan terbesar tidak punya sesuatu apa pun selain dari lapar dan derita. Orang-orang yang kaya menjadi orang yang mulia dan berkedudukan tinggi, sedangkan golongan terbesar yang tak punya uang dan kekayaan tidak ada kesempatan pun.
Mungkin orang akan berkata: Nabi Muhammad SAW berupaya mengubah bentuk masyarakat itu dan mencetuskan suatu revolusi sosial untuk menghapuskan golongan bangsawan itu dan menjalankan seruan untuk menyusun ulang masyarakat secara adil dan membagi-bagikan harta benda orang-orang kaya kepada orang-orang miskin.
Mungkin ada orang yang berkata begini: Seandainya Rasulullah SAW menjalankan seruan ke arah ini niscaya masyarakat Arab akan hanya terbagi kepada dua golongan saja, yaitu golongan berada dan golongan tak berada.
Golongan terbanyak, yaitu golongan tak berada pasti akan mendukung seruan itu untuk menentang kekuasaan harta benda orang-orang kaya yang jumlahnya kecil. Cara ini lebih baik daripada melakukan dakwah ke arah akidah yang telah ditentang oleh sebagian besar masyarakat, baik kaya maupun miskin, dan tidak dapat pengikut kecuali beberapa gelintir manusia tertentu saja.
Barang kali ada yang mengatakan: sebaiknya Muhammad saw. setelah orang banyak menyambutnya dan menjadikannya pemimpin, dan dengan begitu mengalahkan minoritas dan mudah memimpinnya, baru ia mempergunakan posisinya dan kekuasaannya untuk menanamkan akidah Tauhid yang dengannya ia diutus Tuhannya menghambakan manusia kepada kekuasaan Tuhan mereka, setelah ia menghambakan manusia itu kepada kekuasaan manusiawi dirinya sendri.
Namun, Allah SWT Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana tidak mengarahkan beliau berbuat begitu karena Allah SWT Maha Mengetahui bahwa itu bukanlah jalannya.
Allah Maha Tahu bahwa keadilan sosial hanya akan dapat diwujudkan di dalam masyarakat, dari sumber keyakinan yang lengkap, yang menyerahkan segala sesuatu kepada Allah SWT, sambil menerima dengan penuh kerelaan hati akan semua yang ditentukan Allah SWT di dalam masalah pembagian harta, dalam masalah jaminan sosial untuk seluruh masyarakat; dan kepercayaan ini menjadi ketenangan hati baik dari pihak yang mengambil dan pihak yang diambil, dengan pengertian bahwa mereka melaksanakan suatu sistem yang telah ditentukan oleh Allah SWT dengan penuh harapan bahwa ketaatan, kepatuhan dan kebaktian yang dilakukannya akan mendatangkan kebajikan dan kebaikan dunia dan akhirat.
Dengan demikian, maka rasa tamak dan dendam, dengki terhadap sesama anggota masyarakat tidak akan dapat bersarang di lubuk hati. Semua urusan dijalankan dengan beres tanpa tekanan dan paksaan, tanpa ancaman dan teror.
Hati manusia tidak rusak dan jiwa mereka pun tidak akan bangkrut seperti yang terjadi di mana saja di bawah sistem hidup yang berlandaskan kalimah tauhid LA ILAAHA ILLALLAH.
***